Kamis, 17 Februari 2011

Jenglot Pantai Selatan (2011) Premier di FX Tgl 16 Februari 2010

Huffff, mungkin ekspresi awal yang tepat untuk sebelum mereview dan sesudah menonton film ini. Sebagai pecinta film horror pasti nama Rizal Mantovabni tidak asing di teling kita. Dia selalu sukses menciptakan karya-karya film horror yang beda dan jumlah penontonnya pun tidak sedikit. Bahkan sampai meraih penghargaan Film-Film Festival Luar Negeri. Sebut saja, Kuldesak, Jelangkung (The Uninvited), Kuntilanak, Kuntilanak 3, Kesurupan, Air Terjun Pengantin, dan terakhir Taring. Untuk penghargaan film Festival sendiri diraih oleh Kuldesak di ajang Singapore International Film Festival 1999 sebagai nominasi Silver Screen Award, dan juga sebagai sutrada terbaik di ajang Bali International Film untuk film Kuntilanak 3. Bisa dibilang, karya Rizal selalu membawa suasana horror mistis negeri kita sendiri. Itu juga bisa dibilang sebagai sosok karakter bapak sutradara ini. Dan setiap yang dikerjakan beliau biasanya tanpa adegan-adegan berbau seks dan seksi. Tapi sayangnya, ketika sedang ajang adu jotos persaingan film horror berbau seks belakangan ini, sepertinya beliau mulai tertarik mengikuti arus. Contohnya, film Air Terjun Pengantin (2009) adalah film pertama beliau yang bisa dibilang dipenuhi wanita-wanita bikini, lalu dilanjutkan oleh Taring (2010) yang bisa dibilang juga sama dengan ATP walau hanya beda tempat dan lokasi saja.

Di awal tahun 2011, Rizal sudah mempublish film drama segar yang penuh komedi dengan judul Cewek Gokil. Setelah “Cewek Gokil”, beliau merilis karyanya di bulan kedua ini yaitu Jenglot Pantai Selatan. Untuk judul, mungkin agak asing di telinga kita yang belum mengetahuinya. Jujur saja nih, gue saja pas mau nonton film ini tidak tahu apa itu Jenglot. Alhasil sebelum nonton, saya mencari informasi terlebih dahulu melalui kakek google di telepon genggam saya. Langsung saja yuk kita mereview film ini, daripada kebanyakan curhat. Hahaha

Jadi begini ceritanya, alkisah ada 4 orang anak muda yang mau Teqila Party di Pantai Selatan. Mereka itu Randy, Temmy, Denisa dan Josh. Sebenarnya ditambah satu lagi, Kemal, tapi dia diam-diam ngumpet di bagasi mobil kakaknya si Randy, karena dia belum 21 tahun (alasan kakaknya). Setiba disana, mereka pun begitu have a fun dengan suasana pantai yang bisa dibilang hamper 95% pada berbikini semua. Apalagi dengan Kemal yang begitu semangat untuk dating ke sini hanya untuk melihat cewe-cewe “seksi” dan “cantik”. Perlahan demi perlahan, aksi makhluk aneh bin ajaib yang bernama Jenglot pun mengusik keberadaan mereka. Jenglot ini konon kabarnya disebut mahkluk yang haus akan darah dan daging. Jadi, bagi kalian yang punya darah dan daging harap waspada karena siapa tahu disekitar anda jenglot siap menghisapnya. Jenglot pun dibilang sebagai penunggu Pantai Selatan, yang dapat mencengkram siapa pun manusia yang mencemarkan pantai tersebut. Akankah mereka bisa terlepas dari gangguan si Jenglot? Dan siapakah Jenglot itu sebenarnya? Mengapa dia penuh haus darah dan daging?

Awal adegan film ini bisa dibilang horrornya dapat, karena begitu gelap dan mistis. Tapi setelah diperlihatkan muka si jenglot tersebut, entah kenapa bulu kuduk saya yang tadinya melihat si dukun sakti tersebut tiba-tiba hilang lenyap seketika melihat si Jenglot yang penuh aneh dan menjijikan. Mungkin pendeskripsian Jenglot itu seperti ini = hidung boneka Chuky+muka pinokio yg hadir d ATP, kuntilanak yg hadir di Mati Suri terus tinggal ditambahin ekor yang serupa dengan putri duyung yang berambut. Jadinya saya pun berharap bisa cepat-cepat keluar dari bioskop ini. Eit tunggu dulu,, ternyata setelah kurang lebih 10 menit adegan mistis di awal film ini, penonton disuguhkan berbagai adegan-adegan “segar”di mata. Seperti 2 film Rizal sebelum ini, yang selalu menghadirkan scene yang begitu sangat lama untuk “adegan” tersebut di awal filmnya.

Seperti yang tadi saya bilang, bahwa saya begitu jijik dengan muka si jenglot dan ditambah lagi kehadiran dia yang selalu muncul di tengah wanita-wanita seksi pun semakin membuat saya geram dan iri terhadap jenglot. Rasa mistis yang dibawakan film ini mulai terusik karena aksi kenarsisan si jenglot di film ini. Untung saja ada aksi sang peramal sejagad tanah air kita disini, ya jadi sedikit terbawa horrornya. Terus bagaimana aksi dengan para pemainnya? Standart bahkan ada yang dibawah standart. Akting mereka hanya mengandalkan suara yang kencang, tanpa penjiwaan yang mendalam dari diri mereka. Terbukti sih dari pengakuan salah satu artis ketika melakukan wawancara yang main disini, ketika casting hanya disuruh teriak-teriak saja. Sungguh teriakan yang tidak penuh arti. Buat kuping gue sakit kaleee teriakan suara kalian !!!!!!

Untuk dari daftar-daftar nama pemain yang muncul di credit awal, sepertinya saya tertarik dengan satu nama, yaitu Celine Evangelista. Pemilik muka cantik dan blesteran ini sayangnya hanya ada di 1-2 scene saja dan itupun sepertinya tidak ada sangkut pautnya dengan jalan cerita awal film ini yaitu Teqila Party. Walaupun Cuma 1-2 scene saja, tapi saya cukup puas melihat gaya bahasa dan akting jeng jelita tersebut. Jenglot bisa dikatakan “ahli” dalam memilih mangsa, karena hamper dari semua korban yang dia mangsa adalah wanita berbikini dan seksi. Dan yang paling ajaib dan aneh adalah ketika dia memangsa salah satu teman Temmy yang di Villa yang sedang mandi (mirip LunMay loooh), padahal belum lama dia masih meng”ganggu” mangsa lainnya di tempat berbeda. Selain jelek dan menjijikan, ternyata jenglot punya keahlian dalam menghilang atau punya ilmu berpindah tempat dengan cepat -_______-“!.

Banyak banget adegan-adegan yang bisa dibilang tidak penting disini. Teriakan-teriakan para pemain pendukung yang berada di pantai, adegan sok macho dari penjaga pantainya, jenglot yang tidak apada tempatnya, dan yang paling aneh adalah adegan cewe mandi tengah malam di pantai pakai shower. Buset dah mbak, ngapain mandi tengah malam terus mainan pasir juga pula? Kata nenek, nanti masuk angin dan rematik loh...

Untuk alur film ini bisa dibilang hancur, karena asal comot saja dan adanya ketidaksinambungan antar satu scene dengan scene lainnya. Oh iya yang paling aneh dan bikin saya geregetan adalah ketika Randy dan Temmy mencari teman-temannya yang menghilang secara mendadak, mereka melupakan teman Villa mereka sendiri. Kasian banget tuh cewek sampai jadi kaku gitu badannya karna gak ada yang tau kematiaannya. Untuk durasi yang dibilang tidak sampai 90 menit, film ini bisa dibilang cukup sampah karena hanya mengandalkan keindahan tubuh dan promosi bikini/langrine saja dengan ukuran yang berbeda-beda tentunya. Untuk cerita, film ini hanya sedikit menuang kisah si Jenglot tersebut. Menurut kabar dari sang sutradara sendiri, film ini belum ada rencana pembuatan sekuelnya tapi kalau dilihat akhir film ini sih bau-baunya aka nada sekuelnya. Tapi itu juga kembali dari apresiasi penonton terhadapa film ini, begitu juga kata beliau. Yak semoga saja sekuelnya dari awal hingga akhir lebih indah dari film ini. Ditunggu Jenglot Gayus berikutnya……

1/5

1 komentar: