Melancong ke Cilegon demi Film Saidjah dan Adinda.


Sebuah keputusan yang mendadak untuk menonton film Indonesia terbaru yang tayangnya hanya di Cilegon XXI. Ya film Indonesia Saidjah & Adinda menjadi film Indonesia pertama dan terakhir kalinya untuk gue meniatkan diri hingga menempuh perjalanan selama 1,5 jam sekali jalan dari Jakarta menuju Cilegon. Film Saidjah dan Adinda merupakan Adaptasi Novel Max Havelaar Karya Multatuli, dimana berkisah tentang Abah Saidjah (Arswendi Bening Swara) sedang menjual kerisnya untuk membeli kerbau yang kemudian diambil paksa oleh Demang Parungkujang (DC Aryadi), orang kepercayaan Bupati Lebak Raden Adipati (Egi Fedly), Tak ada rakyat yang berani melawan termasuk Nyonya Slotering (Nena Rosier) dan Ibu Neng (Jajang C. Noer). Dalam kesedihan, Saidjah (Achmad Ali Sukarno) tumbuh menjadi seorang pemuda. Dia menjalin kasih dengan Adinda (Rizky Darta) sahabatnya sejak kecil. Mereka memiliki impian untuk menikah, memiliki kerbau baru dan hidup dengan bahagia. Namun kemiskinan menjadi penghalang untuk mewujudkannya, hingga Saidjah memutuskan bekerja di Batavia. Sebagai tanda cinta, Adinda memberi bunga melati dan Saidjah membalas dengan kain biru dari ikat kepalanya. Adinda kini sendiri di Lebak, menanti kedatangan Saidjah selama 3 kali 12 Bulan.

Sebuah film drama romantis berbau sejarah dimana latar belakang film terlihat dalam situasi Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Jadi tidaklah heran tata kostum di sepanjang film memperlihatkan bagaimana situasi di eranya. Begitu juga dengan tata artistiknya yang cukup nyambung dengan situasi penceritaan. Namun kedua hal tersebut bukan lantas membuat gue tersenyum manis atau terpuaskan karena perjuangan gue dari Jakarta untuk mendapatkan sebuah tontonan yang menarik justru berakhir dengan penyesalan batin yang meringkik. Penceritaan kisah Saidjah dan Adinda terlihat dangkal dengan kurang klimaksnya cerita yang diberikan ke penonton. Terlihat sutradara memberikan sajian tontonan ala kadarnya dan seakan-akan sudah cukup bangga kalau film ini memberikan edukasi sejarah bagaimana Lebak di masa kolonial masa itu. 

Chemistry pemain Saidjah dan Adinda pun terlihat datar walau action yang diberikan cukup baik. Bahkan pemain senior seperti Jajang C Noer, Egi Fedly dan Arswendi yang terlihat niat menggunakan bahasa asli Lebak pun tidak memberikan sisi plus ke film Saidjah & Adinda. Kalau saja produser dan sutradara film ini memikirkan lebih baik ketika melakukan riset di tahun 2019 dan produksi di tahun 2020 mestinya film ini masih jauh lebih baik untuk dinikmati. Sebuah tontonan ala kadarnya dengan persiapan sangatlah singkat untuk sebuah film bertemakan sejarah dengan unsur penjajahan kolonial. 

1/5

Komentar