Monday, September 12, 2011

Review: THOR (2011)

Odin, Raja Asgard memiliki musuh yang bernama Laufey, Frost Giants, dari Jotunheim. Perselisihan mereka pun sampai mengganggu peresmian pengangkatan Thor menjadi Raja. Thor adalah salah satu anak dari Odin yang dilihat lebih pantas untuk menajdi raja dibandingkan adiknya, Loki. Akan tetapi karena sifat kesombongan dan keras kepala serta bersikap semaunya membuat Odin geram terhadap Thor dan melemparnya ke Bumi. Keempat teman Thor, Sif, Volstagg, Fandral dan Hogun, merasa kasihan terhadap Thor karena dilempar begitu saja ke Bumi.

Thor yang dilempar ke Bumi pun merasa kebingungan karena tempat dan kondisi yang berbeda. Disana dia bertemu dengan seorang ilmuwan astro fisika yang bernama Jane Foster. Jane disana tinggal bersama mentornya Dr. Erik dan asistennya yang bernama Darcy. Disini Thor pun berusaha mencari palu yang merupakan alat kesayangannya yang juga dilempar oleh Odin ke Bumi. Pencarian tersebut pun dimulai tapi dengan hambatan yang diberikan oleh Loki dari tempat asalnya. Masalah hati pun bisa dijadikan salah satu hambatan lainnya. Lalu dapatkah Thor menuntaskan masalahnya itu?

Salah satu dari Marvell Studio dan bagian dari film The Avanger (2012) nanti akhirnya tayang juga walaupun bisa dibilang seperti anak bawang ditayangkan di Indonesia. Sebelum pada akhirnya gue menonton film ini dengan format 3D, gue sebelumnya sudah menontonya terlebih dahulu dalam bentuk donlotan. Dan ketika menonton film ini gue merasa terpukau dengan efek-efek visualiasasi yang diberikan film ini dan berkhayal kalau ada kacamata 3D ketika menonton film ini, pastinya gue akan menikmatinya. Hmm tapis ayangnya itu cuma angan belaka, karena ketika menonton film Thor dalam bentuk 3D khayalan-khayalan gue harus dikubur dalam-dalam karena sangatlah buruk.

Kalau masalah cerita rasanya tidak usah memberikan ekspetasi tinggi atau berharap seperti superhero kebanyakan. Cerita yang dibuat oleh Ashley dkk ini bisa dibilang tidak memberikan sesuatu di dalam Thor. Gue memang tidak mengikuti komik tersebut tapi setidaknya gue berharap ada sesuatu yang ditonjolkan dari film ini. Seorang Thor masa segitu lembeknya gara-gara cinta? Perasaan di tempat tinggalnya jelas-jelas ada perempuan yang bisa saja disukainya. Dari pertengahan, rasa kebosanan dari film ini bisa dibilang permasalahannya. Kalau saja tidak ada popcorn menemani ketika menonton pastinya gue sudah tidur pulas saking sudah tahu jalan ceritanya dan berharap efek 3D muncul yang kira-kira 30 menit sebelum akhir cerita.

Dari deretan para pemain, gue lebih suka dengan karakter Loki yang diperankan Tom Hiddleston. Entah kenapa mata dan ekspresinya begitu dingin dan pas banget untuk karakter Loki. Kalau Chris Hermsworth sih gue melihat dia berhasil menjadi superhero yang begitu lembek sepanjang film-film superhero yang gue tonton. Sifat kesombongan dan semaunya hanya menjadi penggalan kisah saja. Aktris cantik Natalie Portman disini terlihat pas sebagai ahli astro fisika, dari raut muka sudah terlihat kalau dirinya seorang aktris yang cerdas jadi tidak perlu meragukan aktingnya.

Walaupun efek visualisasi yang disajikan dalam bentuk 3D terlihat mengecewakan, tapi dalam masalah scoring film Thor memberikan suasana yang menggebu dan pas buat tipe film seperti ini. Film jadi terasa wah dan istimewa karena dentuman-dentuman scoring tersebut. Kalau dari kostum para pemain disini bisa dibilang lumayan baik untuk sebagai film berbau kostum jaman dahulu. Akhir kata, Thor terlihat bukan film yang menjajikan hiburan seutuhnya jika ditonton dalam bentuk 3D. Jika sudah menonton dalam versi biasa rasanya sudah cukup dan tidak usah penasaran terhadap 3Dnya karena nanti akan sakit hati saja setelah menonton film tersebut. :SALAM JOXA:

3/5

Trailer:

No comments:

Post a Comment