Thursday, March 8, 2012

Review: Santet Kuntilanak (2012)

Maya dan Lila adalah dua kakak adik yang memiliki latar belakang berbeda. Maya sang adik, dikenal percaya dengan hal-hal yang berbau mistis. Lain halnya dengan Lila yang dikenal lebih percaya terhadap agama daripada hal-hal mistis seperti itu. Suatu hari, Lila diajak bersama Robert dan teman-temannya untuk berlibur ke luar kota. Ternyata disana, Lila dibuat meninggal secara mengenaskan karena tindakan dari Robert dan kawan-kawannya. Maya pun resah dan gelisah serta curiga kalau kakaknya itu disantet orang. Beberapa teman Maya pun akhirnya ikut membantu pencarian hilangnya Lila.

Akhirnya Koya Pagayo kembali dengan film horror setelah menghilang sibuk membuat 2 film dengan genre drama romantis yang menggunakkan nama samarannya Nayato. Sebenarnya Santet Kuntilanak cukup baik di sisi musiknya loh, ya setidaknya pas lah memberikan alunan di tempatnya dan paling penting gak buat sakit kuping ketika menonton film ini. Cerita sebenarnya gak buruk-buruk amat tapi agak keteteran dan maksa sekali rasanya. Maksanya itu terlihat dari sisi pembukaan film ini yang rasanya gak penting dan tidak memberikan penjelasan apa sebenarnya maksud dari semua itu. Setelah itu, cara memberikan ceritanya agak maju mundur tapi bukan flash back sepenuhnya. Jadi gini maksudnya, jika si X mau merokok tapi di scene sebelumnya ada adegan dulu si X nyalain rokok padahal di scene sebelum sudah terlihat jelas merokok. Aneh? Iya sih aneh tapi yasudahlah.

Oh iya sebelumnya gue di review kali ini sengaja memberikan spoiler habis-habisan terhadap film ini. Ya bukannya apa ya tapi malas aja kalau melihat film ini bertengger di 10 penonton terbanyak di tahun 2012 -_____-. Pertama di film ini adaegan Fero merokok itu ibarat makan coklat putih, Fero merokoknya gak berhenti-henti sepanjang 1 adegan filmnya. Perokok berat sih perokok berat tapi bukan berarti selebai itu kan? Kedua ada 1 adegan mandi dari salah satu pemain cewek di film ini. Setidaknya dia berani topless dengan menutup buah dadanya dengan tangannya saja *prok prok prok*. Ketiga adegan diskotik yang notabene menjadi tempat wajib film indonesia bung Koya ini nampaknya tetap ada sampai 3-4 kali di film ini dan itu terjadi pengulangan yang begitu saja.

Keempat, cara mati dari teman-temannya Robert itu yang pertama mati kecekek sendiri di kamar mandi diskotik dan kedua mati digantung dengan shower kamar mandi. Robert sendiri mati ditusuk pas mau adegan film ini berakhir oleh salah satu teman Maya. Fero pas adegan dirinya batuk-batuk pun bukan seperti orang yang perokok berat malah gue pikir kayak kena santet loh. Terus make-upnya Fero disini lentik dan tebal banget. Dan terakhir adegan terakhir yang tidak penting pun muncul juga. Gue kira sudah kelar pas tahu Maya yang mati juga ditusuk sama Robert eh ternyata muncul Uli Auliani yang mengaku sebagai kakak tiri Robert yang dari awal mengikuti mereka dan tahu kronologis siapa yang menusuk adik tirinya tersebut. DHUAR! Penting ya ada cerita ini? :|

Akhir kata film Santet Kuntilanak agak cukup disayangkan dari lemahnya skenario buatan Ery Sofid. Walaupun musiknya sudah tampil dengan baik tapi semua menjadi hambar dan membosankan karena cerita yang amatlah biasa dan maksa sekali (apalagi akhirnya). Ya tapi tidak bisa juga bilang film ini terburuk juga karena dengan durasi yang sebenarnya 77 menit pun gue tidak merasa cepatnya film ini dan kata lain gue bisa sedikit menikmati dan nyawa filmnya hampir sama dengan Rumah Hantu Pasar Malam. :Salam JoXa:

1/5

Trailer:

No comments:

Post a Comment