Monday, July 11, 2011

Kepergok Pocong (2011)

Agak pusing dan bingung gue sebenarnya ketika mau menuliskan review film Kepergok Pocong. Melihat trailernya saja gue melihat seperti sekuel atau serupa tapi tak sama daftar nama-nama pemainnya. Sebelum melihat curhatan josep, lebih baik simak dulu sinopsis film ini terdahulu. Semua berawal dari Aina seorang penggali kubur yang masih berstatus mahasiswa abadi. Setiap malam dirinya selalu bekerja untuk membiayai kehidupannya. Aina tinggal bersama Boy dan Ceko yang dimana mereka juga satu tempat kuliah bersama dirinya. Boy cowok badan kekar dengan toak dan ketawa yang super hysteria cukup beruntung mendapatkan seorang gadis cantik yang bernama Princess, namun sayangnya cewek tersebut mata duitan. Lain halnya dengan Ceko, yang masih berharap cintanya kepada hati seorang wanita bernama Niken, teman Princess.

Masalah muncul pun ketika Boy memergoki Ceko sedang membaca buku Kiat Cepat Kaya Secara Mistik. Menurut buku tersebut dijelaskan bahwa kalau mau kaya harus mengambil gambar muka si pocong tersebut, tapi dengan syarat matinya harus dikarenakan sumpah mati pocong. Masalah pun semakin dekat kepada mereka ketika Aina yang kebetulan sebagai penggali kubur mendapatkan tugas menggali kuburan buat jenazah yang baru saja meninggal akibat sumpah mati pocong. Dengan sigap, Boy dan Ceko siap sedia menemani Aina ketika bekerja. Begitu pula dengan Donatus yang bersedia menemani Aina karena tugas akhir kampusnya yang berhubungan dengan Aina.

Okei sekarang saatnya mereview film ini dengan kata-kata yang sebagai luapan ekspresi gue setelah menonton film ini. Kalau cerita, menurut gue film Kepergok Pocong amatlah parah dibandingkan film serupa sebelum ini (baca: Kuntilanak Kesurupan). 20 menit awal penonton akan disajikan lelucon-lelucon garing dari Raymond disini. Kenapa gue lebih bilang Raymond garing dibandingkan Azis Gagap? Karena memang porsi Raymond yang begitu lebai dan garing begitu dominan dibandingkan Azis Gagap. Walaupun opening ditampilkan Azis Gagap yang sedang menggali kuburan dan berinteraksi dengan pocong di kuburan, terlihat kurang lucu tapi kali ini untungnya pocong tidak disiksa seperti biasa, malahan disayang dengan lembut oleh Azis Gagap (baca: Gendong) #eh *spoiler*.

Balik lagi ke Raymond, gue bingung entah kenapa dia disuruh akting dengan modal toak dan bacotan yang lebai dan terkadang mengganggu pendengaran para penonton. Saran gue sih, kalau memang Raymond mau fokus di dunia komedi ya tolonglah jangan pake toak dan mulutnya yang mangap lebar gitu. Gak sebanding banget dengan tubuh lo yang besar dan kekar ! Porsi Rozzy disini bisa dibilang lebih aman dibandingkan dengan Raymond. Kalau para gadis-gadis pemanis ini terlihat sekali hanya sebagai pemanis di film ini, sebut saja Nadya Almira dan Keira Shabira.

Cerita di 20 menit awal sudah kacau dan semakin mengganggu adalah sounds system atau scoring atau suara dari film ini. Opening aja SANGAT MENGGANGGU pendengaran!!! Setau gue film ini katanya mau fokus di komedi horror kan? Nah kalau memang mau itu ya dikurangin dong efek-efek suara yang mengganggu pendengaran itu. Kalau ada yang tidak setuju dengan statement gue ini ya mungkin memang itu level filmnya kalian dengan suara aneh dan sok “nakuti” dan “kagetin” padahal gak ada hantu atau penampakan sama sekali!! Gambar yang dihasilkan film ini sama saja dengan Kuntilanak Kesurupan, jadi kalau mau bandingin simak aja curhatan josep tentang Kuntilanak Kesurupan. Eits tunggu dulu ada yang unik dari film ini yaitu muka pemain yang berperan sebagai pocong kali ini dihadirkan dengan make-up yang normal saja tanpa efek-efek bubur basi di mukanya. Jadi muka asli jelek pemainnya pun bisa lo lihat disini. *berasa gue ganteng aja*

Kepergok Pocong pokoknya sama saja dengan film sejenisnya terdahulu, yang membedakan disini cuma adanya profesi penggali kuburan dan deretan pemain yang sedikit berbeda. Kalau memang lo mau dipergokin pocong ya silahkan saja menonton film ini. Okei cukup sekian dari penulis untuk mereview film ini, sebagai tambahan saja penulis mereview film ini berdasarkan kepulasan tidur penulis selama 10 menit sepanjang film ini. Pasti anda bisa menyimpulkan sendiri maksud pernyataan saya terakhir itu. :cheers:


Trailer:

No comments:

Post a Comment