Wednesday, January 30, 2013

Review: 3 SUM (2013)


Di tahun 2012 setidaknya ada 6 judul film Indonesia yang menjadi satu bagian cerita dengan cerita yang berbeda. Di dunia perfilman biasanya disebut dengan film omnibus. Nah di awal tahun 2013 ini ada film omnibus terbaru yang nampaknya cukup berbeda dibandingkan omnibus yang sudah ada, dengan judul 3 SUM. Perbedaan tersebut terletak dari pemberiaan 3 jenis genre yang berbeda dalam 1 film selama 90 menit bisa kalian nikmati sekaligus. Genre tersebut diantaranya adalah thriller, drama dan action. Selain  itu ketiga film tersebut pun disutradarai dan ditulis kenarionya oleh ketiga pendatang baru di dunia perfilman bioskop tanah air. Terkecuali bagi Andri Cung dan William Chandra yang lebih pengalaman dalam dunia penyutradaraan dibandingkan dengan Witra Asliga. Ketiga cerita tersebut pun berjudul Imsonights, Rawa Kucing dan Impromptu.

Mari bahas satu per satu ketiga cerita dari 3 SUM ini. Di segmen pertama penonton akan disajikan dengan cerita IMSONIGHTS karya dari Witra Asliga. Sebagai pembuka, nampaknya segmen cerita ini cukup berhasil membuat penonton bosan dan bingung sendiri apa sebenarnya maksud dari cerita film ini. Kebosanan itu muncul ketika penonton disajikan sebuah film tidak jelas arahnya mau kemana. Diantara mau mengajak penonton untuk flash back atau mengikuti alur maju. Kejanggalan pun terjadi di film ini, yaitu ketika Morty mau memberikan kejutan manis kepada pacarnya, Nina, ketika malam hari pulang kantor dan itu semua sia-sia saja karena Nina mendapat kabar ayahnya masuk rumah sakit. Eh scene berikutnya Morty mengalami kecelakaan kecil yang mengakibatkan terbentuknya alur flash back di segmen ini.


Alur flash back di segmen ini justru langsung mengingatkan saya pada film-filmnya Nayato. Kenapa? Ya karena Nayato paling hobi memberikan cerita flashback di akhir cerita dan itu terjadi pada segmen ini. Selain itu kejanggalan lainnya adalah sebenarnya segmen ini mau menakuti penonton atau Mortynya sih? Sosok kepala wanita ala Suzanna di wastafel pun rasanya cuma tempelan saja. Begitu pula dengan sosok ibu-ibu tua yang pada akhirnya menoleh dengan wujud tanpa wajah yang jelas pun menjadi tempelan saja di film ini. Untuk deretan para pemainnya Winky Wiryawan dan Gesatta Stella disini bermain biasa aja ya tanpa sesuatu yang spesial atau memorable sekalipun. Teknik kamera di film ini unik, saking uniknya entah kenapa harus mengikuti getaran yang terjadi oleh Morty ya? Unsur kesengajaan atau apa?

Untuk segmen kedua berjudul RAWA KUCING yang disutradarain oleh Andri Cung. Dari segi teknis dan cerita nampaknya jauh berbeda dengan Imsonights, padahal di segmen pertama sosok Andri mengambil bagian juga sebagai sutradara pedampingnya Witra Asliga. Kesamaan segmen Rawa Kucing dengan Imsonights adalah flashback, akan tetapi di segmen Rawa Kucing flashback diselipkan di beberapa tengah bagian. Penulis pernah menonton karya Andri Cung sebelumnya yaitu Payung Merah dan Buang, nah dari kedua cerita film pendek sebelum ini dan ditambah dengan Rawa Kucing penulis menyimpulkan bahwa Andri ini memiliki kekuatan dari cerita yang maju mundur. Akan tetapi itu tidak sepenuhnya dilakukan di akhir film, melainkan di beberapa scene pertengahan juga ada cerita flashback mengapa hal itu terjadi.

Dari deretan para pemain, nampaknya Rawa Kucing memberikan daya tarik hibur tersendiri dibandingkan kedua segmen lainnya. Walaupun banyaknya deretan pemain baru di segmen ini tapi tidak menutup kemungkinan film ini akan terlihat biasa saja. Penampilan perdana Natalius Chendana di film ini nampaknya cukup menjanjikan di industri perfilman tanah air, walaupun masih terlihat agak kaku tapi kalau diasah lagi pasti akan menjadi lebih baik lagi. Sosok Aline Adita sebagai cici nakal disini memanglah penyelamat dari film ini. Walaupun tidak menampilkan sosok yang istimewa tapi setidaknya Aline berhasil membuat penonton memorable setelah menonton 3 SUM di bioskop.


Dan yang terakhir adalah IMPROMPTU. Sebagai penutup dari film 3 SUM nampaknya segmen ini gagal dari segi cerita. Ceritanya tidak konsisten, sebenarnya mau menceritakan tentang pembunuhan terhadap salah satu koruptor di Indonesia atau kasus polisi nakal di bawah jembatan layang? Apa kasus polisi nakal tersebut hanya untuk memberikan sisi action dari film ini? Kalau niatnya seperti justru terlihat maksa loh. Alangkah lebih baik sisi actionnya diperbanyak ketika memasuki gedung si koruptor, nah baru deh jauh lebih nyambung ceritanya. Ini malah cerita ketika memasuki gedung bisa segampang itu layaknya membalikkan telapak tangan ambil pistol dari saku eh langsung tembak gitu aja. Agak sangat disayangkan sih segmen ini kalau memang untuk menjual sisi actionnya.

Deretan pemain Impromptu padahal sudah terlihat cukup lihai dalam hal berkelahi akan tetapi mereka berkelahi tidak nyambung dengan cerita. Diantaranya ada Hannah Al Rashid, Dimas Argoebie dan Joko Anwar sebagai pemain pendukung film ini. Secara keseluruhan 3 SUM patut diapresiasi sebagai film omnibus yang dengan 3 cerita, 3 sutradara muda dan 3 genre sekaligus menjadi 1 film. Akan tetapi sayangnya yang seharusnya 3 cerita tersebut mendapatkan 3 kesimpulan setelah menontonnya eh cuma 1 saja yang terlihat menghibur. Agak cukup disayangkan sih film 3 SUM ini. :Salam JoXa:

7/10

Trailer:

1 comment: