Thursday, December 20, 2012

Review: Habibie & Ainun (2012)

Rudy Habibie dan Ainun adalah teman SMP yang dulunya masih belom mengerti namanya cinta dan gengsi untuk mengungkap rasa tersebut. Waktu pun tidak berasa berputar sampai pada akhirnya mereka berjumpa lagi disaat sudah beranjak dewasa dalam meniti mimpi mereka selama ini. Habibie kini sudah kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan studinya dan berniat kembali melanjutkan studinya di bidang pesawat terbang setelah dirinya menemukan cinta sejatinya. Begitu pula dengan Ainun yang sudah menyelesaikan pendidikan dokternya dan berniat melanjutkan buka praktek suatu hari nanti. Namanya juga jodoh ya tidak kemana, ternyata Habibie Ainun pun menjadi sepasang suami istri. Perjalanan cinta mereka pun dimulai.

Setelah film 5 CM berdasarkan novel yang rilis minggu lalu, sekarang saatnya Habibie & Ainun yang beraksi di bioskop Tanah Air. 2 minggu nampaknya perfilman Indonesia sudah kembali lagi disaat 1 tahun terakhir penonton terbanyak hanyalah mendapatkan 1,8 juta penonton. Walaupun sebenarnya bukan murni film Indonesia karena penggarapan filmnya adalah orang asing. Setelah 5 CM yang menurut kabar terakhir berhasil meraih 1,4 juta penonton, kabar bahagia pun dirasakan oleh film Habibie & Ainun yang berhasil meraih 1 juta penonton dalam waktu 7 hari. Sesuatu kebanggaan sendiri jika sudah menembus 1 juta penonton untuk perfilman Indonesia. Bagaimanakah dengan filmnya? Apa secara keseluruhan patut dibanggakan juga? Atau banyaknya penonton ini hanya berdasarkan tim media dan fans semata?

Dengan konsep film biografi dan naungan MD Pictures bersama Adrie Subono, akhirnya peran Habibie & Ainun jatuh kepada Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari. Kalau dilihat dari segi fisik pasti semua sudah meragukan apakah di film ini Reza mampu memainkan karakter Habibie? Penulis pun awalnya sempat berpikir demikian karena dari fisik saja sudah beda jauh sekali. Akan tetapi pelafalan dan gerak-gerik Reza Rahadian di sepanjang film terlihat meyakinkan penulis kalau itu sosok Habibie. Walaupun ada di beberapa adegan yang sangatlah mengganggu. Contohnya saja ketika foto presiden dipajang, kenapa foto disana muda sekali??? Kemanakah pihak Make-Up untuk setidaknya berusaha mengkerutkan sedikit wajah Reza agar seperti Habibie?

Selain itu ketika Habibie Ainun kembali ke Jerman kenapa mereka justru lebih muda ya dibandingkan adegan sebelumnya yang terlihat stress dengan penyakit yang sudah divoniskan ke Ainun? Apa karena kelupaan di Jerman sebenarnya untuk adegan apa aja gitu makanya bisa kecolongan seperti ini? Walaupun seperti itu, karakter Reza Rahadian adalah penyelamat dari film ini. Untuk Bunga Citra Lestari terlihat begitu tidak berkarakter. Sosok ibu (alm) Ainun pun tidak terpancar sedikit pun dari BCL. Malah penulis menangkap sosok yang tidak tegar dalam menghadapi hidup dan cenderung gampang menyerah. Kabar yang beredar, sosok (alm) Ainun memang cantik sekali tapi ketika penulis mencoba googling wajah beliau ada kok kerutan wajahnya. Tapi di film Unge, panggilan akrabnya, terlihat cantik sekali. Nah lagi-lagi pihak make-upnya kemanakah???


Di film Habibie Ainun ada beberapa yang mengganggu selain daripada iklan yang terlihat sekali promosi di film ini. Pertama sosok Bayu Oktara disini cenderung gaul sekali untuk anak muda 60an. Malah beliau sempat mengucapkan "Men... Ayolah" kepada Reza. Nah penulis bingung apakah tahun 60an sudah ada pengucapan dialog seperti itu? Oh iya ketika Ainun kecil mengucapkan dialog di awal film pun rasanya penulis mendengar kata-katanya terlalu kekinian untuk setting 60an. Walaupun wajah cantik Marsha, yang merupakan adik kandung dari Zaskia Adya Mecca, begitu mirip dengan wajah cantik BCL.Di film ini ada beberapa tokoh selain Bayu Oktara yang cukup gengges penampilannya. Salah satunya Tio Pakusadewo yang konon kabarnya menjadi sosok Soeharto disini. Peran dia disini jauh sekali dari sosok Soeharto yang penulis tahu beruban dan tubuhnya tidak setinggi Tio.

Dari segi cerita film ini bisa mengulang sedikit kisah bagaimana Habibie Ainun ketika dahulu masih bersama. Kesalahan film ini bukanlah dari cerita sepenuhnya akan tetapi penempatan artistik, visual, kurangnya pendalaman karakter dari para pemain adalah yang membuatnya minusnya film ini. Sebagai debut penyutradaraan, Faozan Rizal bisa membuat sebuah film yang cukup fantastis. Biarlah debut filmnya ini bisa tetap bertahan kualitasnya dan tidak terpengaruh gurunya atau orang terdekatnya sekalipun. Sebelum menonton film ini, dalam pikiran anda berharaplah sepenuhnya kepada Reza Rahadian untuk bisa membuat mood anda baik sepanjang film. :Salam JoXa:

7/10

Trailer:

1 comment: