Senin, 12 Juni 2017

Jalan Jalan Dadakan 7 Hari Ke Bangka Belitung (Part 1)

Follow

Jalan-jalan biasanya gue lakukan itu karena butuh hiburan di saat kerjaan banyak. Jadi gue berani mengambil cuti demi kepuasan batin gue untuk liburan terpenuhi. Kali ini gue memutuskan jalan-jalan di Indonesia saja. Selain sudah 2 kali juga jalan-jalan ke Singapore di bulan Januari dan Februari kemarin, dan di bulan Maret kulineran di Bandung, jadinya gue berpikir lebih baik jalan-jalan ke tempat yang belum pernah dikunjungi di Indonesia saja. Persiapan jalan-jalan ini bisa dibilang sangatlah singkat. Hanya karena chat dengan teman yang sama-sama butuh liburan (sekitar bulan Maret akhir), akhirnya kami pun memutuskan berangkat di tanggal 20 Mei (Sabtu) dan berakhir jalan-jalannya di tanggal 27 Mei (Alhasil gue harus ambil cuti 4 hari, sisanya weekend dan ada hari libur di hari kerja). Tanpa basa basi lagi, berikut pengalaman pertama gue jalan-jalan dadakan ke Bangka Belitung selama 7 hari (Part 1).

Landasan Bandar Udara Depati Amir, Pangkal Pinang
Lion Air, Depati Amir Pangkal Pinang.
Salah satu lorong Bandar Udara Depati Amir
Kain-kain Pangkal Pinang yang ada di lorong pintu kedatangan
Suasana cerah dan terik menyambut kedatangan kami di Bandar Udara Depati Amir, Pangkal Pinang. Menurut kabar beredar, bandara ini baru beroperasi awal tahun 2017, jadi hal yang wajar jika terlihat bagus dan minimalis. Walaupun berukuran kecil namun fasilitas dan toko-toko makanan dan minuman di Bandara ini cukup lengkap. Oh iya untuk ATM juga lengkap kecuali ATM BCA. Jarak Bandara ini ke pusat kota bisa dibilang tidaklah begitu jauh, namun bukan berarti kita bisa menempuhnya dengan jalan kaki ya. Pemesanan mobil secara online atau langsung di lokasi menawar harga rental ke pusat kota bisa kamu lakukan. Kami kebetulan sudah memesan mobil rental yang hanya untuk mengantar ke penginapan, kurang lebih harganya 75 ribu dengan mobil Avanza. Hari pertama hingga ketiga kami menginap di Hotel Mitra Garden. Saya secara pribadi tidak merekomendasikan untuk memilih hotel ini jika kamu ke Pangkal Pinang. Wifi hanya di lobby lantai 3, saluran channel TV hanya lokal saja dan kurang bersihnya selimut serta lingkungan hotel plus harga cukup mahal 300ribuan untuk per malam menjadi alasan mengapa kamu tidak perlu menginap di tempat ini.
Lokasi Pempek Sumber Rasa, Pangkal Pinang
Menu-menu di Pempek Sumber Rasa, Pangkal Pinang.
Salah satu menu kapal selam di Pempek Sumber Rasa
Lokasi Es Campur Ayong
Es Campur Ayong
Bakso Mas Tohir
Hari pertama tiba di Pangkal Pinang kami langsung membuka list tujuan lokasi kuliner di dekat tempat kami menginap. Dengan menempuh perjalanan sekitar 1 km kami makan pempek sumber rasa palembang, Pangkal Pinang. Konon kabarnya pempek ini selalu habis menjelang sore. Namun karena kami datang di jam 10 pagi jadi bisa dibilang kami adalah pelanggan pertama. Porsi kapal selam yang saya pesan cukup dan rasanya belum terasa spesial atau berbeda dibandingkan di Jakarta. Oh iya harga 1 porsinya 19K, kalau mau tambah pempek lainnya harga variatif penambahannya. Setelah pempek kami melanjutkan perjalanan ke Es Campur Ayong yang jaraknya 1 km dari lokasi Pempek Sumber rasa. Jadi kami masih jalan kaki karena aksesnya masih gampang ditempuh. Setiba di Es Campur Ayong kami memesan 2 buah es campur dengan masing-masing selera pesanan. Di tempat ada 2 ukuran es campur yaitu kecil dan reguler dengan perbedaan harga 3K. Es serutnya halus banget jadi buat kamu yang takut es serutnya kurang halus lebih baik jangan bilang esnya sedikit aja bu karena gak akan puas nantinya. Harga reguler es campur Ayong seharga 13K. Di sebelah es campur ayong ada bakso Mas Tohir, yang pesan kali ini hanya saya saja karena penasaran dengan rasanya. Saya pesanlah bakso spesial (telur dan urat) dengan harga hanya 20K saja. 
Lokasi Otak Otak Amui
Menu-menu di Otak Otak Amui, Pangkal Pinang
Lokasi dari depan jalan raya RM Asui (Seafood)
Gang RM Asui (Seafood)
Menu di RM Asui (Seafood)

