Thursday, August 1, 2013

Review: Moga Bunda Disayang Allah (2013)

Kurang lebih sudah 10 novel yang diadaptasi menjadi sebuah film di tahun 2013, jika ditambah berarti Moga Bunda Disayang Allah film kesebelas yang diadaptasi dari sebuah novel. Menurut kabar yang beredar novel ini Best Seller dan siap dikemas oleh gaya penyutradaraan dari Jose Poernomo. Penulis novel film ini, Tere Liye, bukanlah novel pertama beliau yang dibuat menjadi sebuah film. Sebelumnya sudah ada Hafalan Shalat Delisa (2011), dan Bidadari Bidadari Surga (2012), sungguh prestasi yang konsisten untuk beliau karena bisa memberikan hasil novelnya setahun sekali untuk difilmkan.

Nama dari Jose Poernomo sendiri 1 tahun terakhir ini juga tidak kalah produktif dengan Tere karena sudah 3 film yang beliau sutradarain dan 1 film yang beliau produserin. Di acara malam Gala Premiere Moga Bunda Disayang Allah yang diadakan pada tanggal 26 Juli 2013 di eX XXI, mengatakan bahwa film ini adalah film termahal beliau sepanjang filmographynya. Beliau menyarankan kepada produser agar tidak tanggung-tanggung untuk membuat sesuatu yang wah jika memang memberikan hasil yang maksimal pula kepada film ini. Dan Jose juga menekankan bahwa film ini memang drama sekali dengan sinematografi perpindahan 3 warna di setiap pergantian adegannya.


Nampaknya saya sebagai yang sudah menonton film dari adaptasi novel Tere Liye harus mengatakan bahwa semua novelnya memiliki cerita yang absurd dan terlalu banyak yang mustahil jika harus dibuat menjadi sebuah film. Cerita Moga Bunda Disayang Allah yang kebetulan tidak saya baca novelnya terlihat begitu absurd dengan ketidaklogisan cerita di sepanjang film. Entah apakah ini sudah diperbaharui oleh penulis skenario 308, Riheam Junianti? Dari segi judul sudah jelas bahwa film ini ingin mengedepankan tokoh utama adalah seorang Bunda. Pada kenyataan sepanjang menonton film ini porsi dari Bunda yang diperankan Alya Rohali tidak begitu banyak, bahkan kalah tenar dibandingkan dengan kehadiran Shandy Aulia yang tidak banyak scene tapi sekali muncul memberi kesegaran terhadap film ini.

Yang menarik sepanjang film ini yaitu cuma karakter Melati yang diperankan oleh Chantika Zahra. Adek manis ini terlihat begitu kuat memainkan peran sebagai anak yang terbelakang walaupun sebenarnya dia hanya menderita penyakit tuli dan buta. Agak aneh sih sebenarnya eksekusi Melati menjadi seorang yang terbelakang dan terlihat seperti anak autis. Padahal latar belakang penyebab Melati mengalami kebutaan dan tuli itu masih bisa diatasi dengan baik, secara rumah mewah bak istana yang hampir sebanding dengan asrama di film Harry Potter ini masa tidak mampu menyembuhkan anak semata wayangnya daripada mengurus pabrik sampai meeting di luar negri berminggu-minggu.

Kehadiran Melly Goeslaw yang mengisi soundtrack film ini sedikit mengingatkan lagunya ketika mendengar soundtrack film Habibie Ainun (2012). Sinematografi dengan perpindahan 3 warna di setiap adegan nampaknya agak cukup mengganggu ketika di awal film akan tetapi mulai terbiasa karena templatenya sampai akhir film. Akhir kata, film Moga Bunda Disayang Allah bukanlah sebuah film yang sempurna untuk menghibur penonton, atau menguras emosi mendalam di sepanjang film, namun untuk mengapresiasi film di Lebaran tahun 2013, film ini bolehlah untuk ditonton sebagai pilihan terakhir setelah menonton film lainnya yang tayang di bioskop pada tanggal 2 Agustus nanti. :Salam JoXa:

2/5

Trailer:







1 comment:

  1. saya pengen nonton filmnya, tapi kenapa kaset film ini jarang ada yang jual?

    ReplyDelete