Friday, November 18, 2011

Review: Ayah Mengapa Aku Berbeda? (2011)

Angel adalah anak yang dilahirkan tanpa ibu. Ibunya meninggal dunia ketika melahirkan dirinya. Pertumbuhan Angel sama seperti anak-anak lainnya namun berbeda di perkembangan di alat pendengaran dan pembicaranya. Angel yang tahu dirinya berbeda mencoba tegar untuk menghadapi kenyataan hidup ini. Berkat kecerdasan yang dimilikinya serta dukungan dari sang ayah, dan nenek, Angel pun pindah ke sekolah normal di Jakarta. Setelah di Jakarta, penyiksaan dalam diri batin dan raga terhadap Angel pun dimulai oleh Agnes. Selain itu, Angel pun harus siap menghadapi sendiri ketika orang-orang yang dia sayangi harus meninggalkan dirinya.

Kalau mendenagr nama Dinda Hauw pasti langsung teringat aktingnya di film fenomenal dan terlaris tahun ini yaitu Surat Kecil Untuk Tuhan. Tak bisa dipungkiri berkat kemampuan aktingnya, Dinda menjadi terkenal di tahun 2011. Sampai pada suatu hari pun, Rapi Films menawarkan peran di produksi film terbarunya yaitu Ayah Mengapa Aku Berbeda. Kalau boleh jujur ketika tahu nama Dinda masuk di peran utama di film tersebut, gue sudah memprediksi bakal sama kayak SKUT nantinya. Tangisan air mata, penderitaan, dan berbagai macam konflik akan dirasakan Dinda Hauw sepanjang film ini. Dan terbukti memang, kurang lebih AMAB tidak jauh berbeda dengan SKUT namun yang membedakan sedikit adalah disini penderitaannya jauh lebih banyak.

Nama sutradara Findo Purwono Hw pasti sudah tidak asing lagi bagi kalian pecinta film yang juga controversial seperti Menculik Miyabi dan Paku Kuntilanak. Bisa dibilang Findo untuk menyutradarai film yang bener-bener tanpa adegan seksi baru 1 film yaitu di Love In Perth (2010). Dan bisa disimpulkan AMAB adalah film drama kedua beliau. Di AMAB, hasil penyutradaraan dari bapak Findo kali ini bisa dibilang agak kurang rapi untuk dilihat. Walaupun gambar yang dihasilkan baik tapi editingnya terlihat agak kasar di beberapa adegan.

Entah kenapa gue melihat AMAB seperti produksi Rapi Films lainnya, dimana ciri khas Rapi yaitu membuat atau menumpuk berbagai masalah di dalam film tersebut dan dengan mudah begitu saja menyelesaikannya di akhir film. Padahal gue berharap lebih dari AMAB karena Dinda Hauw sendiri sudah terbukti kemampuan aktingnya di SKUT. Titien Wattimena yang ditunjuk sebagai penulis film ini bisa dibilang tetap berdiri teguh dengan ciri khasnya yaitu menampilkan dialog yang cukup puitis namun sayangnya porsi tersebut tidak begitu banyak di film ini. Titien nampaknya terlihat kewalahan untuk menuntaskan film ini, terlihat sebelum penyelesaian akhir film ini ada karakter yang terpaksa dikorbankan untuk membuat film ini lebih terasa sinetron sekali.

Kalau dari segi pemain, bisa dibilang yang cukup menonjol selain dua peran utama disini, Surya Saputra dan Dinda Hauw, adalah Indra Sinaga. Indra yang merupakan vokalis dari Grup Band Lyla ternyata membuktikan dirinya bisa berakting dengan baik di debut filmnya ini. Dinda Hauw sendiri sebagai korban penderitaan di film ini terlihat lebih baik dan matang di film ini. Tapi semoga aja di tahun 2012 nanti tempelan sebagai ratu film mewek tidak begitu melekat di dirinya karena bosan juga kali yak kalau melihat dia lagi nanti menangis dan menangis lagi demi penghasilan yang banyak. Surya Saputra disini terlihat tidak ada masalah memerankan sebagai ayah, namun yang dimasalahkan adalah dari segi teknis, di beberapa adegan ada perubahan yang cukup menonjol di bagian make upnya.

Kalau pemain lainnya rasanya cuma sekedar tempelan belaka saja, sebut saja Kiki Azhari, Fendy Chow, Rima Melati, Rheina Mariyana, dan Rafi Cinoun. Diantara nama pemain yang disebutkan yang paling amat sangat mengganggu adalah Rafi, kenapa? OMG, beneran gak sempat ngaca dulu kali ya dia ketika menerima tawaran ini. Lihat saja ketika dia menggunakan seragam SMP dengan ada bekas kumis dan jenggot serta kaki yang begitu besar. Efek lucu pun tidak mengundang tawa para penonton, malah sebaliknya mengundang hina dan cela bagi dirinya.

Akhir kata, AMAB terlihat cukup saja secara keseluruhan. Kalau saja penderitaan yang menimpa Angel dikurangin dan lebih fokus pada satu titik permasalahan pasti AMAB akan lebih enjoy untuk dinikmati. Semoga saja ajang mencari sebanyak-banyaknya penonton film Indonesia bukan hanya berdasarkan air mata lagi dan lagi. Kalau masih ada seperti ini lagi, rasanya penonton juga akan semakin jenuh dengan situasi seperti ini juga. So para sineas lebih kreatif dan inovatiflah ketika anda mau membuat karya film Indonesia. :Salam JoXa:

2/5

Trailer:

0 komentar:

Post a Comment