Friday, January 6, 2012

Review: Xia Aimei Movie (2012)

Antusiasme penonton sebelum melihat film ke bioskop adalah terletak dari sisi trailer, poster, siapa yang buat film itu dan terakhir para pemain. 2 hal yang sudah terlihat menjual pastinya dari trailer dan poster. Kalau 2 faktor itu saja sudah lemah atau tidak menjual, pasti daya tarik penonton untuk menyaksikan film tersebut akan berkurang. Di akhir tahun 2011 lalu keluarlah poster dan trailer dari film Indonesia baru yaitu Xia Aimei. Kalau boleh jujur menonton trailer film ini ketika sudah berada di 5ribu yang menontonnya. Sungguh fantastis menurut gue kalau untuk film Indonesia apalagi itu diterbitkan mendekati beberapa minggu penayangan regulernya. Dan gue bisa dibilang juga sangat telat karena timeline twitter gue sudah banyak reaksi positif dimana-mana terhadap trailer ini.

Dan ternyata trailer film ini cukup pintar untuk membuat orang tertarik menonton film ini. Yak kenapa cukup pintar? Cukup pintar membuat penonton trailer terpukau dengan film ini. Jika gue menilai trailer saja bisa sampai 80 akan tetapi secara keseluruhan film ini pun mengalami penurunan yang cukup drastis. Hmmm rasanya agak cukup disayangkan sekali kalau hanya menjual dari segi trailer semata saja. Cerita bermula dari seorang gadis remaja yang bernama Xia Aimei yang berasal dari desa di sebuah negeri China yang terpaksa menjadi korban trafficking dari jeratan hutang yang menimpa keluarganya. Dirinya pun pada akhirnya dibawa ke ibu kota Jakarta bersama gadis lainnya yang senasib dengan dirinya untuk menjadi perempuan penghibur di sebuah klub malam yang mewah dan dipenuhi hidung belang milik Jack.

Di tempat lain AJ Park dan Timun sahabatnya diundang oleh bosnya untuk ke Mansion tersebut karna berhasil menuntaskan proyeknya. AJ Park dan Timun bekerja di sebuah Discovery Kelautan. AJ Park yang tidak begitu menyukai suasana Mansion akhirnya memutuskan menetap di luar Mansion saja. Di luar dirinya bertemu dengan Intel Imgirasi, yang sedang melakukan penyelidikan tempat tersebut yang dicurigai melakukan human trafficking. Sampai suatu malam Xi Xi, nama lain Xi Aimei, ditugaskan untuk melayani bos gangster, Marun. Xi Xi yang bingung dengan apa yang akan dia lakukan melakukan pemberontakan terhadap Marun dan kabur dari Mansion tersebut. Sampai pada akhirnya dia bertemu dengan AJ Park dan Timun.

Cerita yang berbau nuansa budaya Cina nampaknya cukup jarang diangkat ke dunia perfilman Indonesia sampai tahun 2012 ini. Bisa dibilang baru film Ca Bau Kan karya Nia Dinata lah yang paling membekas dan bisa diingat sampai saat ini. Setelah itu baru ada film May yang tentang kerusuhan pada waktu dulu. Untuk menyambut Tahun Baru Cina di Januari 2012 diluncurkanlah film Xia Aimei yang menceritakan seorang gadis Cina yang menjadi korban human trafficking di Jakarta. Film debut dari seorang Alyandra kali ini nampaknya tidak begitu semanis trailernya. Terlihat sekali dirinya terburu-buru untuk membuat film ini.

Kesalahan nampaknya terletak pada naskah dari buatan Alyandra, Tohaesa dan Sally Anom. Harap dimaklumi memang karena ada tiga kepala yang terlibat dalam naskah film ini. Tapi bukan berarti karena dimaklumi langsung membuat gue menerima atau terlihat berpura-pura nyaman sepanjang menonton film ini kan? Cerita yang ditulis nampaknya terlalu singkat sekali untuk sebuah film. Bahkan secara teknis pun terlihat sekali ada beberapa bagian yang nampaknya terlihat terpotong begitu saja. Sudah durasi cuma 74 menit terlihat ada yang dipotong, itu rasanya bikin geregetan.

