Jumat, 24 Februari 2017

Review Jackie (2016)

Biasanya cerita dari seorang istri dari suami dengan latar belakang istimewa masih jarang untuk difilmkan. Di tahun 2016, Jackie salah satu film yang mencuri perhatian yang menceritakan kisah istri dari mantan Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy. Kekuatan Natalie Portman sebagai Jackie memang harus diakui sangatlah kuat. Tidak mengherankan sutradara film ini pun hanya mau Pablo Larraín hanya mau menyutradarai jika Natalie menjadi Jackienya.

Konsep film ini dikarenakan berdasarkan kisah nyata, jadi beberapa adegan ada diambil dari rekaman dahulu sehingga penonton bisa melihat adegan asli Jackie di masa lalu dengan yang diperankan Natalie. Selain itu, konsepnya di film ini yaitu Jackie duduk bercerita kepada seorang lelaki yang sedang mewawancarai dirinya. Jadi bisa kebayang dong, seperti apa filmnya. Selain akting piawai Natalie di film ini, kekuatan kostum hingga make-up juga menjadi poin plus. Dari film Jackie, penonton diajak untuk melihat seorang istri dari suami Presiden juga manusia biasa yang harus menemani suaminya di perjalanan karirnya, dan tidak lupa juga untuk mengurusi dan mengecek pertumbuhan anak-anaknya. Sungguh sebuah film yang inspiratif.

3,5/5

Rabu, 22 Februari 2017

Review Silence

Kalau boleh jujur, tahu film ini bulan Desember kemarin. Dan setelah lihat trailernya semakin penasaran ini menonton film ini. Apalagi setelah melihat akting Andrew Garfield di Hacksaw Ridge yang begitu takjub jadi gak ada alasan untuk menontonnya. Setelah menonton film Silence di Cathay Singapore, saya merasa cukup puas dan takjub dengan Andrew Garfield yang semakin bagus aktingnya.

Walaupun Andrew terlihat bagus di Silence, akan tetapi akting dari mantan Emma Stone ini terlihat lebih mumpuni di Hacksaw Ridge. Tidak heran juga nominasi sebagai pemain utama pria terbaik di ajang Oscar 2017 berhasil dia kantongi. Harus diakui filmnya memang agak lambat namun di 1 jam terakhir momen-momen dahsyat hingga #wtfmoment akan diberikan film ini. Jadi bersiaplah untuk histeris dengan adegan tersebut. Liam Neeson dan Adam Driver pun tidak kalah ciamik dengan Andrew. Ya bisa dibilang para aktor di film ini memang terlihat all out dalam beraktingnya. Film dari karya Martin Scorsese ini nampaknya wajib menjadi list penggemar karya beliau, karena sebuah film yang akan menggugah hati para penonton.

4/5

Selasa, 21 Februari 2017

Review Fifty Shades Darker: Sekuel dengan bumbu yang lebih "pedas"

Setelah mencuri perhatian dan pastinya mendulang kesuksesan di film sebelumnya Fifty Shades of Grey kembali dengan sekuel yang berjudul Fifty Shades Darker. Banyak yang bilang film Fifty Shades Darker sekuel yang buruk, tapi gue sangat menikmati film ini. Bahkan lebih enak ditonton daripada pertama. Film pertama terlihat masih mencoba memperkenalkan para tokoh di filmnya dengan komplikasi masalah di dalamnya. Justru ini baru sekuel, ada sinkronisasi dengan pertama. Gairah Anastasia untuk menerima "gilanya" Grey terlihat terlampiaskan dengan baik.

Sutradara Fifty Shades Darker, James Foley, pernah buat film Perfect Stranger, Fear, After Dark My Sweet, dan Reckless. Jika melihat pengalaman beliau, nampaknya karya 3 terakhir yang disebut tadi setipe ya dengan Fifty Shades ini? Walaupun tidak Dark seperti judulnya, tapi usaha untuk mencoba thriller nampaknya patut dihargai. Buat kamu yang agak susah mengerti Bahasa Inggris nampaknya jika menonton Fifty Shades Darker kamu tidak akan kewalahan menontonnya. Dialog di film ini sangat gampang dipahami bahkan seperti FTV dan naskah produksi Screenplay atau Tisa TS. Semoga Fifty Shades Freed yang dijadwalkan tayang 09 Februari 2018 akan menjadi penutup yang manis dan menegangkan untuk Fifty Shades. Oh iya jangan lupa adegan tambahan di tengah credit film.

3,5/5

Senin, 20 Februari 2017

Review Film Surga yang Tak Dirindukan 2: film boros waktu dan tempat.

Setelah menjadi film dengan penonton terbanyak di Tahun 2015, kelanjutan cerita Pras, Arini dan Meiros berlanjut kembali. Kali ini cerita diawali dengan keberangkatan Arini ke Budapest untuk bekerja. Tidak disangka, Arini bertemu dengan Meiros yang sudah lama tidak berjumpa (di film diceritakan terakhir bertemu ketika Meiros menjemput Akbar di rumah Arini). Di Budapest Arini mendadak drop kesehatannya hingga dicek bahwa penyakit lamanya (gue lupa apakah di Surga yang Tak Dirindukan 1 dikasih tau penyakit Arini) kembali kambuh. Drama pun dimulai.

