Friday, March 22, 2013

Review: Hasduk Berpola (2013)

Budi, putra cilik asal Bojonegoro yang memiliki seorang Kakek yang ternyata mantan seorang pejuang ketika di tahun 45. Di kehidupan sehari-hari Budi dihadapkan oleh perselisihan dengan gank Kemal, teman sekolahnya. Budi dengan teman-temannya pun tidak tinggal diam untuk melawan gank Kemal. Sampai pada suatu hari Budi memutuskan untuk ikut kegiatan pramuka dengan tujuan mengambil ilmu pramuka untuk melawan gank Kemal. Masalah pun harus dihadapi Budi karena dirinya tidak memiliki perlengkapan pramuka yang pada saat itu peserta diwajibkan menggunakannya. Berbagai konflik yang dialami Budi pun tidak berhenti disana saja. Akankah Budi dapat mengatasi masalah hidupnya disaat usianya masih sangat kecil seperti ini?

Film yang awalnya bertujuan untuk anak-anak berakhir dengan nasionalisme, bagaimanakah jadinya? Bisa dilihat dari film Hasduk Berpola yang mencoba seperti demikian namun eksekusinya malah berlebihan dan tidak fokus dalam bercerita. Film ini tentang Budi bagaimana usahanya untuk mendapat Hasduk disaat kondisi keluarganya yang begitu seadanya dan cukup mustahil untuk memperoleh barang Hasduk senilai 15 ribuan rupiah. Cerita perjuangan Budi mendapatkan sebuah Hasduk harus tercoreng dengan cerita yang sebenarnya tidak perlu ada di film ini yaitu kisah masa lalu Kakeknya yang ternyata merasa gagal sebagai pejuang karena tidak memenuhi pesan terakhir dari sahabatnya yang meninggal tertembak di tahun 45. Jika berbicara logika, haruskah anak sekecil Budi yang tidak berdosa dan sudah memiliki beban untuk mencari Hasduk yang harus asli tanpa adanya pola "barbie" dengan meneruskan pesan terakhir yang seharusnya dilakukan Kakeknya? Think it!


Dalam membuat film anak-anak ya tolonglah yang selogis mungkin dilakukan oleh mereka, jangan mencoba memaksakan sesuatu yang "wow" atau "out the box" terhadap anak seperti Budi ini. Alangkah lebih baik film Hasduk berpola bercerita tentang perjuangan Budi untuk meraih uang kemudian membeli Hasduk dan juga solidaritas dengan teman-temannya jauh lebih banyak diceritakan. Bukannya harus memberi konflik urusan tertunda Kakeknya di jaman dahulu ya. Jika harus menyebut judul film anak-anak yang nyaman dinikmati 2 akhir tahun ini baru film Indonesia Cita-citaku setinggi tanah yang terlihat sederhan dan tidak neko-neko ceritanya. Selain "musibah" yang dialami Budi, adiknya Bening, yang diperankan oleh Fay Nabila salah satu finalis ajang Indonesia Mencari Bakat ini, juga mengalami hal yang sama. Untuk usia Bening yang masih belia, sepertinya terlalu berlebihan jika harus mengorbankan seprai yang didambakannya selama ini untuk dijadikan sebuah hasduk untuk abangnya. Slow motion isak tangis dari anak yang masih belia ini terlihat begitu mengganggu. Apa hanya untuk menjelaskan sebatas judul film ini yang ada kata berpola? Alangkah lebih baik cari jalan lain yang lebih logis.

Dari deretan para pemain sebenarnya tidak ada yang buruk sih, karena mereka bermain yang sesuai jalan cerita yang terlihat agak dipaksakan sana-sini. Jadi kesalahan terbesar dari film Hasduk Berpola adalah dari segi cerita yang jauh lebih penting untuk mengingatkan anak sekarang agar lebih mencintai nasionalisme daripada belajar untuk berjuang meraih apa yang mereka inginkan atau cita-citakan. Dengan menggunakan Hasduk yang Berpola "barbie" aja sudah terlihat tidak ada sisi mendukung nasionalismenya film ini. Coba dicek satu per satu apakah ada seorang pramuka sejati menggunakan Hasduk Berpola? Tidak alasan apapun. Dimana-mana Hasduk itu ya berawarna putih merah sesuai warna bendera tanah air kita, bukan menjadi berpola seperti yang ada di film ini. Pengorbanan dari seoranga dik kepada kakaknya? Itu  bukan pengorbanan, melainkan kebodohan dan mengajarkan kepada kepada generasi muda saat ini untuk memperbolehkan memakai hasduk yang berpola. So akhir kata Hasduk Berpola salah dari segi cerita, padahal para pemain memiliki kekuatan akting yang cukup di sepanjang film ini.

1/5

Trailer:

1 comment: