Wednesday, October 26, 2011

Review: Kehormatan di Balik Kerudung (2011)

Diceritakan disini seorang gadis yang tinggal di Bangka, Syahdu, yang cukup sulit untuk merasakan namanya cinta setelah mengalami kisah pahit bersama mantannya dahulu. Syahdu tinggal bersama kedua orangtua dan adik perempuannya, Ratih. Syahdu memiliki niat untuk berangkat ke tempat Kakek di Pekalongan untuk sekedar mengunjungi beliau dana memberikan titipan ibunya kepada beliau. Ketika menunggu kereta dalam perjalanan, dirinya bertemu dengan seorang wartawan, Ifan. Disitulah, rasa cinta terhadap Ifan dirasakan oleh Syahdu.

Sampailah di Pekalongan, Syahdu bertemu kembali dengan beliau yang ternyata salah satu pemuda soleh di kampung tersebut. Ifan ternyata menjadi pemuda yang begitu digemari gadis-gadis di kampung tersebut, salah satunya Sofia. Kakek Syahdu tidak menyetujui hubungan percintaan cucunya itu terhadap Ifan. Akhirnya, Syahdu pun kembali ke tempat asalnya. Disana dia mendapatkan ujian yaitu ibunya sakit keras dan dirinya harus mengorbankan cinta Ifan untuk diberikan kepada mantannya.

Nama Tya Subiakto Satrio siapa coba tidak mengenal beliau? Beliau yang merupakan ahli di bidang sounds dan ilustrasi musik film-film Indonesia. Bisa dibilang hampir semua film tahun ini dikendalikan musiknya oleh beliau, dan hasilnya jauh dari kata mengecewakan, sekalipun film tersebut disutradarai oleh Om Nayato :p. Dan kini mbak Tya mencoba menerima tantangan dari Chand Parwez yang kebetulan sebagai juragan dari Starvision sendiri untuk menyutradarai sebuah film. Mungkin jika kalian yang mengetahui background dari beliau sendiri mendengar hal tersebut pasti agak kaget dan bingung serta penasaran dengan debut film dari beliau. Dan jatuhlah Kehormatan Di Balik Kerudung menjadi debut film Tya Subiakto Satrio.

Secara cerita, gue kalau boleh jujur tidak tahu menahu soal novel Kehormatan Di Balik Kerudung. Dan sekarang gue akan membahas dari segi film yang gue tonton saja. Berikut hasil pemahaman gue tentang film ini. Dan hasilnya adalah indahnya sinematografi yang dipenuhi kekacauan dari segi teknis dan gaya cerita. Sebelum mengkritik lebih dalam, gue mau mengapresiasikan terhadap mbak Tya Subiakto Satrio dahulu karena beliau cukup berani menerima tantangan ini. Gue tahu membuat film itu sangatlah susah, jadi gue cukup mengapresiasilah. Penggarapan beliau kali ini yang awalnya digosipkan dibuatkan oleh Nayato sebagai sutradara terlihat cukup rapi dan bisa dibilang nuansa setting dan artistic serta cara busana para pemain ada unsur Nayatonya.

Gue tahu Nayato disini katanya sebagai penata kamera saja, tapi ciri khas kuat seorang Nayato itu tidak bisa dipungkiri dengan sebelah mata loh. Ini bukan masalah Tya yang buat mendirect atau Nayato sekalipun. Tapi gue disini melihat bahwa campur tangan Nayato disini yang hanya sebagai penata kamera terlihat cukup berpengaruh sangat terhadap penyutradaraan film ini. Untungnya gaya pengambilan kamera Nayato tidak diberikan film ini, hanya ada di bagian akhir agak keseleo karena menyerupai Nayato persis. Ya kalau kalian memang pecinta film Nayato pasti tahulah apa ciri khas tersebut. Oke gue menyebutnya beberapa saja, yaitu rumah, pagar berduri, adegan bangun tidur, ruang berlorong, kostum bagi pria pakai jaket, pakai kupluk, dan lainnya silahkan simak sendiri.

Kalau dari segi cerita, gue disini cukup mengerti dimana cerita tentang seorang istri yang rela suaminya berpoligami. Dan dibalik itu semua terdapat pengorbanan yang luar biasa. Cerita bisa dibilang sangat mudah ditebak jika kalian sudah sering mendengar atau menonton kisah 3 cinta insane muda yang dimabuk asmara. Scoring dan ilutrasi musiknya pun untungnya tetap seperti gayanya mbak Tya, jadi tidak ada masalah. Yak tim artistik dan gaya dialog yang paling amat gue pertanyakan! Ini sebenarnya diambil setting tahun berapa sih? Kalau pun tahun masa lampau dan harus menggunakan bahasa yang kuno tapi kenapa harus begitu puitis begitu sih? Terus kenapa kostum busana dan apa yang para pemain gunakan begitu sangat terlihat stylish dan modern? Malah teman saya yang sepertinya hobi belanja nyeletuk kalau ada diantara pemain di film ini menggunakan merk branded ternama. -________-“

Sekarang mari membahas pembawaan karakter para pemain disini. “Ratu Air Mata” begitu gue menyebutnya kepada aktris Donita. Lihat saja film ketiga ini di tahun 2011, dia berhasil menguras air mata dengan kadar yang berbeda-beda. Gue sampai bingung dan gak habis piker apa sih tips dari teteh Donita bisa menangis semudah itu. Namun gue yang awalnya cukup tersentuh dengan air mata si teteh, kini nampaknya sudah bosan dan jenuh dengan air matanya. Tapi nampaknya gue harus bersabar karena gossip yang beredar akhir tahun ini dia kembali menguras air mata dengan film terbarunya (yang belum diketahui judulnya itu). Lain halnya dengan Ussy Sulistiawaty yang terlihat lebih calm down dan saking calm downnya terlihat flat dan tidak memberikan karakter kuat di perannya tersebut.

Andhika Pratama disini bisa dibilang karakter yang tidak konsisten karena dengan gaya bahasanya yang begitu kaku dan sangat puitis sangatlah jomplang dengan gaya trendynya ketika berbusana. Dan bsia dibilang kostum yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari cuma 2-3 potong saja (ngirit atau pelit sih tim kostumnya?) Pemain lainnya yaitu Jordi Onsu, Nadya Almira, dan terkahir pemain baru Iwa Rasya. Kayaknya gue tidak perlu menyimpulkan apakah film ini seperti apa secara keseluruhan, dari ulasan di atas rasanya kalian bisa mengetahuinya sendiri. Akhir kata, gue cuma pesan terhadap Mbak Tya, kalau memang beliau mau terjun serius ke dunia penyutradaraan alangkah lebih baik lepas dari nama penata kamera Nayato biar penonton bisa melihat ciri khas tersendiri dari Mbak Tya. Gue baru menemukan ciri khasnya itu sekitar 40% saja, sisanya? Silahkan tebak sendiri. :Salam JoXa:

2/5

Trailer:

No comments:

Post a Comment