Kelanjutan cerita Surga yang Tak Dirindukan sebenarnya ada pentingnya namun terlihat lokasi yang mengharuskan ke Budapest dengan drama penyakit yang menghidap Arini, nampaknya menjadi sebuah film mubazir yang hanya menghumbar uang saja. Terdengar dengan jelas kok, dokter Syarief yang merupakan dokter yang berada di Budapest bisa bahasa Indonesia dengan jelas. Ngapain coba jauh-jauh shooting di Budapest.

Kehadiran Reza Rahadian nampaknya seperti malaikat penyelamat film ini, chemistry yang dibangun antara Reza dan Raline Shah di film Surga yang Tak Dirindukan 2 terlihat bagus. Adegan Raline dengan Fedi Nuril juga tidak kalah bagus ketika Fedi kelaparan malam hari. Pemain pendukung terlihat biasa bahkan kehadiran mereka semakin memperkuat bahwa film ini mengambil lokasi di Budapest dari keuntungan di film sebelumnya. Jalan-jalan sambil kerja alias shooting. #wtfmoment

Akhir cerita dari film ini cukup sensasional. Sudah jauh-jauh ke Budapest akhirnya pun seperti tidak menghargai namanya proses. Sebuah film yang boros tempat dan waktu selama 122 menit sehingga mengorbankan namanya proses kehidupan.

1,5/5

Minggu, 19 Februari 2017

Review Film Indonesia The Promise

Setelah tayang di Balinale Film Festival 2016, akhirnya tayang juga film The Promise di bioskop di bulan kedua tahun 2017. Film ini hampir mirip dengan film horor bertemakan radio sebelumnya namun bedanya penyiar di film ini mati. Bukan bermaksud spoiler, akan tetapi memang itu adanya ada di sinopsis. Teka-teki siapa pembunuhnya sebenarnya bisa lebih menarik jika para pemainnya kelihatan lebih meyakinkan.

Mitha dan Dara The Virgin bukanlah pertama kali sebagai bintang utama di sebuah film, namun kehadiran mereka di film ini nampaknya masih meraba-raba, tidak tau kekuatan karakternya seperti apa. Akhir kata, The Promise sebuah cerita horor yang kurang memberikan kekuatan karakter untuk pemainnya.

1,5/5

Review Boeven Digoel

Film daerah asal Papua ini telah meraih penghargaan di Piala Maya 2015. Namun disaat itu belum ada nama Christine Hakim dan JFlow (Joshua Matulessy sebagai pengisi film ini, demikian juga dengan judul yang berbeda dibandingkan saat ini, Silet di Belantara Digoel Papua.

Untuk sebuah film daerah yang berasal dari kisah nyata ini terlihat cukup enak untuk ditonton. Dengan premis menarik tentang proses operasi caesar menggunakan pisau saja, bisa jadi ilmu baru jika di Papua dahulu belum begitu higienis. JFlow cukup stabil ketika berperan sebagai seorang dokter di film ini. Lain halnya dengan artis senior Christine Hakim yang terlihat hanya tempelan saja.

Sabtu, 18 Februari 2017

Review The Chocolate Chance

The Chocolate Chance:

Setelah Filosofi Kopi kini dengan tema cokelat dibuatlah sebuah film panjangnya. Bagaimana nasibnya? Akankah seperti Filosofi Kopi?

Dengan menggandeng Ricky Harun dan Pamela Bowie sebagai bintang utama, nampaknya film The Chocolate Chance harus belajar untuk memperbaiki promonya. Film ini dengan bintang yang sama dan PH berbeda tapi angka penontonnya jauh berbeda sekali dengan film yang pernah dibintangi 2 pemain utamanya. Unsur coklat dalam film ini memang tidak terlihat tempelan karena dari awal hingga akhir berhubungan. Namun yang disayangkan lagi-lagi eksekusi ketika dijadikan sebuah film jadinya biasa aja. Paling terganggu sebenarnya sama adanya cerita dirampok kemudian terkena penyakit. Oh men, please.

Aransemen lagu yang ada di film ini mungkin agak sedikit mencuri perhatian. Tapi film ini kan bukan musikal, sayang sekali hanya membesarkan volume ketika lagu yang diaransemen sehingga melupakan eksekusi cerita.

2/5

Review Remember The Flavor: kosong dan hampa yang gampang dilupakan.

Remember The Flavor:

Film dengan cerita ada unsur makanan dan minuman nampaknya lagi makin banyak diminati para produser Indonesia untuk membuat film. Minggu lalu film The Chocolate Chance sudah mendapatkan penonton hanya 11 ribuan saja. Mungkinkah itu pertanda hanya sekedar tempelan judul dan cerita bertemakan makanan atau minuman sudah mulai tidak diminati? Atau salah promosi?

