Review Film Indonesia: MALIK & ELSA (Disney+ Hotstar, 2020)

Memasuki minggu kedua Oktober, film remaja Malik & Elsa menjadi salah satu film Indonesia karya Boy Chandra yang rilis di OTT pada bulan yang sama. Sebelum minggu depan bertemu dengan Love Like The Falling Rain yang tayang di Netflix, minggu ini Malik & Elsa tayang di Disney+ Hotstar. Malik & Elsa berkisah tentang dua sepasang remaja yang baru saja memasuki masa perkuliahan di salah universitas negeri di Padang. Malik, seorang pemuda perantau dari kota kecil di Padang ingin menggapai cita-citanya sebagai penulis sukses. Lain halnya dengan Elsa, anak semata wayang dari keluarga berada merasa cukup nyaman dengan sosok Malik yang mendekati dirinya di awal perkuliahan mereka. Karena kalah main tebak-tebakan dengan Malik, Elsa harus mentraktir Malik makan siang selama sepekan ke depan. Malik sebagai anak perantau menganggap momen ini sebagai pendekatan dirinya ke Elsa dan sekaligus menghemat pengeluaran dia selama merantau. Berjalannya waktu, hubungan Malik dan Elsa semakin dekat, namun sayangnya keluarga Elsa tidak setuju dengan Malik yang dianggap pembawa sial untuk Elsa.

Sebuah film produksi Max Pictures yang seharusnya tayang di bioskop pada bulan April 2020 namun dikarenakan masih pandemic dipindahkan penayangannya di Disney+ Hotstar. Debut penyutradaraan dari Eddy Prasetya bisa dibilang masih banyak sekali PR yang harus diperbaiki jika ingin serius menjadi sutradara film ke depannya. Banyak sekali pengambilan gambar dari film Malik & Elsa terlihat masih kaku dan kurang mengeskplorasi lokasi agar sesuai dengan pengadegannya. Alhasil semua berdampak ke pengambilan gambar yang terkesan kaku dan biasa aja. Tidak ada yang spesial walau sebatas hanya film remaja saja. Selain itu peran sutradara dalam mengembangkan naskah ke dalam pengadegan masih terpaku pada naskah. Kalau sudah ada eksplorasi dari naskah pasti kelihatan bagaimana tindakan sutradara mengakali dialog-dialog dari naskah dibuat begitu menarik ketika dilakoni oleh para pemain. Terakhir, pemain pendukung yang dipilih kebanyakan orang lokal, seharusnya peran sutradara bisa ikut terlibat untuk mengakali bagaimana agar para pemain pendukung yang merupakan orang lokal terlihat lebih baik dari sisi artikulasi, mimik serta gesture tubuh ketika action dikumandangkan oleh sutradara.

Sebagai tokoh utama Endy Arfian dan Salshabilla Adriani memang harus diakui cuma mereka paling bersinar diantara pemain lainnya. Ada sih satu aktor senior yang sudah banyak FTVnya yaitu Joshua Pandelaki. Sangat disayangkan sekali naskah garapan Nana Mulyana dan Media Kita ketika menggodok cerita dari novel Boy Candra terlihat masih kaku dan plek ketiplek dengan novel. Seharusnya penulis naskah bisa mengeksplor sedikit agar terlihat kekinian dari segi dialog di sepanjang film Malik & Elsa. Sangat disayangkan kalau Malik & Elsa yang seharusnya bisa menjadi salah satu film remaja dengan 2 karakter kuat namun semua terlihat sia-sia cenderung menjemukan ketika banyak faktor yang tidak mendukung.

1,5/5
 

Trailer:


Komentar