Thursday, June 20, 2013

Review: Leher Angsa (2013)


Dilematika hidup Aswin yang dikaitkan dengan leher angsa di desanya. Kalimat tersebut bisa dibilang kesimpulan sementara bagaimana film ini sepanjang 115 menit. Dilematika hidup Aswin yang tinggal bersama ayahnya yang memiliki hobi bermain ayam sampai beliau akhirnya lupa diri kalau memiliki keluarga yang membutuhkan kasih sayang darinya. Bersama ibunya, yang memiliki hobi merajut dan bekerja di ladang, Aswin mencoba menerima keadaan ayahnya seperti itu. Akan tetapi setelah kematian ibunya yang terkena kecelakaan pesawat terbang ketika dirinya bekerja di ladang, Aswin semakin membenci ayahnya karena hari itu harusnya ayahnya yang bekerja dan meninggal dunia. Kehidupan desa yang dihuni oleh Aswin begitu pelik karena kondisi sungai dijadikan multifungsional aktivitas. Multifungsional aktivitasnya yaitu mencuci baju, mandi dan membuang air besar.


Diantara semua penduduk desa Aswin, hanya ketua penduduk yang memiliki fasilitas leher angsa atau kamar mandi tersendiri di rumahnya. Aswin dan anak-anak yang penasaran dengan bentuk fisik leher angsa pun memutuskan untuk diam-diam ke kamar mandi milik ketua penduduk. Dilematika Aswin selanjutnya yaitu dirinya ingin memiliki sepeda, akan tetapi sampai ayahnya memiliki istri sekaligus ibu baru untuk dirinya tidak mampu menuaikan janji untuk membelikan Aswin sepeda. Alasan menunggu Aswin lulus sekolah dasar menjadi pegangan kuat dari ayahnya. Diakibatkan multifungsionalnya aktivitas yang dilakukan di sungai, beberapa penduduk sampai temannya Aswin pun terserang penyakit bisul. Begitu banyaknya dilematika kehidupan yang dialami bocah tidak berdosa Aswin ini. Entah apa sebenarnya pesan moral yang ingin diberikan film Leher Angsa ini.

Alenia Pictures akhir-akhir ini hanya sekedar memberikan sebuah film dengan andalannya suatu tempat diluar Jakarta akan tetapi masih Indonesia. Namun sayangnya mereka sudah mulai melupakan kekuatan cerita dan sisi menghiburnya sebuah film untuk anak-anak. Dari film ini saja kelihatan sekali anak-anaknya tidak mampu berdialek tempat tinggal mereka yang sudah pasti bukanlah di Jakarta itu, namun dialek yang diberikan terlihat modern sekali. Lukman Sardi dan Ringgo Agus ahman justru yang kelihatan mencoba berdialek dengan kuat di sepanjang film Leher Angsa. Lawakan Ringgo di film inimemberikan kesegaran tersediri di film ini. Akhir kata, film Leher Angsa meberikan sajian yang niatnya untuk menghibur anak-anak secara komersil akan tetapi pada kenyataannya kurang memberikan sisi maksimal di dalamnya. :Salam JoXa:

5/10

Trailer:

No comments:

Post a Comment