Wednesday, March 28, 2012

Review: Eva (2011)


Di tahun 2041, tinggallah seorang progammer robot terkenal yang bernama Alex Garel. Dirinya baru saja kembali ke tempat asalnya setelah menempuh pendidikan selama 10 tahun di negeri orang. Tugasnya kali ini mencari seorang anak kecil untuk dijadikan bahan sumber otak dari robot yang dibuatnya. Di saat bersamaan pula, dirinya bertemu kembali dengan teman lamanya David dan istrinya Lana (mantan kekasih Alex ketika dahulu). Sebelum menjumpai temannya tersebut, Alex menemukan anak kecil bernama Eva, yang dirasanya cocok sebagai objek sumber otak robot yang sedang dirancangnya.
Tidak diduga, ternyata anak kecil yang bernama Eva itu adalah keponakan dari David, temannya sendiri. Alex merasa ada yang spesial dari dalam diri Eva. Dia merasa Eva memiliki rahasia yang selama ini dirinya tidak ketahui.

Film bergenre Sci-Fi dari Negeri Mata Dor kali ini bisa dibilang cukup menarik ide ceritanya. Dengan bersetting tahun 2041, suasana di tahun tersebut terasa sekali sehingga membuat penonton terpukau dengan visualisasi dan penggambarannya. Sayangnya, ide cerita yang menarik tidak membuahkan hasil yang baik secara keseluruhan. Dengan alur yang begitu sangat lambat dan perlahan untuk menceritakan siapa Eva sebenarnya, film ini terasa sekali seperti film bisu. Walaupun ada dialog tapi karena lambatnya alur tersebut, jadi berkesan film ini cukup membosankan untuk ditonton.


Sebagai debut aktingnya sebagai karakter EVA, Claudia Vega disini mampu memainkan karakternya dengan baik. Sebagai keberhasilannya tersebut dirinya pun masuk nominasi Pendatang baru terbaik di ajang penghargaan Spanyol. Selain EVA, disini juga ada Daniel Brühl, Marta Etura, Lluís Homar dan Alberto Ammann. Robot-robot yang beraksi di film ini bisa dibilang cukup menarik loh, dari robot kucing dan robot yang sedang menjadi proyek Alex selanjutnya terlihat cukup hidup karena bisa bermain dengan tingkat kecerdasan yang setara dengan manusia pada umumnya.

Akhir kata, film EVA nampaknya belum bisa dikategorikan sebagai film SCI-FI yang bisa ditonton oleh penonton umum. Faktor lambatnya film ini bisa dibilang faktor utama penonton yang merasa bosan ketika menonton film ini. Walaupun ide cerita yang menarik dengan balutan visualisasi yang terlihat begitu nyata di tahun 2041, tapi secara keseluruhan EVA kurang mampu bisa bersaing dengan film-film hollywood yang sedang tayang saat ini. Sebagai trivia saja sih, film ini telah meraih 12 pengharagaan dan 28 nominasi di pengharagaan International. :Salam JoXa:

2/5

Trailer:
<iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="300" src="http://www.youtube.com/embed/jFGKH98tTzs?fs=1" width="500"></iframe>

No comments:

Post a Comment