Monday, December 5, 2011

Review: Arthur Christmas (2011)

Siapa coba tidak mau mendambakan kado atau hadiah di saat malam Natal tiba? Pastilah kalian ketika masa kanak-kanak pernah merasakan hal demikian bukan? Merindukan dan menantikan kehadiran sebungkus kado yang berharap isinya adalah harapan lo selama ini di tahun tersebut. Belum lagi lo berharap adanya seorang Santa Claus yang telah memberikan semuanya itu kepada lo. Hmm indahnya ya suasana tersebut kalau dipikir-pikir ulang lagi.

Nah itulah yang terjadi di film Arthur Christmas. Gwen seorang anak kecil yang tinggal di Inggris begitu mengharapkan hadiah dari seorang Santa Claus. Gwen mengirimkan surat dengan harapan yang besar kepada Santa, yang kebetulan juga dibaca suratnya oleh anaknya yang bernama Arthur. Ternyata masalah teknis terjadi di tempat Santa. Beberapa list nama yang seharusnya dikirim kepada anak-anak pada malam Natal tiba-tiba menghilang. Arthur bersama Grandsanta pun harus melakukan sesuatu agar semuanya bisa terkirim dengan tepat waktu.

Film dengan nuansa Natal akhirnyaa tiba juga dia wal bulan Desember ini. Dengan melempar film Arthur Chrsitmas rasanya cukup baik untuk membawa suasana Natal di bioskop bersama keluarga. Lain halnya dengan gue yang dengan sangat hormat tidak begitu suka secara keseluruhan film ini. Sorry, film Arthur Christmas terlihat seperti film yang menyeramkan buat gue. Bagaimana tidak seram, sosok paras wajah elf disana terlihat sekali seram dengan dua tanduknya itu. Dari segi animasi efek-efek yang diberikan memang bagus sih, malah dengan menonton 2D saja sudah cukup terasa bagaimana efek 3Dnya.

Nama Sarah Smith di bangku sutradara sebuah film pasti sangatlah asing bagi pecinta film. Yak wajar saja sih, karena beliau cenderung lebih sering ke dunia pertelevisian dengan serial-serial TVnya. Sebagai langkah debut di ajang perfilman rasanya perlu diancungi jempol juga sih kalau Sarah mengambil jalan animasi, belum lagi suasananya pas dengan Natal yang tidak lama lagi. Di filmnya pun tidak lupa juga dibaluti beberapa lagu Natal yang tidak kalah asing, sebut saja Malam Kudus, Joy To The World, Merry Christmas,dll. Dari segi narasi yang dibuat oleh Sarah Smith bersama Peter Baynham rasanya tidak ada yang masalah juga sih, karena cukup terhiburlah gue secara pribadi. Akan tetapi terhiburnya menonton film ini ibarat naik gunung, kadang ketawa banget, kadang pula krik krik krik.

Karakter-karakter dari Arthur Christmas sendiri secara keseluruhan ada yang lucu, heboh dan bahkan ada yang sangat mengganggu sekali. Karakter Arthur disini bisa dibilang diisi suaranya lumayan baik oleh aktor yang pernah menjadi Prof Charles Xavier di X Men First Class itu, James McAvoy. Karakter Steve yang sebagai paling berkuasa disini juga cukup berkarakter diisi suaranya oleh Hugh Laurie. Karakter lain yang paling mengganggu gue adalah yang diisi suaranya oleh Ashley Jensen. Entah kenapa karakter dia disini terlihat banget mengganggu, bawel, dan menyebalkan. Untungnya tidak sepanjang film dirinya bawel, karena di beberapa bagian dirinya cukup gesit dan pintar melakukan adegan.

Akhir kata, Arthur Christmas menampilkan film yang cukup menghibur dengan dimanjakannya animasi yang lumayan baik walaupun tanpa menggunakan kacamata 3D sekalipun. Sebagai film british animasi nampaknya Arthur cukup berhasil untuk memberikan nuansa Natal di sebuah film. Walaupun Natal masih lama tapi tidak ada salahnya menyaksikan film ini di bioskop bersama keluarga saat-saat ini. Kerinduan akan hadirnya sebuah kado atau hadiah di masa kecil bisa kalian rasakan setelah menonton film ini. Selain kerinduan juga ada pesan yang bisa dipetik yaitu dalam melakukan sesuatu sebaiknya lakukan dengan sepenuh hati biar hasilnya juga baik pula. :Salam JoXa:

2,5/5

Trailer:

No comments:

Post a Comment