Selain masalah teknis adanya bagian dipotong, juga terlihat sekali editan yang kasar di film ini. Sungguh terlihat sekali film ini seperti kejar setoran untuk menyambut tahun baru Cina 2012. Bisa dibilang editan kasar terlihat amat jelas sekali dan nampak diulang-ulang di adegan itu saja. Setelah itu perpindahan adegan pun nampaknya ada beberapa yang tidak sinkron. Ketika situasi X kenapa berpindah ke situasi Y dan setelah lama di situasi Y langsung ke situasi X lagi. Oooo itu sangat lama sekali menurut gue perpindahan adegannya.

Kalau dari segi pemain nampaknya yang patut diacungi jempol itu Efranda Stefanus alias Franda. Wanita yang memulai karirnya sebagai finalis VJ Hunt ini aktingnya terlihat all out dan meyakinkan. Sebagai gadis Cina yang lugu dengan pelafalan bahasa yang baik nampaknya menjadi poin plus dari akting gadis yang memiliki senyum manis ini. Akan tetapi nampaknya senyum manisnya itu terlalu berlebihan karena di saat kondisi yang seharusnya dia tidak senyum kenapa harus senyum sumringah seperti itu ya? Hmmm cukup menggelikan sekali. Selain Franda yang cukup lumayan konsisten itu ada Shareefa Daanish. Yak nampaknya akting Shareefa kali ini cukup berani sebagai perempuan penggoda. Namun sayangnya usaha dari pemilik mata indah ini tidak direspon dengan baik oleh lawan mainnya disini, Ferry Salim.

Ferry Salim untuk kesekian kalinya tetap tampil elegan dan metrosexual. Sebagai bos dari Mansion yang sebagai tempat para wanita penghibur nampaknya penampilan Ferry tidak mau kalah cantik dengan wanita penghibur yang bekerja disana. Sorry kalau gue buat Ferry Salim tersinggung, dirinya disini nampaknya tidak pantas dan nampaknya salah peran untuk tampil sebagai bos disini. Ya kali dah ada bos dengan tampil sefashion dan rambutnya ada jambul segala. Menjijikan sekali. Gue malah melihat penampilan bos Marun disini lebih meyakinkan dan pas buat peran yang diperankan oleh Ferry Salim disini. Gilang Dirgahari pun terlihat garing dan datar sekali ekspresinya. Ekspresi niat untuk ngelucu pun nampaknya gagal dibuat oleh anak muda satu ini, malah semua terlihat mengganggu.

Selain para pemain diatas, juga ada Samuel Rizal, Olga Lydia dan Norman Kamaru yang bermain di film Xia Aimei. Sisi positif selain akting kedua aktris di film ini nampaknya hanya terlihat dari pengambilan gambar yang baik dan indah. Suasana kota Xia Aimei yang terletak di Cina berhasil diambil dengan indah dengan angel yang menarik. Begitu pula ketika pengambilan gambar adegan di bawah laut. Akhir kata, Xia Aimei secara keseluruhan terlihat kurang maksimal dalam pembuatannya. Walaupun dari salah satu pembuat naskah Sally Anom pernah membuat naskah film cin(T)a nampaknya disini terlihat mengalami penurunan. Walaupun terlihat kurang maksimal tapi untuk segi menghibur nampaknya film ini masih layak ditonton. Kapan lagi menonton film Indonesia yang mengambil tema human trafficking dan sekaligus ada unsur budaya Cina di dalamnya. Silahkan tonton mulai tanggal 12 Januari 2012 di bioskop kesayangan anda! :Salam JoXa:

2/5

Trailer:

1 comment:

  1. Karena saya tahu proses penulisannya, untuk sekedar informasi, Skrip tersebut sudah berubah lebih dari 95% (mungkin bisa lebih) dari apa yang sudah ditulis oleh penulisnya Sally Anom Sari dan Toha E. Jadi setahu saya cerita film itu gak gitu harusnya, sangat beda (menurut saya juga gak bagus). Jadi sangat disayangkan kalo nama Sally Anom Sari akhirnya masih masuk sebagai penulis film itu.

    ReplyDelete