Friday, January 11, 2013

Review: Gending Sriwijaya (2013)

Di sebuah kerajaan tinggallah pemimpin bernama Dapunta Hyang Mahawangsa dengan permaisurinya, Ratu Kalimanyang dan juga kedua anak mereka Awang Kencana dan Purnama Kelana. Di usia senjanya, Dapunta sudah merasa tidak kuat lagi untuk melanjutkan pemerintahannya. Keputusan Dapunta untuk memberikan kekuasaan kerajaan sepenuhnya kepada Purnama tidak disetujui oleh Kencana. Kencana merasa dirinya lebih pantas karena memiliki kemampuan dalam hal bertarung dibandingkan dengan Purnama yang lebih ahli dalam hal ilmu pengetahuan. Kencana pun tidak tinggal diam, dia membuat rencana agar semua kekuasaan kerajaan milik Ayahanda jatuh kepadanya. Disaat Kencana mencari cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, kelompok perampok yang dipimpin oleh Ki Goblek, mulai menguasai lingkungan sekitar kerajaan yang dipimpin Dapunta tersebut.

Film kolosal Indonesia akhir-akhir ini jaranglah kelihatan di bioskop tanah air (atau memang belum ada?). Dengan naungan sutradara Hanung Bramantyo akhirnya Gending Sriwijaya tayang juga sebagai film kolosal lokal di sepanjang perfilman Indonesia. Penulis disini mau membuat postingan hanya berdasarkan pengertian sedikit saja tentang Gending Sriwijaya yang penulis ketahui. Yang penulis tahu mengenai Gending Sriwjaya adalah tarian persembahan kepada raja. Lalu apakah di film Gending Sriwijaya ada hubungan dengan sedikit pengertian yang penulis ketahui? Sayangnya penulis menemukan hanya sedikit adegan tersebut. Bahkan kalau Penulis boleh memberi tahu itu ada disaat Purnama kembali dari sekolahnya di Cina dan ada adegan Malini, anak si Perampok yang diperani oleh Julia Perrez, yang mendendangkan lagu.


Gending Sriwijaya memiliki keunggulan dari segi aksinya. Untuk sebuah film kolosal yang terdapat adegan pertarungan antara satu kerajaan dengan kumpulan para perampok rasanya film ini memberikan suasana "blood" yang pas. Selain aksinya yang unggul, dari segi artistik film Gending Sriwijaya terlihat meyakinkan penonton dengan artistik yang dibuat seperti kerajaan Sriwijaya dahulu. Selain itu dari segi tata kostum filmnya cukup memberikan kombinasi kostum yang pas sesuai pada masanya dahulu. Walaupun dari segi make-up khususnya pada pria itu terlihata sangatlah mengganggu. Terutama yang paling penting make-up perut six pack. Agak terlalu dipaksakan sih sebenarnya, padahal tanpa make-up perut tersebut para aktor sudah terlihat maksimal kok kemapuan aktingnya di film ini.

Dari deretan para pemain, film Gending Sriwijaya terdapat banyak pemain terkenal atau biasa sekalipun, diantaranya ada Slamet Rahardjo, Agus Kuncoro, Sahrul Gunawan, Hafsary Thanial Dinoto, Mathias Muchus, Julia Perez, Oim Ibrahim, Jajang C Noer, Rifnu Wikana, Anwar Fuady, Yati Surachman, Early Ashy dan Qausar Harta Yudana. Dari banyaknya deretan nama pemain diatas, yang menarik adalah Julia Perrez. Sosok beliau disini sangatlah berbeda dibandingkan film beliau sebelumnya. Totalitas Jupe di fil m Gending Sriwijaya sangatlah terlihat. Bagaimana sosok bitch masih tetap beliau pancarkan, namun ditambah dengan sifat berani dan jago bela diri. Untuk para senior lainnya rasanya tidak ada yang spesial, karena mereka tetap sama saja seperti di film-film sebelumnya. Akhir kata, film Gending Sriwijaya adalah sebuah kolosal yang nampaknya terlalu asik untuk memamerkan sisi bela diri namun melupakan isi cerita dan sinkronasi dengan sejarah Gending Sriwijaya aslinya seperti apa. :Salam JoXa:

2/5

Trailer:

No comments:

Post a Comment