Sunday, July 3, 2011

Working Girls (2010)


Menonton film dokumenter bisa dibilang gue secara pribadi cukup sedikit pengalamannya, hingga saat ini belum ada 10 film dokumenter yang sudah gue tonton. Alasan pertama adalah gue kalau boleh jujur tidak begitu menyukai jenis film dokumenter, gue sendiri juga bingung kenapa karena terkadang bisa amat membosankan melebihi film drama beralur lambat sekalipun. Nah disini, gue kembali mencoba menonton film dokumenter terbaru yang berjudul Working Girls. Alasan gue menonton film ini karena gue melihat sosok Nia Dinata dibalik jadinya proyek film ini. Siapa coba tidak mengenal the Nia Dinata yang dikenal dengan film Arisan di beberapa tahun silam. Daripada penasaran, simak curhatan josep berikut ini.

Film Working Girls sendiri dibagi menjadi 3 bagian, diantaranya 5 Menit Lagi Ah.. Ah.. Ah.., Asal Tak Ada Angin dan Ulfie Pulang Kampung. Cerita pertama 5 Menit Lagi Ah.. Ah.. Ah, tentang kehidupan Ayu Riana setelah memenangkan sebuah kompetisi penyanyi dangdut di salah satu televisi swasta pada tahun 2008 silam. Ayu diceritakan sebagai tulang punggung keluarga setelah memenangkan kompetisi tersebut. Sang ayah yang berhenti beekerja, kemudian menjadi manager bagi anaknya. Segala keuangan pemasukan panggung Ayu yang awalnya dipegang oleh sang ayah, kemudian diambilalihkan oleh sang ibu karena sang ayah terlihat boros menggunakannya. Suatu hari, ayah Ayu pun terjatuh sakit, sebagai manager pun diambilalihkan oleh seorang lelaki yang diketahui ternyata bukan anggota keluarga atupun sanak saudara mereka.

Cerita kedua Asal Tak Ada Angin, disini diceritakan bagaimana perjuangan Kamek dan team untuk mempertahankan budaya Ketoprak Tobong di tempat asalnya. Hanya dengan bermodalkan sepetak tanah mereka membangun sebuah rumah untuk dilangsungkannya pertunjukan Ketoprak tersebut. Dari pemasukan tiket pertunjukkan itulah mereka mendapatkan penghasilan untuk kehidupan mereka dan keluarga masing-masing. Cerita terakhir, Ulfie Pulang Kampung, yang menceritakan tentang bagaimana seorang transgender yang bernama Ulfie. Ulfie di Jakarta memiliki sebuah salon kecantikan, dari pemasukan itulah dia dapat menghidupi dirinya serta keluarganya yang tinggal di Aceh. Usut di balik usut, ternyata Ulfie menghidap penyakit HIV AIDS karena suka bergonta ganti pasangan. Teman-temannya pun mengalami hal yang sama, Ulfie dengan jiwa tegar dan semangatnya mendukung para teman-temannya untuk tetap semangat menjalani hidup.

Sebah kisah perjuangan para perempuan untuk menghidupi keluarga mereka masing-masing. Cerita yang pertama bisa dibilang okelah untuk pembuka film ini. Walaupun kalau dilihat secara keseluruhan tidak fokus di satu tema, karena ujung-ujungnya membahas konflik sesuatu yang melenceng. Cerita 5 Menit Lagi Ah.. Ah.. Ah.. dibuat oleh Sally Anom Sari dan Sammaria Simanjuntak. Cerita kedua rasanya cukup unik dan berbeda bila dibandingkan dengan 2 cerita yang ada. Akan tetapi, gue secara pribadi tidak melihat adanya perjuangan kaum hawa di cerita kedua ini. Gue malah lebih melihat bagaimana budaya Ketoprak Tobong yang begitu dipandang sebelah mata hingga saat ini. Cerita Asal Tak Ada Angin sendiri dibuat oleh Anggi C. Noen. Cerita ketiga Ulfie Pulang Kampung, tentang perjuangan seorang waria untuk membiayai keluarganya di Aceh. Daud Sumolang dan Nitta Nazyra C. Noer membuat cerita ini cukup berani karena disamping mengangkat tema transgender di dalamnya, juga mengambil lokasinya langsung di Aceh. Seperti kita ketahui, bahwa Provinsi Aceh cukup dikenal dengan provinsi yang ketat dan begitu pro kontra untuk masalah transgender.

Secara keseluruhan film Working Girls memiliki tujuan yang bagus sebenarnya untuk mengangkat harkat dan martabat wanita yang membiayai keluarganya. Akan tetapi, tujuan tersebut rasanya tidak begitu mengena secara sempurna karena adanya kebolongan dan keganjelan dari beberapa cerita yang disampaikan. Begitu pula dengan lambatnya alur yang dihadirkan bisa membuat penonton mengantuk. Untungnya pemilihan 3 cerita disini ditempatkan dengan baik, jadi sepanjang 2 jam tidak akan membuat penonton tertidur pulas. Selain itu film ini cukup memberikan inspirasi bagi penonton. Jadi, biarlah sineas pembuat film lainnya bisa menyaksikan film ini dan ke depannya akan ada lagi lebih banyak tema yang mengangkat seperti ini. Good Job teh Nia! :cheers:

3/5

No comments:

Post a Comment