Senin, 26 Juni 2017

Review Jailangkung: tingkat keseraman harus ditukar dengan popularitas pemain


Dibuatnya film Jailangkung dengan menggandeng 2 sutradara yang dahulunya membuat film Jelangkung di tahun 2001, Rizal Mantovani dan Jose Poernomo, nampaknya seperti main-main. Bagaimana tidak, eksistensi dan popularitas kedua pemain utama yang sedang naik daun dan setidaknya mampu membuktikan film terakhir mereka bisa mengundang lebih dari 500 ribu penonton berbondong-bondong ke bioskop. Siapa lagi kalau bukan Jefri Nichol dan Amanda Rawles. Tingkat keraguan dibawah naungan PH Screenplay yang notabene selalu membiarkan para pemainnya berdialog dengan puitis tanpa makna yang cenderung bikin penonton eneg semakin terasa was-wasnya. Keraguan terhadap film ini pun terbukti dari penulis naskah film ini yaitu Baskoro Adi.

Film Jailangkung jelas berbeda dan tidak ada sangkut pautnya cerita dengan ketiga sekuel Jelangkung sebelumnya. Film Jailangkung ini bercerita tentang Ferdi, duda 3 anak, yang mengalami mati suri, dan karena rasa ingin tahu terhadap rumah, tempat ditemukannya Ferdi, sang ayah, Bella pun sebagai anak kedua ingin menolong ayahnya. Ya namanya juga cerita, tidaklah lengkap jika ada seorang pahlawan di dalamnya. Entah ada angin apa, Bella tiba-tiba masuk ke dalam suatu ruangan ketika Rama sedang presentasi mengenai kasus yang mirip dengan ayahnya saat ini. Bella pun tanpa basa basi langsung berkenalan dan meminta tolong Rama untuk memecahkan persoalan keluarganya.

Keindahan artistik dari Jailangkung patut diancungi jempol, semua bagian untuk menghidupkan suasana horor dan menegangkan berhasil dilakukan Rizal Mantovani dan Jose Poernomo. Diantara para pemain Jailangkung yang kelihatan porsinya seimbang dengan kekuatan akting mereka masing-masing, Hanna Al Rashid di film ini bisa dibilang paling cukup baik akting dan karakter yang dibawakannya. Namun sayangnya pujian terhadap film ini hanya sampai di situ saja. Agak cukup disayangkan, nyinden yang dilakukan aktor Butet hanya sekedar di scene dia saja. Berharap ada scene sinden selanjutnya ketika Rama membantu keluarga Bapak Ferdi. Keraguan demi keraguan di awal nampaknya sudah terbukti setelah menonton film ini. Walaupun ada campur tangan Ve Handjo sebagai supervisi naskah, nampaknya tidak berhasil membuat saya terpukau dengan cerita Jailangkung ini. Dialog-dialog sampah antara Amanda Rawles dan Jefri Nichol di Jailangkung harusnya bisa disesuaikan dengan genrenya, bukan disesuaikan dengan PH yang membiayai produksi film ini.

*suasana lagi di rumah tua, Bella, Rama dan Angel lagi asyik menonton video-video milik Ayah Ferdi*
Rama: "Coba cari nomor 44"
Bella:" ini... "
Rama: "Kok kosong?" 
Bella: "Terus di mana?" 
Rama: "Berarti masih ada di kamera"
Bella:" Terus di mana kameranya?"

Itu situasinya Rama sudah mau sukarela membantu, kok malah dia ditanya? Harusnya dikurangi dialog bawel Bella, ini bukan film horor kedrama-dramaan tapi ini buatlah film drama menjadi sebuah horor yang menakuti penonton.

*suasana di Rumah Sakit*
Bella: "Kak Angel pulang aja, sudah saatnya aku yang jagain papa. Biar aku di rumah sakit sama Rama. Aku sudah nyaman sama dia. Kak angel pulang deh, mandi"

Mungkin maksud bella dengan dialognya masuk akal, karena peduli dengan kakaknya Angel. Tapi cara pengucapan Amanda terhadap dialog ini yang terbatah-batah mengakibatkan salah arti dan cenderung Amanda menggurui kakaknya. Agak aneh sih sebenarnya ketika Bella baru bertemu tatap muka dengan Rama dan harus banget ya dia mengungkapkan sudah nyaman dengan Rama?

Buat kamu yang memang dahulunya penggemar Jelangkung, rasanya saya dengan berat hati harus bilang perbedaan yang tidak akan kamu temui di film Jailangkung. Pertama tidak adanya soundtrack dari band terkenal di film ini, jika dahulu ada Base Jam ataupun Armand Maulana, kini hampa dan kosong di Jailangkung. Kedua, di Jailangkung kelihatan banget para pemainnya sok tahu dan tahu-tahu tersedia semuanya di lokasi sebagai contoh mobil dan helikopter. Jika di Jelangkung ada interaksi dengan warga penduduk maka kamu tidak akan menemukan di Jailangkung. Ya terakhir paling notice sih di Jailangkung ini lebih ke kisah 3 cewek dan 2 cowok, kalau di Jelangkung 1 cewek dan 3 cowok.

1,5/5

Trailer:

Minggu, 12 Maret 2017

Review Rings (2017)

Review John Wick 2 (2017)

Review Man Down (2016)

Review Fabricated City (2017)

Setelah sukses di Korea, film Fabricated City akhirnya tayang juga di Indonesia. Dengan bertemakan game dan penuh aksi, film ini mampu membuat adrenaline penonton begitu meningkat. Visual efek yang diberikan film ini bisa dibilang lumayan bagus dan beberapa adegan berasa seperti bermain game online. Para pemain dan karakter yang terdapat di film ini juga oke-oke, sebut saja Ji Chang Wook, Shim Eun Kyung, dan Ahn Jae Hong.

Walaupun film ini menarik dan menghibur, namun jangan cepat puas dengan semuanya. Film ini masih ada kekurangannya, yaitu dari segi naskah. Masih ada plothole yang terdapat dalam naskah, memang sih masih bisa dianulir akan tetapi bukan berarti para kritikus film lainnya tidak akan ngeh dengan hal itu. Mumpung masih tayang di bioskop, Fabricated City bolehlah dicoba ditonton di bioskop seperti CGV Cinemas, Cinemaxx Theater dan Platinum Cineplex.

4/5

Sabtu, 11 Maret 2017

Review Logan (2017)

Film terbaru dari tangan besi dan tajam ini mencuri perhatian penonton. Disamping karena faktor komik Marvell, dan dibintangi Hugh Jackman, pemain cilik Dafne Keen nampaknya paling mencuri perhatian. Bagaimana tidak, kelihaian dia (walaupun menggunakan stunts) dalam berakting ketika menyerang para musuh terlihat nyata.

Ceritanya juga enak ditonton, jadi durasi 130an menit gak akan terasa. Munculnya para mutan regenerasi di film Logan nampaknya menarik namun sayangnya kehebatan mereka satu per satu kurang dieksplor lebih dalam. Mungkin jika ada film lanjutannya, nanti kehebatan mutan regenerasi ini akan dieksplor lebih. Akhir kata Logan sebuah film unsur semi Daddy-Son dengan bumbu kekejaman dalam membasmi musuh.

4/5

Jumat, 10 Maret 2017

Review Generasi Kocak 90an Vs Komika:

I Setelah acara SUCA2 (Stand Up Comedy 2) nampaknya menghadirkan bibit baru langsung untuk perfilman Indonesia. Sebut saja, Arafah Rianti, Afif Xavi dan Anyun Cadel yang langsung diambil K2K Pictures untuk membintangi film Generasi Kocak 90an Vs Komika sebagai peran utama. Ya jelas ini film komedi, namun apakah leluconnya berhasil disalurkan ke penonton? Nampaknya hanya penggemar Stand up Comedy saja yang paham dengan komedi-komedi yang diberikan sepanjang film ini. Saya memang bukan penonton sejati acara ajang pencarian bakat komedi tersebut, namun beberapa kali menonton di TV masih ada yang jauh menghibur dan cerdas komedinya dibandingkan film ini.

Para bintang utama Stand Up Comedy di film ini pun terlihat jayus dan lebih bagus lawakannya di TV. Mungkinkah ini faktor PHnya? Yang lebih gak jelas terlihat dari editing film ini, sungguh sangat acak kadut. Eits tunggu dulu jangan langsung ngejudge kalau film buruk dari awal hingga akhir, setidaknya ada 2 adegan yang membuat saya tertawa puas dari lawakan film ini. Oh iya sekitar 80ribuan penonton telah menonton film ini lho. Artinya mungkin masih ada yang terhibur dengan film ini.

1/5

Minggu, 26 Februari 2017

Review Gunung Kawi (2017)

Walaupun hanya mendapatkan 70ribuan penonton, Dilarang Masuk yang tayang di bulan Maret 2016 ternyata mampu membuat sekuel di tahun 2017 dengan judul berbeda, Gunung Kawi. Dengan deretan pemain utama yang sama Gunung Kawi walaupun bukan berjudul Dilarang Masuk 2 tapi inti ceritanya masih sama yaitu dilarang masuk ke tempat baru. Secara keseluruhan film ini horor komedi. Sisi horor yang diberikan Nayato di film ini tidaklah berbeda seperti film-filmnya sebelum ini. Untuk sisi komedinya ada bagian yang lucu dari lawakan Jordi Onsu di Gunung Kawi ini. Walaupun memang terkesan basi, tapi adegan rebutan indomie dan adegan Jordi ngelawak bahasa Thailand masih lucu di film ini.

Sampai saat ini angka penonton Gunung Kawi sekitar 65 ribu, semoga walaupun angkanya nyaris sama dengan film sebelumnya, semoga cukup sudah seri dari film horor komedi ini.

1,5/5

Review Pertaruhan (2017)

Setelah 4 tahun vakum tidak memproduksi sebuah film, IFI Sinema kembali memproduksi film Indonesia di tahun 2017 dengan judul Pertaruhan. Sekilas filmnya memang ala-ala Serigala Terakhir yang juga diproduksi IFI Sinema di tahun 2009. Akan tetapi, film Pertaruhan lebih ke keakraban 4 saudara lelaki yang tinggal dengan ayah tercinta. 4 karakter yang diperankan oleh Adipati Dolken, Aliando Syarief, Jefri Nichol, dan Giulio Parengkuan. 2 nama terakhir Jefri Nichol dan Giulio Parengkuan memang nama baru di dunia perfilman Indonesia, jadi kalau masih kurang diberi banyak porsinya untuk cerita hal yang wajar saja.

Selain kedua karakter tersebut, Widika Sidmore juga terbilang perdana di perfilman Indonesia. Mengawali karir sebagai model, Widika yang memiliki hidung mancung ini entah kenapa beberapa pengambilan gambarnya terlihat tidak menarik, padahal foto-fotonya di Instagram jauh lebih menarik bahkan cantik. Aliando Syarief di Pertaruhan bisa dibilang karakter yang cukup mencuri perhatian dibandingkan lainnya. Sebagai film kedua, Aliando terlihat tidak kaku lagi di film ini. Suaranya yang dibuat cempreng dan ada sosok hero-brothers untuk kedua adiknya bolehlah untuk kekuatan karakternya di Pertaruhan. Premis film Pertaruhan sebenarnya menarik, akan tetapi eksekusi naskah yang dibuat kurang begitu luar biasa untuk membuat penonton empati terhadap film ini. Beberapa adegan yang harusnya bisa mencuri hati penonton, namun terkesan hambar begitu saja pada akhirnya. Ya tidaklah heran film ini sendiri pun kurang berhasil mencuri hati penonton, terbukti kurang dari 50 ribu yang telah menonton film Pertaruhan.

2/5

Jumat, 24 Februari 2017

Review Jackie (2016)

Biasanya cerita dari seorang istri dari suami dengan latar belakang istimewa masih jarang untuk difilmkan. Di tahun 2016, Jackie salah satu film yang mencuri perhatian yang menceritakan kisah istri dari mantan Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy. Kekuatan Natalie Portman sebagai Jackie memang harus diakui sangatlah kuat. Tidak mengherankan sutradara film ini pun hanya mau Pablo Larraín hanya mau menyutradarai jika Natalie menjadi Jackienya.

Konsep film ini dikarenakan berdasarkan kisah nyata, jadi beberapa adegan ada diambil dari rekaman dahulu sehingga penonton bisa melihat adegan asli Jackie di masa lalu dengan yang diperankan Natalie. Selain itu, konsepnya di film ini yaitu Jackie duduk bercerita kepada seorang lelaki yang sedang mewawancarai dirinya. Jadi bisa kebayang dong, seperti apa filmnya. Selain akting piawai Natalie di film ini, kekuatan kostum hingga make-up juga menjadi poin plus. Dari film Jackie, penonton diajak untuk melihat seorang istri dari suami Presiden juga manusia biasa yang harus menemani suaminya di perjalanan karirnya, dan tidak lupa juga untuk mengurusi dan mengecek pertumbuhan anak-anaknya. Sungguh sebuah film yang inspiratif.

3,5/5

Rabu, 22 Februari 2017

Review Silence

Kalau boleh jujur, tahu film ini bulan Desember kemarin. Dan setelah lihat trailernya semakin penasaran ini menonton film ini. Apalagi setelah melihat akting Andrew Garfield di Hacksaw Ridge yang begitu takjub jadi gak ada alasan untuk menontonnya. Setelah menonton film Silence di Cathay Singapore, saya merasa cukup puas dan takjub dengan Andrew Garfield yang semakin bagus aktingnya.

Walaupun Andrew terlihat bagus di Silence, akan tetapi akting dari mantan Emma Stone ini terlihat lebih mumpuni di Hacksaw Ridge. Tidak heran juga nominasi sebagai pemain utama pria terbaik di ajang Oscar 2017 berhasil dia kantongi. Harus diakui filmnya memang agak lambat namun di 1 jam terakhir momen-momen dahsyat hingga #wtfmoment akan diberikan film ini. Jadi bersiaplah untuk histeris dengan adegan tersebut. Liam Neeson dan Adam Driver pun tidak kalah ciamik dengan Andrew. Ya bisa dibilang para aktor di film ini memang terlihat all out dalam beraktingnya. Film dari karya Martin Scorsese ini nampaknya wajib menjadi list penggemar karya beliau, karena sebuah film yang akan menggugah hati para penonton.

4/5

Selasa, 21 Februari 2017

Review Fifty Shades Darker: Sekuel dengan bumbu yang lebih "pedas"

Setelah mencuri perhatian dan pastinya mendulang kesuksesan di film sebelumnya Fifty Shades of Grey kembali dengan sekuel yang berjudul Fifty Shades Darker. Banyak yang bilang film Fifty Shades Darker sekuel yang buruk, tapi gue sangat menikmati film ini. Bahkan lebih enak ditonton daripada pertama. Film pertama terlihat masih mencoba memperkenalkan para tokoh di filmnya dengan komplikasi masalah di dalamnya. Justru ini baru sekuel, ada sinkronisasi dengan pertama. Gairah Anastasia untuk menerima "gilanya" Grey terlihat terlampiaskan dengan baik.

Sutradara Fifty Shades Darker, James Foley, pernah buat film Perfect Stranger, Fear, After Dark My Sweet, dan Reckless. Jika melihat pengalaman beliau, nampaknya karya 3 terakhir yang disebut tadi setipe ya dengan Fifty Shades ini? Walaupun tidak Dark seperti judulnya, tapi usaha untuk mencoba thriller nampaknya patut dihargai. Buat kamu yang agak susah mengerti Bahasa Inggris nampaknya jika menonton Fifty Shades Darker kamu tidak akan kewalahan menontonnya. Dialog di film ini sangat gampang dipahami bahkan seperti FTV dan naskah produksi Screenplay atau Tisa TS. Semoga Fifty Shades Freed yang dijadwalkan tayang 09 Februari 2018 akan menjadi penutup yang manis dan menegangkan untuk Fifty Shades. Oh iya jangan lupa adegan tambahan di tengah credit film.

3,5/5

Senin, 20 Februari 2017

Review Film Surga yang Tak Dirindukan 2: film boros waktu dan tempat.

Setelah menjadi film dengan penonton terbanyak di Tahun 2015, kelanjutan cerita Pras, Arini dan Meiros berlanjut kembali. Kali ini cerita diawali dengan keberangkatan Arini ke Budapest untuk bekerja. Tidak disangka, Arini bertemu dengan Meiros yang sudah lama tidak berjumpa (di film diceritakan terakhir bertemu ketika Meiros menjemput Akbar di rumah Arini). Di Budapest Arini mendadak drop kesehatannya hingga dicek bahwa penyakit lamanya (gue lupa apakah di Surga yang Tak Dirindukan 1 dikasih tau penyakit Arini) kembali kambuh. Drama pun dimulai.

Kelanjutan cerita Surga yang Tak Dirindukan sebenarnya ada pentingnya namun terlihat lokasi yang mengharuskan ke Budapest dengan drama penyakit yang menghidap Arini, nampaknya menjadi sebuah film mubazir yang hanya menghumbar uang saja. Terdengar dengan jelas kok, dokter Syarief yang merupakan dokter yang berada di Budapest bisa bahasa Indonesia dengan jelas. Ngapain coba jauh-jauh shooting di Budapest.

Kehadiran Reza Rahadian nampaknya seperti malaikat penyelamat film ini, chemistry yang dibangun antara Reza dan Raline Shah di film Surga yang Tak Dirindukan 2 terlihat bagus. Adegan Raline dengan Fedi Nuril juga tidak kalah bagus ketika Fedi kelaparan malam hari. Pemain pendukung terlihat biasa bahkan kehadiran mereka semakin memperkuat bahwa film ini mengambil lokasi di Budapest dari keuntungan di film sebelumnya. Jalan-jalan sambil kerja alias shooting. #wtfmoment

Akhir cerita dari film ini cukup sensasional. Sudah jauh-jauh ke Budapest akhirnya pun seperti tidak menghargai namanya proses. Sebuah film yang boros tempat dan waktu selama 122 menit sehingga mengorbankan namanya proses kehidupan.

1,5/5

Minggu, 19 Februari 2017

Review Film Indonesia The Promise

Setelah tayang di Balinale Film Festival 2016, akhirnya tayang juga film The Promise di bioskop di bulan kedua tahun 2017. Film ini hampir mirip dengan film horor bertemakan radio sebelumnya namun bedanya penyiar di film ini mati. Bukan bermaksud spoiler, akan tetapi memang itu adanya ada di sinopsis. Teka-teki siapa pembunuhnya sebenarnya bisa lebih menarik jika para pemainnya kelihatan lebih meyakinkan.

Mitha dan Dara The Virgin bukanlah pertama kali sebagai bintang utama di sebuah film, namun kehadiran mereka di film ini nampaknya masih meraba-raba, tidak tau kekuatan karakternya seperti apa. Akhir kata, The Promise sebuah cerita horor yang kurang memberikan kekuatan karakter untuk pemainnya.

1,5/5

Review Boeven Digoel

Film daerah asal Papua ini telah meraih penghargaan di Piala Maya 2015. Namun disaat itu belum ada nama Christine Hakim dan JFlow (Joshua Matulessy sebagai pengisi film ini, demikian juga dengan judul yang berbeda dibandingkan saat ini, Silet di Belantara Digoel Papua.

Untuk sebuah film daerah yang berasal dari kisah nyata ini terlihat cukup enak untuk ditonton. Dengan premis menarik tentang proses operasi caesar menggunakan pisau saja, bisa jadi ilmu baru jika di Papua dahulu belum begitu higienis. JFlow cukup stabil ketika berperan sebagai seorang dokter di film ini. Lain halnya dengan artis senior Christine Hakim yang terlihat hanya tempelan saja.

Rabu, 08 Februari 2017

Review Demi Cinta

Kurang lebih 30 ribu penonton telah diraih Demi Cinta. Angka segitu bisa dibilang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan genre serupa yang pernah MNC Pictures buat yaitu Skakmat. Mungkin dikarenakan faktor pemain terkenal seperti Tora Sudiro, Ricky Harun, dan Titi Kamal. Dari segi cerita, film Demi Cinta terlihat sederhana. Namun sayangnya kesederhanaannya itu tidak membekas ke penonton. Sisi humor yang diberikan pun terasa begitu mentah dan garing. Semoga film Demi Cinta bukan awal yang buruk untuk MNC Pictures di tahun 2017.

2/5