Menu Andalan RM Asui 9Seafood): Ikan Tenggiri Bakar

Pintu 2 RM Asui (Seafood)

RM Asui (Seafood), Pangkal Pinang

Setelah kekenyangan dengan bakso Mas Tohir dan Es Campur Ayong, kami melanjutkan perjalanan lagi untuk kuliner. Kuliner kali ini berlokasi di jalan Toniwen, lokasinya di belakang jalan Es Campur Ayong. Otak Otak Amui menjadi pilihan kami di teriknya siang hari di Pangkal Pinang. Kami berjalan lagi sekitar 800m dari lokasi Es Campur Ayong. Setiba di lokasi, kami disajikan 3 piring yang isinya 3 menu utama dari Otak Otak Amui. Satuannya dijual dengan harga 5K, kami pun hanya mengambil sekitar 5 buah saja, karena tujuannya sekedar mencoba dan mau makan besar RM Asui (Seafood). Di Otak Otak Amui kami memikirkan kendaraan apa yang akan kami tempuh untuk ke tempat-tempat selain kuliner. Kami pun mencari tahu dan ternyata Blue Bird taksi ada di Pangkal Pinang. Kami pun memutuskan menggunakan jasa Blue Bird Taksi nanti setelah dari RM Asui (Seafood) saja. Setelah makan di Otak Otak Amui kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki lagi ke RM Asui (Seafood). Kali ini kami makan cukup besar porsinya. Setiba di lokasi langsung memesan menu favorit restaurant ini yaitu ikan bakar tenggiri (yang ternyata ukurannya besar sekali untuk kami yang hanya berdua saja), setelah itu kami memesan udang asam manis, dan sayur toge. Di restaurant ini kami menghabiskan waktu 1,5 jam, ya wajarlah waktu untuk menghabiskan ikan tenggiri yang besar (cek foto) dan itu tidaklah mudah untuk kami.


Jembatan Emas, Pangkal Pinang
Suasana di Jembatan Emas, Pangkal Pinang
Sungai di Jembatan Emas yang membatasi antara Bangka dan Belitung.
Pasir Padi, Pangkal Pinang
Pasir di pantai Pasir Padi
Suasana di Pinggir Pantai Pasir Padi, Pangkal Pinang
Setelah kuliner di 5 tempat, kami memutuskan untuk jalan-jalan menuju Pasir Padi dengan Blue Bird Taksi. Beruntunglah ada taksi Blue Bird yang setidaknya bisa dipercaya argonya dibandingkan dengan taksi lokal di Pangkal Pinang. Rutenya kami menuju Pasir Padi dari RM Asui, setelah itu kembali ke penginapan kami Hotel Mitra Garden. Argonya sekitar 150K, ya lumayan murahlah ya. Di Pasir Padi kami masuk dikenakan biaya 5K untuk biaya parkir. Pasir Padi ini ada pantai dan tempat makan yang masih rimbun sekali pepohonannya. Dahulu konon kabarnya ini tempat "remang-remang", tidaklah heran ada restaurant dengan nama yang sama di lokasi ini. Cuaca ketika kami tiba memang cukup mendung, jadi gambar yang diabadikan tidaklah begitu menarik karena kurang cerahnya pemandangan. Sekitar 45 menit kami berada di Pantai Pasir Padi, setelah itu kami kembali pulang untuk beristirahat dan bersih-bersih sebelum melanjutkan perjalanan malam nantinya.
Lokasi Martabak Acau 89, Jalan Soekarno Hatta
Menu dan harga Martabak Acau 89, Pangkal Pinang
Menu dan harga Martabak Acau 89

Aok Jek dan Aok Food, ojek online di Pangkal Pinang
Martabak Manis Pandan spesial wisman Acau 89, Pangkal Pinang.
Setelah tiba di penginapan, dan bersih-bersih dan istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan ke pasar malam yang hanya beroperasi di akhir pekan saja. Perjalanan kali ini kami mencoba dengan jalan kaki lagi, lumayan dengan jarak 3 km kami menempuh jalan kaki malam. Setiba di lokasi banyak makanan pinggir jalan yang ada di sana dari sate padang, es campur, bakso hingga mi ayam. Tidak hanya makanan saja, pakaian dan mainan serta permainan untuk anak-anak juga ada di pasar malam ini. Setelah makan malam, kami pun memutuskan untuk pergi ke Martabak Acau 89 yang konon kabarnya martabak ini paling enak di Pangkal Pinang. Setiba di lokasi kami cukup kaget dengan harganya yang ternyata murah dibandingkan dengan Jakarta. Rasa penasaran dengan rasa pun semakin tidak menahan kami untuk mencobanya. Kami dari pasar malam ke lokasi Martabak menggunakan jasa Blue Bird dan menunggu cukup lama karena antrian panjang, hingga kembali pulang ke penginapan dengan argo 65K. Martabak pandan spesial dengan wisman double pun menjadi sajian terakhir di malam pertama kami di Pangkal Pinang.


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar