Jumat, 11 Februari 2011

Rindu Purnama


Rindu Purnama adalah sebuah film yang dibalik penyajiannya seorang Sineas yang sudah senior, yaitu Mathias Muchus. Siapa yang tidak kenal sosok beliau yang hingga saat ini sudah puluhan film-film Indonesia yang dia mainkan. Akan tetapi, di film ini beliau tidak ikut berperan dalam memerankan sebuah tokoh, namun beliau berperan sebagai Sutradara dan Penulis Naskah. Penulis naskah film ini juga dibantu oleh penulis yang mampu membuat karya sebelumnya sukses di perfilman Indonesia (Garuda di Dadaku), yaitu Ifa Isfansyah. Dengan adanya kerjasama diantara mereka berdua sudah dipastikan banyak orang yang memiliki ekspetasi yang tinggi terhadap film ini.

Cerita berawal dari salah satu anak jalanan yang bernama, Rindu, yang mengalami kecelakaan dan mengakibatkan dirinya menderita amnesia. Pelaku penabrak Rindu tidak kabur begitu saja, kemudian anak itu diurus oleh supir penabrak yang bernama Pak Pur. Majikan Pak Pur yang bernama Surya tidak begitu menyukai keberadaan anak-anak di rumahnya, khususnya Rindu. Rindu pun akhirnya mengetahui bahwa Surya sangat tidak menyukai keberadaannya, sehingga pada suatu hari Rindu memutuskan kabur dari rumah Pak Surya dengan keadaan masih amnesia.

Entah mengapa Surya merasa bersalah ketika Rindu kabur dari kediamannya. Surya pun memutuskan mencari Rindu dengan beberapa lukisan-lukisan Rindu yang menurut Surya dapat dijadikan petunjuk. Ketika melakukan pencarian kepada Rindu, tidak sengaja Surya berjumpa dengan seorang gadis yang bernama, Sarah, yang dimana dia adalah pengasuh anak-anak jalanan, salah satunya adalah Rindu. Lama kelamaan, Surya pun semakin dekat dan erat dengan Sarah. Usut punya usut, ternyata ditengah kedekatan mereka berdua ada yang cemburu. Monik, seorang anak direktur tempat Surya bekerja, yang baru pulang menyelesaikan S2nya di Amerika memendam rasa cinta kepada Surya. Namun hal itu, tidak ditanggapi oleh Surya, karena dia tidak ada memiliki rasa suka kepada Monik. Setelah tau bahwa Surya dan Sarah semakin akrab, Monik memiliki rencana busuk untuk memisahkan mereka.

Kalau boleh jujur, saya baru mengerti maksud judul film ini Rindu Purnama ketika selesai menonton film ini. Pendapat saya selama ini tentang film ini melalui trailer, sepertinya agak menyimpang dengan praduga saya. Dari awal cerita hingga akhir cerita, saya begitu nyaman dengan alur dan naskah kuat yang disajikan film ini. Selain cerita, pengambilan musik arr dari Aksan Sjuman dan Titi Sjuman, yang mengangkat budaya kita dengan balutan modern. Pengambilan gambar film ini juga berkualitas, baik di suasana apapun kualitasnya tetap terjaga.

Disini juga banyak pemain-pemain baru, yang konon kabarnya merupakan anak jalanan asli yang “dipungut” Mathias Muchus di daerah Tj Priok. Akting, penjiwaan dari anak-anak di film ini sangat layak diancungi jempol, karena mereka semua mampu menyamai akting para senior yang lebih berpengalaman di bidang akting. Saya cukup tersentuh dengan peran Akbar yang membuat saya “kagum” dengan ekspresi mukanya yang sangat menjiwai. Begitu pula dengan Rindu, penjiwaan karakternya mampu membuat saya “ditampar”. Di beberapa scene film ini saya hampir menitikkan air mata karena faktor-faktor tadi yang telah disebutkan di atas. Film bertema keluarga ini sepertinya akan membanjiri Nominasi-nominasi di ajang bergengsi Piala Perfilman Indonesia pada tahun 2011/2012 kelak.

Namun demikian film ini juga memiliki sedikit kekurangan, yaitu adanya ketidakmaksimalnya ekspresi yang ditampilkan oleh Surya, Monik dan Sarah. Pencampuran emosi dan rasio mereka ketika berakting, terkadang tidak pas ekspresinya, jadi terkesan datar saja. Akan tetapi, penjiwaan ketiga pemain tersebut bisa dikatakan cukup baik dibandingkan film masing-masing mereka dahulunya. Daya tarik film ini yang dapat dijadikan poin-poin plus adalah pengambilan gambar yang memanjakan mata, serta adanya budaya yang diangkat disini (tarian dan musik). Overall, film bertema keluarga ini, layak menjadi tontonan pada saat Hari Raya Kasih Sayang nanti bersama keluarga atau pasangan anda. Nikmati dan petik pesan yang dapat diambil di film ini. Congratz Mas Mathias Muchus buat debut pertamanya sebagai Sutradara ! Ditunggu karya berikutnya.

4/5

1 komentar: