Wednesday, May 9, 2012

Review: Dark Shadows (2012)


 

Barnabas Collins: What is your age? 
Carolyn Stoddard: Fifteen.
Barnabas Collins:  Fifteen, and no husband? You must put those child-bearing hips to good use.


Barnabas Collins adalah playboy dari putra bangsawan di Collinsport, Maine. KArena sifat keplayboyannya tersebut, Angelique, yang bekerja di rumahnya tersebut menjadi korban patah hatinya. Akan tetapi Angelique tidak tinggal diam begitu saja. Dengan kekuatannya sebagai seorang penyihir, dia mengutuk Barnabas sebagai seorang Vampir dan menguburnya hidup-hidup. Tidak itu saja, setiap wanita yang jatuh cinta kepadanya harus mati bunuh diri secara mengenaskan.

Lebih dari 200 tahun, Barnabas dikubur hidup-hidup dan sampai suatu hari dirinya bisa bebas dan kini resmi menjadi seorang vampir, yang notabene mencari darah segar untuk hidup dan takut dengan cahaya matahari. Barnabas pun langsung mencari keturunan keluarganya yang tersisa di Amerika Utara. Disanalah Barnabas menemukan rahasia misteri mengerikan yang disembunyikan keluarga tersebut.

Vampire pasti langsung terlintas di pikiran yaitu Twilight, bukan begitu? Kalau boleh jujur, di pikiran gue itu yang langsung terlintas. Maklumlah euphoria Twilight begitu melekat di pikiran gue. Ketika tahu ada film Dark Shadows dan melihat sinopsisnya ada unsur vampir, gue langsung mikir apakah ini versi darknya Twilight? Hmm tapi gue langsung melihat sutradara atau dalang yang buat film ini. Ternyata Tim Burton cuy, karya beliau selama ini selalu memukau dari segi visualisasi dan artistiknya. Dan asumsi gue kalau film ini bakalan mirip Twilight langsung gue patahkan karena Tim Burton tidak mungkin membuat film seunyu itu.

Di film Dark Shadows sendiri setidaknya ada 9 karakter yang kelihatan menonjol di sepanjang film ini. Kesembilan karakter tersebut berusaha memberikan karakter terbaik mereka di sepanjang film. Ada yang terlihat begitu sadis, jutek, sinis, atau datar-datar saja. Agak sayang sih, dari kesembilan karakter tetap yang megang cuma Barnabas Collins yang diperankan oleh Johnny Deep. Karakternya disini tetap seperti dahulu-dahulu yaitu cuek, suka-suka, dingin dan tenang menghadapi masalah. Untuk mengalami perubahan yang sinfikan sebenarnya tidak ditonjolkan Johnny di film ini sih, tapi setidaknya beliau cukup menyelamatkan film ini dengan gaya humorisnya ketika berdialog.

Sebenarnya karakter lain ada yang cukup menyita perhatian yaitu Angelique yang diperankan oleh Eva Green. Di dunia perfilman Eva bisa dibilang cukup menyita perhatian juga ketika bermain di The Golden Compass sebagai Serafina Pekalla. Disini Eva terlihat dingin sekali sebagai musuh dari Johnny. Helena Bonham Carter yang terkenal dengan peran jahatnya sebagai Bellatrix di serial Harry Potter, disini terlihat kurang nampol. Sungguh disayangkan sih sebenarnya. Aktris cantik Chloë Grace Moretz yang sempat bermain di Kick Ass, Let Me In dan terakhir Hugo, disini tampil cukup cantik dan wow. Karakternya yang cuek dan jutek sungguh menggemaskan.

Tim Burton kali ini nampaknya hanya konsisten dalam hal visualisasi dan artistik saja, sisanya? Hmmm tidak ada sesuatu yang lebih ingin ditawarkan di film ini. Rasa bosan, tawa geli sedikit, dan kemudian hingga mengantuk adalah suasana yang gue rasakan ketika menonton film ini. Ini abru nonton versi 2D loh, kalau untuk menonton film ini dengan versi IMAX rasanya perlu pikir ratusan kali deh untuk menontonnya. Takut rugi cuy secara tiket bioskop IMAX yang walaupun paling murah seASIA tapi tetap saja gak sesuai dengan kantong gue #kemudiancurhatterlarang.

Ya walaupun tidak memberikan tingkat hiburan 100%, akan tetapi Dark Shadows masih memberikan suasana dark dengan gaya artistik ala Tim Burton yang tidak kalah keren. Walaupun gayanya jadul tapi tetap terlihat modern karena pemilihan kostum dan warnanya yang memukau. Pemilihan make-up juga menjadi nilai plus dari film ini. Akhir kata, Dark Shadows cukup menghibur saja dan bukanlah karya terbaik dari seorang Tim Burton. Sekian. :Salam JoXa:

2,5/5

Trailer:

No comments:

Post a Comment