Minggu, 26 Februari 2017

Review Gunung Kawi (2017)

Walaupun hanya mendapatkan 70ribuan penonton, Dilarang Masuk yang tayang di bulan Maret 2016 ternyata mampu membuat sekuel di tahun 2017 dengan judul berbeda, Gunung Kawi. Dengan deretan pemain utama yang sama Gunung Kawi walaupun bukan berjudul Dilarang Masuk 2 tapi inti ceritanya masih sama yaitu dilarang masuk ke tempat baru. Secara keseluruhan film ini horor komedi. Sisi horor yang diberikan Nayato di film ini tidaklah berbeda seperti film-filmnya sebelum ini. Untuk sisi komedinya ada bagian yang lucu dari lawakan Jordi Onsu di Gunung Kawi ini. Walaupun memang terkesan basi, tapi adegan rebutan indomie dan adegan Jordi ngelawak bahasa Thailand masih lucu di film ini.

Sampai saat ini angka penonton Gunung Kawi sekitar 65 ribu, semoga walaupun angkanya nyaris sama dengan film sebelumnya, semoga cukup sudah seri dari film horor komedi ini.

1,5/5

Review Pertaruhan (2017)

Setelah 4 tahun vakum tidak memproduksi sebuah film, IFI Sinema kembali memproduksi film Indonesia di tahun 2017 dengan judul Pertaruhan. Sekilas filmnya memang ala-ala Serigala Terakhir yang juga diproduksi IFI Sinema di tahun 2009. Akan tetapi, film Pertaruhan lebih ke keakraban 4 saudara lelaki yang tinggal dengan ayah tercinta. 4 karakter yang diperankan oleh Adipati Dolken, Aliando Syarief, Jefri Nichol, dan Giulio Parengkuan. 2 nama terakhir Jefri Nichol dan Giulio Parengkuan memang nama baru di dunia perfilman Indonesia, jadi kalau masih kurang diberi banyak porsinya untuk cerita hal yang wajar saja.

Selain kedua karakter tersebut, Widika Sidmore juga terbilang perdana di perfilman Indonesia. Mengawali karir sebagai model, Widika yang memiliki hidung mancung ini entah kenapa beberapa pengambilan gambarnya terlihat tidak menarik, padahal foto-fotonya di Instagram jauh lebih menarik bahkan cantik. Aliando Syarief di Pertaruhan bisa dibilang karakter yang cukup mencuri perhatian dibandingkan lainnya. Sebagai film kedua, Aliando terlihat tidak kaku lagi di film ini. Suaranya yang dibuat cempreng dan ada sosok hero-brothers untuk kedua adiknya bolehlah untuk kekuatan karakternya di Pertaruhan. Premis film Pertaruhan sebenarnya menarik, akan tetapi eksekusi naskah yang dibuat kurang begitu luar biasa untuk membuat penonton empati terhadap film ini. Beberapa adegan yang harusnya bisa mencuri hati penonton, namun terkesan hambar begitu saja pada akhirnya. Ya tidaklah heran film ini sendiri pun kurang berhasil mencuri hati penonton, terbukti kurang dari 50 ribu yang telah menonton film Pertaruhan.

2/5

Jumat, 24 Februari 2017

Review Jackie (2016)

Biasanya cerita dari seorang istri dari suami dengan latar belakang istimewa masih jarang untuk difilmkan. Di tahun 2016, Jackie salah satu film yang mencuri perhatian yang menceritakan kisah istri dari mantan Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy. Kekuatan Natalie Portman sebagai Jackie memang harus diakui sangatlah kuat. Tidak mengherankan sutradara film ini pun hanya mau Pablo Larraín hanya mau menyutradarai jika Natalie menjadi Jackienya.

Konsep film ini dikarenakan berdasarkan kisah nyata, jadi beberapa adegan ada diambil dari rekaman dahulu sehingga penonton bisa melihat adegan asli Jackie di masa lalu dengan yang diperankan Natalie. Selain itu, konsepnya di film ini yaitu Jackie duduk bercerita kepada seorang lelaki yang sedang mewawancarai dirinya. Jadi bisa kebayang dong, seperti apa filmnya. Selain akting piawai Natalie di film ini, kekuatan kostum hingga make-up juga menjadi poin plus. Dari film Jackie, penonton diajak untuk melihat seorang istri dari suami Presiden juga manusia biasa yang harus menemani suaminya di perjalanan karirnya, dan tidak lupa juga untuk mengurusi dan mengecek pertumbuhan anak-anaknya. Sungguh sebuah film yang inspiratif.

3,5/5

Rabu, 22 Februari 2017

Review Silence

Kalau boleh jujur, tahu film ini bulan Desember kemarin. Dan setelah lihat trailernya semakin penasaran ini menonton film ini. Apalagi setelah melihat akting Andrew Garfield di Hacksaw Ridge yang begitu takjub jadi gak ada alasan untuk menontonnya. Setelah menonton film Silence di Cathay Singapore, saya merasa cukup puas dan takjub dengan Andrew Garfield yang semakin bagus aktingnya.

Walaupun Andrew terlihat bagus di Silence, akan tetapi akting dari mantan Emma Stone ini terlihat lebih mumpuni di Hacksaw Ridge. Tidak heran juga nominasi sebagai pemain utama pria terbaik di ajang Oscar 2017 berhasil dia kantongi. Harus diakui filmnya memang agak lambat namun di 1 jam terakhir momen-momen dahsyat hingga #wtfmoment akan diberikan film ini. Jadi bersiaplah untuk histeris dengan adegan tersebut. Liam Neeson dan Adam Driver pun tidak kalah ciamik dengan Andrew. Ya bisa dibilang para aktor di film ini memang terlihat all out dalam beraktingnya. Film dari karya Martin Scorsese ini nampaknya wajib menjadi list penggemar karya beliau, karena sebuah film yang akan menggugah hati para penonton.

4/5

Selasa, 21 Februari 2017

Review Fifty Shades Darker: Sekuel dengan bumbu yang lebih "pedas"

Setelah mencuri perhatian dan pastinya mendulang kesuksesan di film sebelumnya Fifty Shades of Grey kembali dengan sekuel yang berjudul Fifty Shades Darker. Banyak yang bilang film Fifty Shades Darker sekuel yang buruk, tapi gue sangat menikmati film ini. Bahkan lebih enak ditonton daripada pertama. Film pertama terlihat masih mencoba memperkenalkan para tokoh di filmnya dengan komplikasi masalah di dalamnya. Justru ini baru sekuel, ada sinkronisasi dengan pertama. Gairah Anastasia untuk menerima "gilanya" Grey terlihat terlampiaskan dengan baik.

Sutradara Fifty Shades Darker, James Foley, pernah buat film Perfect Stranger, Fear, After Dark My Sweet, dan Reckless. Jika melihat pengalaman beliau, nampaknya karya 3 terakhir yang disebut tadi setipe ya dengan Fifty Shades ini? Walaupun tidak Dark seperti judulnya, tapi usaha untuk mencoba thriller nampaknya patut dihargai. Buat kamu yang agak susah mengerti Bahasa Inggris nampaknya jika menonton Fifty Shades Darker kamu tidak akan kewalahan menontonnya. Dialog di film ini sangat gampang dipahami bahkan seperti FTV dan naskah produksi Screenplay atau Tisa TS. Semoga Fifty Shades Freed yang dijadwalkan tayang 09 Februari 2018 akan menjadi penutup yang manis dan menegangkan untuk Fifty Shades. Oh iya jangan lupa adegan tambahan di tengah credit film.

3,5/5

Senin, 20 Februari 2017

Review Film Surga yang Tak Dirindukan 2: film boros waktu dan tempat.

Setelah menjadi film dengan penonton terbanyak di Tahun 2015, kelanjutan cerita Pras, Arini dan Meiros berlanjut kembali. Kali ini cerita diawali dengan keberangkatan Arini ke Budapest untuk bekerja. Tidak disangka, Arini bertemu dengan Meiros yang sudah lama tidak berjumpa (di film diceritakan terakhir bertemu ketika Meiros menjemput Akbar di rumah Arini). Di Budapest Arini mendadak drop kesehatannya hingga dicek bahwa penyakit lamanya (gue lupa apakah di Surga yang Tak Dirindukan 1 dikasih tau penyakit Arini) kembali kambuh. Drama pun dimulai.

Kelanjutan cerita Surga yang Tak Dirindukan sebenarnya ada pentingnya namun terlihat lokasi yang mengharuskan ke Budapest dengan drama penyakit yang menghidap Arini, nampaknya menjadi sebuah film mubazir yang hanya menghumbar uang saja. Terdengar dengan jelas kok, dokter Syarief yang merupakan dokter yang berada di Budapest bisa bahasa Indonesia dengan jelas. Ngapain coba jauh-jauh shooting di Budapest.

Kehadiran Reza Rahadian nampaknya seperti malaikat penyelamat film ini, chemistry yang dibangun antara Reza dan Raline Shah di film Surga yang Tak Dirindukan 2 terlihat bagus. Adegan Raline dengan Fedi Nuril juga tidak kalah bagus ketika Fedi kelaparan malam hari. Pemain pendukung terlihat biasa bahkan kehadiran mereka semakin memperkuat bahwa film ini mengambil lokasi di Budapest dari keuntungan di film sebelumnya. Jalan-jalan sambil kerja alias shooting. #wtfmoment

Akhir cerita dari film ini cukup sensasional. Sudah jauh-jauh ke Budapest akhirnya pun seperti tidak menghargai namanya proses. Sebuah film yang boros tempat dan waktu selama 122 menit sehingga mengorbankan namanya proses kehidupan.

1,5/5

Minggu, 19 Februari 2017

Review Film Indonesia The Promise

Setelah tayang di Balinale Film Festival 2016, akhirnya tayang juga film The Promise di bioskop di bulan kedua tahun 2017. Film ini hampir mirip dengan film horor bertemakan radio sebelumnya namun bedanya penyiar di film ini mati. Bukan bermaksud spoiler, akan tetapi memang itu adanya ada di sinopsis. Teka-teki siapa pembunuhnya sebenarnya bisa lebih menarik jika para pemainnya kelihatan lebih meyakinkan.

Mitha dan Dara The Virgin bukanlah pertama kali sebagai bintang utama di sebuah film, namun kehadiran mereka di film ini nampaknya masih meraba-raba, tidak tau kekuatan karakternya seperti apa. Akhir kata, The Promise sebuah cerita horor yang kurang memberikan kekuatan karakter untuk pemainnya.

1,5/5

Review Boeven Digoel

Film daerah asal Papua ini telah meraih penghargaan di Piala Maya 2015. Namun disaat itu belum ada nama Christine Hakim dan JFlow (Joshua Matulessy sebagai pengisi film ini, demikian juga dengan judul yang berbeda dibandingkan saat ini, Silet di Belantara Digoel Papua.

Untuk sebuah film daerah yang berasal dari kisah nyata ini terlihat cukup enak untuk ditonton. Dengan premis menarik tentang proses operasi caesar menggunakan pisau saja, bisa jadi ilmu baru jika di Papua dahulu belum begitu higienis. JFlow cukup stabil ketika berperan sebagai seorang dokter di film ini. Lain halnya dengan artis senior Christine Hakim yang terlihat hanya tempelan saja.

Rabu, 08 Februari 2017

Review Demi Cinta

Kurang lebih 30 ribu penonton telah diraih Demi Cinta. Angka segitu bisa dibilang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan genre serupa yang pernah MNC Pictures buat yaitu Skakmat. Mungkin dikarenakan faktor pemain terkenal seperti Tora Sudiro, Ricky Harun, dan Titi Kamal. Dari segi cerita, film Demi Cinta terlihat sederhana. Namun sayangnya kesederhanaannya itu tidak membekas ke penonton. Sisi humor yang diberikan pun terasa begitu mentah dan garing. Semoga film Demi Cinta bukan awal yang buruk untuk MNC Pictures di tahun 2017.

2/5