Thursday, December 6, 2012

Review: Pasukan Kapiten (2012)


Yuma salah satu bocah cilik yang selalu menjadi korban kekerasan dari omar dkk. Omar dkk kumpulan manusia yang paling ditakuti anak-anak di komplek rumah mereka. Sampai suatu hari Yuma harus mengambil layangan milik Omar yang nyangkut di pohon rumah tua. Rumah tua etrsebut konon kabarnya sudah lama tidak ada penghuninya dan sudah tidak diurus lama. Akan tetapi Yuma bertemu dengan seorang kakek tua disana. Ternyata Kakek tersebut dahulunya seorang pejuang di masa kemerdekaan. Yuma meminta bantuan kakek untuk terlihat tidak lemah di depan Omar dkk. Kakek pun mengajarkan Yuma agar mengandalkan otak bukan otot untuk membalas musuh.

Sebuah film anak-anak yang tayang tidak sesuai dengan momen liburan anak sekolah, Pasukan Kapiten. Disaat anak sekolah apda ujian akhir sekolah entah kenapa film ini tayang di bioskop. Alhasil menurut data terakhir, film ini hanya bertahan 5 hari saja dan kurang lebih hanya belasan ribu penonton yang berhasil diraih film ini. Lalu apa yang menyebabkan film ini tidak diminati penonton film Indonesia? Padahal sutradara ternama sudah berada di poster film ini, yaitu Rudi Soedjarwo. Kalau mau melihat lebih dalam dalam lagi, bagian penata musik ada Pongki Barata dan Aksan Sjuman. Untuk ahli kamera juga ada Yunus Pasolang yang sudah tidak perlu diragukan lagi kualitas gambar yang diambil oleh beliau ini.


Lalu apa sebabnya? Seperti statement penulis diatas, kalau film ini salah jadwal penayangan film di bioskop. Momen libur anak sekolah adalah yang tepat untuk film ini. Ada hari Lebaran, atau kalau mau bulan Desember ketika memang anak-anak sudah libur sekolah. Promo film tidak sepenuhnya bisa disalahkan kalau tanggal penayangan film tidak sesuai dengan momen genre film tersebut.. Lain halnya dengan genre selain film anak-anak, mungkin bisa suka-suka penayangan jadwal filmnya di bioskop. Dari segi cerita film Pasukan Kapiten bisa dibilang film terburuk dari seorang Rudi Soedjarwo. Entah kenapa Rudi mau menyutradarai film ini dengan naskah yang terlihat bukan dirinya banget. Bila ingin membandingkan dengan 5 Elang yang mewarnai film liburan lebaran tahun 2011, film Pasukan Kapiten membuat Rudi turun kelas.

Film Pasukan Kapiten secara keseluruhan terlihat masih mentah. Penulis yang bisa tangkap dari film ini malah kalau memang bisa melakukan ya lakukan saja itu. Usaha untuk melakukan "Stop Bullying" yang teradapat di poster film ini malah justru tidak ada di film ini. Apa dengan membuat si pelaku sadar sendiri tanpa peneguran dari pihak yang lebih pantas, sebut saja Orang Tuanya? Oh come on, hari ini sudah sulit rasanya kalau anak dibiarkan begitu saja tanpa nasihat dari orang tuanya. Yang dinasihatin aja tidak patuh apalagi ini yang tanpa nasihat sedikit pun dari orang tuanya. Untuk para pemain masih bisa dimaafkan karena kebanyakan baru di dunia perfilman dan hasil dari casting online "Giliran Muka Loe". Ya semoga saja tidak terulang lagi dari diri Rudi Soedjarwo untuk melakukan kesalahan dari film Pasukan Kapiten yang begitu banyak. :Salam JoXa:

6,5/10

Trailer:

2 comments:

  1. salam Joxa, filmnya blm pernah liat. :)

    http://joogjacircles.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. sudah lama indonesia tidak ada anak²... film ini sebagai penghapus dahaga,

    ReplyDelete