Friday, December 7, 2012

Review: Bidadari Bidadari Surga (2012)


Laisa tinggal bersama  4 adik dan ibunya di sebuah Lembah dekat pegunungan dan hutan. Keempat adiknya itu ada Dalimunte, Ikanuri, Wibisana dan Yashinta. Laisa menanamkan rasa semangat untuk sekolah tinggi kepada adiknya tersebut sampai pada akhirnya mereka semua sukses dan beranjak dewasa. Sampai saat pendewasaan inilah problematika keluarga ini mulai terjadi. Laisa sampai usianya berusia matang, belum juga menikah. Faktor malu kepada mukanya yang begitu buruk rupa dibandingkan adik-adiknya menjadi faktor utama dari lambatnya Laisa menikah. Penderitaan pun harus dilalui Laisa sampai pada akhirnya dia menjadi Bidadari Bidadari Surga.

Setelah tahun lalu menyutradarai film Hafalan Shalat Delisa, Sony Gaokasak kembali lagi dengan PH dan beberapa pemain yang sama dengan judul film yang berbeda, Bidadari Bidadari Surga. Kesalahan-kesalahan yang terjadi di film Hafalan Shalat Delisa nampaknya kembali lagi terjadi di film Bidadari Bidadari Surga. Tidak lain tidak bukan adalah masalah dialek yang lagi-lagi tidak fokus. 5 menit pertama masih terjaga dengan dialek kuat dari Nirina Zubir eh setelah adik-adiknya bicara kok jadi dialek Jakarta. Padahal setting  dan dialek Nirina di awal film ini adalah Sumatera Barat. Selain dialek film ini sungguh tidak kreatif! Lihat saja Nirina Zubir terlihat seperti "wonder woman" di film ini. Masa dari awal film sampai akhirnya yang juga mengharuskan beliau meninggal di film ini tetap sama mukanya sih. Adik-adiknya saja ada perubahan muka dan fisik.

 

Penderitaan yang dialami oleh Laisa di film ini malah terlalu sinetron sekali. Durasi film ini yang begitu lama semakin lama pula dengan penderitaan yang bertubi-tubi dialami oleh Laisa. Agak cukup disayangkan untuk sebuah PH besar, kalau hanya mengandalkan 1 pemain besar saja di dalamnya akan tetapi mengesampingkan cerita dan dialek serta perintilan kecil lainnya. Nino Fernandez, Nadine Chandrawinata, sampai Henidar Amroe pun disini tidak ada satupun yang memiliki karakter kuat di film ini. Animasi di awal film pun rasanya tidak menolong daya tarik untuk menonton film ini. Rasanya Sony Gaokasak harus segera cepat mengubah cara penyutradaraan beliau di film berikutnya jika masih menyutradarai dari Novel karya Tere Liye kembali. Kalau tidak ada perubahan juga, rasanya piring pecah siap diberikan kepada sutradara ini di kolom penyutradaraan film Indonesia. ;Salam JoXa:

6,5/10

Trailer:

1 comment: