Wednesday, March 27, 2013

Review: MADRE (2013)

Tansen, seorang pemuda yang kini tinggal seorang diri setelah menerima harta warisan yang jatuh kepada dirinya. Harta warisan tersebut bukanlah seperti rumah mewah dan barang mewah lainnya, akan tetapi hanyalah sebuah kunci untuk membuka sebuah kulkas yang didalamnya terdapat ragi dalam sebuah toples. Tansen pun bingung dengan maksud pemberiaan harta terakhir keluarganya ini, melalui bantuan Hadi, seorang pria yang sudah beruban, Tansen pun mulai mengerti apa maksud dari semua ini. Namanya juga seorang pria yang memang terbiasa dengan kebebasan, Tansen pun lambat laun bosan dengan semua hal yang berhubungan dengan harta terakhir ini. Niat untuk menjadikan uang saja kepada Mei, wanita yang berkeinginan kuat memiliki harta terakhir Tansen, pun sempat terlintas di pikiran Tansen. Konflik demi konflik pun terjadi diantara Tansen, Mei dan Pak Hadi. Akankah mereka memecahkan konflik ini?

Sebuah film yang lagi-lagi dari sebuah novel. Setelah dwilogi film Perahu Kertas yang cukup sukses mencuri perhatian penonton di tahun 2012, karangan novel yang ditulis oleh Dewi Lestari kembali difilmkan di tahun 2013. Sebelum Madre yang akhirnya resmi tayang di bioskop, ada film omnibus yang juga berasal dari novel Dee yaitu Rectoverso. Setelah berawal dari sebuah perahu kertas dan 5 cerita yang berbeda isinya, kini mengambil sisi ragi atau pengembang untuk sebuah roti. Sebelum membaca review ini diharapkan kalian jangan me-mindset dalam pikiran kalau sebuah novel hasilnya akan sama menariknya dengan film, baru setelah itu boleh melanjutkan membaca review ini.


Dari segi cerita yang digarap oleh sang sutradara Benni Setiawan bersama penulis asli novelnya Dewi Lestari sebenarnya cukup menghibur. Akan tetapi sisi menghiburnya yang terjadi di film ya terlihat secara kebetulan dan tanpa adanya konflik untuk dipecahkan. Sisi dialog yang dilontarkan Didi Petet dan cara bicara Titi Qadarsih di film ini bisa dibilang sisi menghiburnya film ini. Tanpa mereka berdua bisa dibilang film ini akan jadi terasa hampa. Ada beberapa hal yang agak aneh dari film ini salah satunya paling sederhana adalah ketika di awal ada adegan dimana Tansen yang suka untuk berselancar dengan ombak yang tinggi, kenapa tiba-tiba ada pantai disana padahal saat itu lokasi di Bandung. Dan satu lagi adegan Tansen untuk berselancar nampaknya tidak begitu terekspos dengan jelas di film ini, ya bisa dibilang sekedar pegang papan seluncur atau ada pengambil gambar seakan-akan dirinya habis berselancar.

Dari segi deretan lagu yang ada di film ini bisa dibilang bukanlah lagu Afgan yang berjudul Jodoh Pasti Bertemu yang menjual, kedua lagu selain Afgan yang sempat diputar untuk mengisi backsound adegan terlihat jauh lebih baik dan "masuk" dengan adegannya. Mungkin disini hanya kesalahan pada penempatan lagu saja, dari segi lirik sendiri cukup "masuk" dengan jalan cerita film ini. Chemistry antara Vino G Bastian dengan Laura Basuki bisa dibilang sama-sama mencoba menjalin chemistry yang kuat di film ini, namun sayangnya hasil terlihat agak sedikit kurang gregetnya. Sebagai contoh sederhana, Mei segampang itukah jatuh cinta terhadap seorang pria yang notabene baru saja dijumpainya karena hasrat memiliki ragi yang kebetulan dimiliki oleh Tansen? Konflik yang terdapat di film ini tidak berbeda dengan film percintaan lainnya, jika kalian mengerti pasti sudah tahu maksudnya seperti apa. Yang cukup disayangkan yaitu karakter Framly disini kenapa seperti "numpang lewat" begitu saja? Untuk kesekian kalinya Benni Setiawan menampilkan sebuah film yang tidak ada jawaban yang pasti di akhir filmnya. Akhir kata, Madre adalah sebuah film yang menghibur berkat dari aktor dan aktris senior. Selain itu dengan menonton film Madre bisa dilihat bagaimana suatu proses untuk menentukan pilihan hidup secara dewasa. :Salam JoXa:

7/10

Trailer:

No comments:

Post a Comment