Postingan Biasa: FILOSOFI KOPI (2015)

Novel atau Cerpen dari Dewi Lestari (Dee) tidak terasa sudah memasuki tahun ketiga untuk diadaptasi ke dalam sebuah layar lebar. Dari Rectoverso, Perahu Kertas 1-2, Madre hingga Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh memiliki daya tarik tersendiri. Buat gue secara pribadi belum ada versi filmnya yang berhasil membuat gue jatuh hati ke salah satu film dari novel atau cerpen beliau tersebut. Di Filosofi Kopi nampaknya agak sedikit berbeda dibandingkan dengan karya-karya beliau sebelumnya.


Dari segi penceritaan dari penulis naskah Jenny Jusuf, Filosofi Kopi secara keseluruhan menonjolkan bagaimana kekuatan persahabatan antara Ben dan Jody dengan balutan ego yang tinggi kedua tokoh untuk membangun usaha kedai kopi mereka. Tidak hanya kekuatan persahabatan saja yang ditonjolkan dari film ini, akan tetapi sisi cerita ayah dari masing-masing kedua tokoh pun ikut tercampur dalam persahabatan mereka. Dialog-dialog yang begitu lepas diucapkan para pemain seperti Rio Dewanto dan Chicco Jerikho membuat film ini begitu terhibur selama 120 menit.


Melalui film ini, Angga Dwimas Sasongko mencoba praktik secara langsung bagaimana menyeduh secangkir kopi yaitu dengan meracik dan mengaduk perasaan penonton secara stabil. Tata musik yang indah dan lirik lagu yang menyesuaikan adegan cerita pun tidak ketinggalan menjadi poin plus dari film ini. Di awal film sempat merasa terganggu dengan tidak konsistennya pergerakan kamera, untungnya itu tidak berlangsung lama. Rio Dewanto yang biasanya berakting begitu-begitu saja di setiap filmnya, melalui film Filosofi Kopi ada sisi beda dan lepas dari diri Rio. Semoga bisa dipertahankan ke depannya. Sebagai seorang Barista, Chicco terlihat menghipnotis penonton dengan kecepatan, keuletan dan ketangkasan dalam meracik kopi dari pelanggan. Tidak ketinggalan hadirnya si manis Julie Estelle, sebagai tokoh El, yang konon kabarnya tidak ada dalam novelnya, tetap menonjol diantara kedua para aktor utama.


Filosofi Kopi sudah tayang di bioskop, ayo ditonton segera karena kapanlagi kamu akan mendapatkan tontonan terbaik dari sebuah karya tulisan cerpen Dewi Lestari dengan arahan Sutradara Angga Dwimas Sasongko. Awal yang baik buat penulis naskah Jenny Jusuf, semoga ke depannya dapat stabil dan konsisten. Tidak ketinggalan chemistry para pemain yang begitu kuat, serta gaya pengambilan porn food ke kopi pun menarik untuk ditonton, sehingga menimbulkan keinginan meracik sendiri secangkir kopi setelah menonton film ini.


3,5/5

Komentar