Thursday, December 29, 2011

Review: Pocong Kesetanan (2011)

Santo salah satu anggota perguruan bela diri bersama Bujang, James, dan Mentil. Namun karena sesuatu hal Santo minggat ke kota karena dia menolak jadi pendekar seperti yang diperintahkan ayahnya. Akhirnya Bujang dkk menjemput Santo ke kota tempat dirinya. Setiba disana mereka akhirnya bernostalgia bersama. Di tempat Santo, ternyata ada Chika dan Wendy, dua gadis cantik yang menjadi sorotan Bujang, cowok badan kekar yang jago bergombal ria dengan pantun. Bujuk rayu Bujang dkk untuk membawa Santo pulang ternyata tidak berhasil karena Santo menjelaskan kalau dirinya sekarang disantet. Dirinya disantet dengan wujud kalau menjelang malam hari berubah menjadi banci alias Santi. Di mimpinya, Santo mendapat wangsit untuk pergi ke makam keramat Cina. Lalu apakah yang terjadi selanjutnya?

Gak usah bahas atau tanya banyak kenapa judulnya Pocong Kesetanan? Lo semua pasti sudah tahu kalau pocong itu setan. Dan pasti banyak pertanyaan di benak kepala kalian kenapa pocong bisa kesetanan? Gu epun tak tahu harus berkata apa. Setelah menonton film ini pun gue melihat tidak menemukan hubungan judul dengan jalan cerita. Menurut kabar yang beredar, Pocong kesetanan dahulu judul filmnya Kungfutilanak. Nah kalau berjudul Kungfutilanak nampaknya gue masih jauh lebih tolerir ya. Karena disini terlihat si peran utama memang anggota bela diri. Kalau memang niatnya film ini untuk membuat sekedar lucu-lucuan saja dengan judul filmnya, ya tidak masalah sih tapi alangkah lebih yang sedikit masuk akal atau kalau perlu lebih frontal lah. Jangan Pocong Kesetanan -__________-“!

Cerita yang dibuat Ery Sofid dan Ian Jampanay pun terlihat sekali tanpa skenario di beberapa bagian. Entah posisi mereka berdua di skenario apa gue juga bingung. Di beberapa adegan ada yang menjelaskan kalau film ini tanpa skenario contohnya Azis Gagap terlihat narsis di depan kamera dan bilang secara frontal lewat dialog “Awas minggir kameranya nanti gak bisa nyorot muka gue secara jelas” Heh? Apakah ini sebuah film dengan adanya para penulis skenario di dalamnya? Atau hanya sekedar lelucon? Tolong ya ini bukan lelucon tapi semacam hinaan kepada kedua penulis tersebut. Atau memang mereka berdua yang sengaja melakukan ini semua? Kalau iya, ini memalukan sekali.

Nama Pingkan Utari pun sudah tidak asing lagi nampaknya. Nama lain dari Nayato ini pun tidak tanggung-tanggung membuat akhir tahun 2011 untuk menarik penonton ke bioskop. Entah setan apa lagi yang merasuki otak Nayato untuk membuat film ini di akhir tahun 2011. Dengan editan yang kasar dan seperti shooting dengan adegan demi adegan pun membujat film ini menjadi buruk kualitasnya. Suara musik yang bergentayangan pun tidak jauh berbeda dengan film-film beliau sebelumnya. Berisik dan mengganggu! Letak tempat shooting pun mengingatkan gue dengan film Nayato seperti Pocong Ngesot dll yang tayang di tahun 2011.

Dialog antar pemain disini pun entah kenapa membuat gue bosan dan tidak membuat ketawa sama sekali. Andai saja BB/HP gue baterenya penuh pasti gue lebih memilih asik BBM atau main social media seperti twitter daripada menunggu banyolan garing pantun antar pemain. Pantun? Iya! Disini banyak sekali pantun-pantun garing antar pemain dan buat info aja ya 10 menit pertama habis sudah gue tersiksa dengan nyawa garing dari film ini. Di beberapa bagian pun membuat gue ilfill dengan jijik dengan para pemainnya. Sebut saja ada salah satu pemeran cewek di film ini yang punya bulu ketiak yang lebat dan dengan bangga dipamerkan ke umum dengan mengangkat tangannya. Selan itu dirinya juga punya hobi mengupil baik lagi makan ataupun melakukan kegiatan lain.

Aziz Gagap sebagai manusia yang memiliki kepribadian ganda disini pun nampaknya gagal membuat gue tertawa ataupun kasihan kepadanya. Raffi Ahmad yang bisa dibilang TIDAK PENTING di film ini pun semakin membuat garing film Pocong Kesetanan. Kehadiran Ajun Perwira yang kemarin sempat mencuri perhatian di Pocong Juga Pocong nampaknya agak lebih baik dibandingkan yang lain. Kehadiran dirinya yang pakai kacamata dan makan pisang serta bergulat dengan manusia pun nampakanya semakin nyentrik saja tokoh pocong di mata gue. Si lelaki berbadan besar dan congor yang berisik, Reymon Knuliqh, nampaknya semakin kelihatan kalau dirinya memang menikmati dengan perannya seperti itu di tahun 2011. Kehadiran Rina Diana, Diah Cempaka Sari, dan Febriyanie Ferozilla nampaknya tidak begitu mencuri perhatian sekali walaupun yang bening hanya mereka bertiga saja.

Akhir kata, Pocong Kesetanan berhasil membuat gue pusing setelah menonton film ini dan efeknya sampai gue kelar mereview film ini. Sungguh amat mengenaskan sekali jika banyak penonton yang berbondong-bondong ke bioskop hanya untuk disajikan kegaringan dan ketidakjelasan film ini sepanjang 77 menit. Bukannya gue mendeskriminasi film ini ya, tapi alangkah lebih mencari film lain yang setidaknya memiliki hubungan judul dengan jalan cerita. Dengan amat bahagia dan tidak ada paksaan darimana pun gue memberikan penghargaan khusus kepada film Pocong Kesetanan sebagai 10 film terburuk di tahun 2011! Congratz! :Salam JoXa:


Trailer:

No comments:

Post a Comment