Thursday, April 7, 2011

? (2011)


Jenis keberagaman di Indonesia bisa dibilang paling banyak, sebut saja adanya keberagaman budaya, agama, dan suku ataupun ras sekalipun. Namun ironisnya, keberagaman tersebut agak sulit untuk dipersatukan, hanya karena adanya tembok pemisah diantara kita. Dengan adanya film “?” Tanda tanya inilah dapat kita saksikan bahwa dengan tanpa adanya “tembok pemisah” tersebut, kita dapat menciptakan rasa keberagaman tersebut terhadap sesama kita. Kali ini Mas Hanung Bramantyo, berani mengambil tema yang cukup berbeda, apalagi jika dibandingkan dengan film terdahulunya Sang Pencerah di tahun 2010 silam. Bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut dibuat menjadi persatuan dan kesatuan antar sesama. Untuk lebih lengkapnya simak curhatan josep berikut ini.

Tan Kat Sun adalah salah satu pendiri rumah makan di sebuah persimpangan jalan di kota Semarang. Akan tetapi, rumah makan tersebut bisa dibilang halal karna membedakan peralatan masakannya. Disamping itu, pegawai rumah makan tersebut bisa dibilang berbeda agama dengan Tan Kat Sun. Menuk yang menjadi salah satu pekerja di rumah makan tersebut begitu nyaman sekali disana, karena Tan Kat Sun seorang yang mentolerir waktu dia untuk menjalankan ibadahnya. Suami Menuk, Soleh sebenarnya agak kurang setuju istrinya bekerja disana tapi karna dia tidak bekerja, ya apa boleh buat kalo istrinya bekerja disana. Rika, salah satu peunjung setia tempat makan itu pun juga memiliki masalah. Dia setelah bercerai dari suaminya, pindah agama ke Katolik dan melepaskan jilbabnya, namun anaknya tetap beragama Islam. Surya, teman dekat Rika tetap mendukung keputusan apapun asal terbaik buat Rika dan anaknya. Surya sendiri adalah seorang yang memiliki impian menjadi aktor pemain film, namun hingga saat ini hanya menjadi peran tukang pukul saja. Dibalik sosok Tan Kat Sun yang mentolerir terhadap agama lain, ternyata berbanding terbalik dengan anaknya, Hendra. Dia dikenal tidak menyukai agama lain tersebut. Masalah dan konflik pun silih berganti, lalu apakah semuanya itu bisa bersatu pada akhirnya?

Karya ke 14 Mas Hanung Bramantyo ini bias dibilang hampir sama sefenomenal filmnya terdahulu. Namun kali ini, mas Hanung tidak hanya menceritakan 1 kisah agama, melainkan 3 agama diceritakan di film ini. Bagaimana ajaran-ajaran setiap agama tersebut dituangkan di film ini. Konflik dan masalah perbedaan pun yang menjadi makanan kehidupan masyarakat luas juga diceritakan disini. Bisa dibilang 90% isi cerita film ini seperti kisah nyata. Untuk karyanya yang ke 14, bias dibilang Mas Hanung semakin matang dan konsisten dengan karyanya. Dari segi pemilihan pemain, isi cerita, pengambilan gambar, dan scoring dibuat begitu matang.

Kalau dari segi pengambilan gambar, bisa dibilang Mas Hanung membuat filmnya dengan gambar yang enak dipandang mata, walapun tipe horror sekalipun. Pengambilan 1 setting di daerah persimpangan kota Semarang dengan berbagai macam konflik. Cerita film yang ditulis dari gabungan penulis Titien Wattimena dan Hanung Bramantyo sendiri juga ikut terlibat membuat film ini begitu kuat dengan dialog-dialog yang cerdas. Scoring film ini sendiri bias dibilang recycle dari lagu lawas Sheila On 7 yang dinyanyikan kembali oleh band indie yang main di film ini juga. Akan tetapi, Sheila On 7 sendiri pun juga ikut berpatisipasi dalam soundtrack film ini.

Sekarang mari kita membahas satu per satu pemainnya. Walapun film ini bisa dibilang kumpulan pemain-pemain lawas dan cukup terkenal, akan tetapi kekuatan karakter mereka masing-masing bisa dibilang cukup kuat. Jadi tidak ada yang terlalu mendominasi di film ini. Akan tetapi, menurut gue secara pribadi, Pak Hengky Solaimanlah adalah tolok ukur film ini. Karena kalau tidak ada peran beliau mungkin cerita ini tidak akan menemukan suatu konflik antara Menuk, Soleh, Hendra, Surya, dan Rika. Revalina disini bermain sebagai ibu yang pekerja keras dan tegar.

Di film ini, Endhita bisa dibilang mampu memainkan emosi penonton di aktingnya kali ini. Reza Rahadian tetap menjadi ciri khasnya yaitu aktor yang selalu totalitas dalam berakting. Rio dewanto bisa dibilang cukup baru di dunia perfilman tapi dia mampu bersanding dengan pemain-pemain lawas lainnya. Yang membuat film ini sedikit terhibur adalah dari akting Agus Kuncoro dengan logat kepolosannya dan sikap yang diambilnya ketika karakter Surya mengambil peran sebagai Yesus di suatu pementasan Drama Paskah. Cameo Glenn Fredly disini pun tidak kalah menarik, karena jika penonton menontonnya dengan stress pasti akan ikut terbawa emosi ketika Glenn melakukan pertentangan di film ini.

Berbagai pesan atau “quotes” dari ayat-ayat ketiga agama di film ini bisa dijadikan pedoman untuk untuk kita lakukan di kehidupan sehari-hari. Walaupun di awal film ini kita dijamu oleh peran-peran yangada tanpa penjelasan yang jelas, namun demikian ketika di pertengahan film kita dapat tahu satu per satu latar belakang masing-masing pemain ini. Film Tanda Tanya bukan film yang menggurui atau mengkhotbahi atau hingga mengubah iman penonton. Dengan film Tanda Tanya inilah, penonton diajak bercermin apakah kita bisa melakukan seperti yang dilakukan peran-peran di film ini? Atau mungkin kita berada di salah satu diantara mereka? Selamat menonton. :cheers:

?/5
Trailer:

4 comments:

  1. Harus nonton Kayanya,...
    Penasaran ma endingnya kaya apa,...

    ReplyDelete
  2. @JuNiOr_be_BesT wajib ditonton.. Have a fun! Btw makasih sudah main ke blog saya

    ReplyDelete
  3. @Irfandi Rusdiansyah setuju! Film ini wajib ditonton! Btw thx ya sdh main2 k blog saya.

    ReplyDelete