Remember The Flavor memang tidak langsung menjelaskan kalau ini film ada unsur eskrimnya, akan tetapi scoop es krim yang dipegang Tara Budiman sebagai bintang utama di film ini mendeskripsikan kalau film ini ada hubungannya dengan penjual es krim atau kedai kopi. Ya benar adanya, film ada hubungannya dengan es krim. Dari es krim tersebut penonton diajak penulis film ini untuk melihat jika rasa es krim adalah penentu masa depan anda.

Film ini beralur maju mundur dengan konsep cerita kedua cewek bertemu tidak sengaja dalam perjalanannya ke Jogja. Selama perjalanan mereka saling bercerita dan cerita di film mengikuti pergerakan cerita curhatannya. Di awal film sudah ketebak bagaimana film ini hingga akhir, akan tetapi penasaran apakah betul tebakannya jika ada yang harus terluka karena cinta. Dikarenakan film ini beralur maju mundur, nampaknya team editing atau sutradara kurang fokus untuk memberikan greget untuk film ini. Beberapa adegan terlihat sekali kosong, dan adegan di kereta beberapa adegan terlihat seperti efek visual dan itu kasar.

Annisa Pagih yang mengawali karir di film melalui film Sinema Purnama terlihat seperti lady boy ketika adegan duduk di kereta api. Entah salah pengambilan kamera atau make up terlalu tebal? Karena ketika tiba di Jogja atau bukan adegan duduk terlihat jauh lebih baik dan manis pastinya. Lainnya halnya dengan Sahira Anjani yang terlihat natural namun agak sulit dilupakan. Penampilannya tidak buruk, bahkan berkesan untuk perdana di film. Namun jika lebih banyak pendatang baru tahun ini nampaknya akan mudah dilupakan wanita berambut keriting ini.

Tara Budiman untuk bermain di sebuah film drama, tanpa ada unsur mau ngelawak rasanya tidak jelek-jelek amat. Kelihatan ada usahanya untuk serius. Mungkin jika diasah lagi dan dapat tantangan lebih dalam berakting, akan sukses ke depannya di perfilman Indonesia. Oh iya adegan kissing Tara Budiman dan Sahira Anjani terlihat bagus chemistrynya. Akhir kata, film Remember The Flavor sebuah film yang kurang memberikan rasa "Remember" lebih ke penontonnya. Kosong.

2/5

Sabtu, 11 Februari 2017

Review Iqro: Petualangan Meraih Bintang

Awal tahun 2017, bisa dibilang cukup beragam genre untuk Film Indonesia yang tayang di bioskop. Kali ini, film anak-anak dengan genre religi hadir di bioskop dengan judul Iqro: Petualangan Meraih Bintang. Lebih dari 200ribu penonton telah menonton film yang mengangkat cerita mengenai mimpi seorang anak yang ingin bercita-cita menjadi ahli astronomi seperti kakeknya.

Secara keseluruhan film ini memang untuk anak-anak, jadi angka 200 ribu penonton tidaklah heran. Beberapa poin yang menjadi kelemahan dari film terlihat dari konflik yang terjadi di film ini. Selain konflik agar si anak bisa Iqro seperti mimpi dari kakek neneknya harusnya gak usah dimasukkin, terlihat hambar dan antiklimaks ketika konfliknya muncul. Aisha Nurra Datau sebagai pendatang baru cilik memang patut diapresiasi karena terlihat santai dalam beraktingnya, terutama ketika berhadapan dengan lawan mainnya Raihan Khan. Pemain senior Cok Simbara dan Neno Warisman juga bermain pas sesuai dengan karakter yang diberikan. Sebuah awal yang baik film ini di tahun 2017 dengan mengambil tema anak-anak dan religi.

3/5

Review Istirahatlah Kata-Kata: Kisah Wiji Thukul yang mencuri perhatian berbagai film festival.

Setelah mencuri perhatian di tahun 2016 dengan banyaknya penghargaan yang didapatkan film Istirahatlah Kata-Kata, akhirnya film ini tayang juga di bioskop. Film yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen ini terinspirasi dari puisi dan hidup Wiji Thukul, dihiasi oleh pemain seperti Marissa Anita, Gunawan Maryanto dan Melanie Subono. Film ini memang terlihat seperti film yang ditujukan untuk festival. Kalau boleh jujur, saya tidak tahu menahu mengenai tokoh Wiji Thukul sebelum menonton film ini. Secara eksekusi sebenarnya film ini bermain cukup aman namun sayangnya saya kurang relate bahkan empati sama kisah yang dialami oleh Wiji. Dan akting para pemain pun tidak terlihat istimewa, bahkan gampang dilupakan begitu saja. Akhir kata, Istirahatlah Kata-Kata sebuah film biografi Wiji Thukul yang dialognya berasal dari kumpulan puisi miliknya dan gaya penuturan filmnya terlihat jelas untuk film festival.

3/5