Thursday, February 7, 2013

Review: True Heart (2013)


Disaat ulang tahun pernikahan orangtuanya, Ferry dan Vina justru tidak berada diantara mereka. Vina justru malah pergi ke pub untuk bertransaksi narkotika, begitu pula dengan Ferry yang sudah 3 tahun menggunakan narkotika sedang asyik pesta dengan teman-temannya di tempat pub yang sama. Singkat cerita, Vina pun overdosis dan meninggal dunia. Setelah kematian Vina, Melly kecewa terhadap pacarnya, Ferry yang selama ini ternyata membohongi dirinya telah memakai narkotika. Begitu pula dengan kedua orang tua Ferry yang langsung membawa anaknya tersebut ke pusat rehabilitasi. Masalah datang ketika Melly tidak bisa mengontrol emosinya untuk mencari tahu siapa dalang dari semuanya, sampai pada akhirnya Melly menjadi buronan Boy, pengedar narkotika yang bengis.

Film tentang narkotika rasanya sudah basi untuk dibahas lagi dan lagi di tahun 2013 ini. Apalagi kalau konsepnya itu untuk mendidik penonton. Ya itulah sedikit gambaran dari film terbaru karya Ismail Sofyan Sani ini yang berjudul True Heart. Untuk sebuah film debut, nampaknya beliau terlalu old school sekali mengambil cerita narkotika dan rehabilitasi di jaman modern ini. Bahkan tidak hanya dari segi cerita yang terlihat jadul, bahkan dari segi dialog pun terlihat kaku sekali. Adegan awal yang menggambarkan ikatan janji kedua pasangan dengan sebuah kelapa pun terlihat jadul sekali bukan? Belum lagi cara presentasi di kelas tentang narkotika pun serasa jaman SMU dahulu dan itu tergolong kuno sekali.


Untuk dari segi lokasi bisa dibilang poin plus dari film True Heart. Setidaknya ada beberapa tempat dari Kota Batam yang terekspos cukup indah di film ini. Untuk dari deretan para pemain, rasanya tidak ada sesuatu yang spesial atau memorable. Bahkan sosok senior seperti Pierre Gruno dan Ray Sahetapy pun tidak membuat film ini terasa wow. Sosok Ray di film True Heart justru terlihat lembut untuk seorang bapak. Sisi labil malah justru ditekankan dari beliau, masa segampang itu menerima anaknya kembali setelah tahu menggunakkan narkotika? Dan cuma bisa menuntut peran istri saja di sebuah keluarga dalam menjaga anak-anak? Akhir kata film True Heart bukanlah film Indonesia yang menarik dengan konsep rehabilitasi atau upaya iklan jangan menggunakkan narkotika. Presentasi di sekolah nampaknya jauh lebih menarik dari film ini yang terlihat lebih drama sekali. :Salam JoXa:

2/5

Trailer:

1 comment: