Thursday, March 28, 2013

Review: Tampan Tailor (2013)


Topan seorang duda 1 anak yang berjuang menghidupkan anaknya sesuai janji dia kepada istrinya sebelum meninggal dunia. Modal awalnya yang hanya sebuah meja mesin jahit terpaksa harus disita beserta tempat sewaannya karena tidak sanggup membayar uang tagihan. Bersama Bintang, anak semata wayang, Topan meminta bantuan sahabatnya Darman untuk sementara waktu menetap di rumahnya. Topan pun mencari pekerjaan halal untuk menghidupkan anaknya tersebut. Suatu hari dirinya bertemu dengan seorang penjaga toko cantik yang bernama Pitra. Pitra merasa nyaman dengan sosok kehadiran Bintang, demikian juga sebaliknya dengan Bintang. Bagaimanakah kisah akhir selanjutnya? Lika-liku apa saja yang dialami Topan untuk menghidupi anak semata wayangnya ini?

Kisah orang tua dengan anak jika difilmkan secara tidak langsung pasti penonton merasa seperti di dalam gambaran film tersebut, walaupun tidak secara keseluruhan. Di film Tampan Tailor mengambil kisah hubungan ayah anak yang begitu erat. Dimana kisah ayah dan anak itu dibuat secara pas dan tidak berlebihan sisi dramanya atau sinetron jika tujuannya untuk sebuah film. Konflik-demi konflik yang dibuat oleh kedua penulis terkenal seperti Alim Sudio dan Cassandra Massardi, cukup terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dan cara penyelesaian konflik tersebut pun terlihat begitu rapi dan tidak terlalu maksa untuk menyelesaikan sebuah film. So far cerita dari kedua penulis ini adalah karya terbaik sepanjang filmography mereka berdua.


Deretan para pemain dari film ini ada Vino G Bastian, Marsha Timothy, Jefan Nathanio, Ringgo Agus Rahman, dan sebagai pemain pendukung ada Ferry Salim dan Irgi Fahrezi yang juga turut bermain di film ini. Chemistry antara Vino dengan Jefan sebagai ayah anak bisa dibilang cukup kuat di sepanjang film. Walaupun status Vino kini barulah calon ayah tapi dia mampu menjaga ikatan yang kuat dengan Jefan sebagai seorang anak yang sebenarnya bukan anak kandungnya sendiri. Sisi jutek Marsha di film ini terlihat begitu alami dan tidak terlalu dipaksakan. Begitu juga dengan Ringgo yang di film ini memberikan lawakan segar dari cara pembawaan dirinya melakukan dialog antar pemain. So far tidak ada masalah dari deretan para pemain Tampan Tailor.

Dari segi cerita dan para pemain memanglah tidak masalah untuk film ini, akan tetapi untuk segi penggambaran nampaknya kurang memberikan sisi menarik untuk film yang tayang di tahun modern saat ini. Entah kenapa di sepanjang film, terlihat biasa saja dan justru cenderung kuno. Jikalau ingin mengambil sisi klasik atau kuno malah jatuhnya jadi kentang, karena di beberapa adegan ada yang terlihat modern, namun kebanyakan adegan cenderung kuno. Untuk sisi scoring dan tata musik bisa dibilang tepat masuknya untuk setiap scene yang membutuhkannya. Untuk dari segi alur, film Tampan Tailor sebenarnya agak sedikit lambat namun bisa teratasi kelambatan tersebut dengan adanya dialog humor dari Ringgo tadi. Untuk sebuah produksi dari Maxima Pictures, film Tampan Tailor adalah film terbaik kedua setelah Cinta Pertama (Sunny) di sepanjang produksi filmnya selama ini. Semoga film ini menjadi awal keseriusan Maxima untuk memproduksi sebuah film yang notabene bagus dari segi cerita dan pemain didalamnya. :Salam JoXa:

7,5/10

Trailer:

No comments:

Post a Comment