Rabu, 30 November 2011

Review: Machine Gun Preacher (2011)

Sam Childers adalah seorang ayah yang bisa dibilang liar dan ugal-ugalan sebagai kepala keluarga mininya. Kehidupan Sam tidak lain tidak bukan tidak jauh dari namanya hidup mabuk-mabukan, judi, dan narkoba. Lain halnya dengan istri dan anak perempuan semata wayangnya yang begitu religious dan selalu mendoakan Sam agar cepat bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Hingga suatu hari, akhirnya Sam mau pada akhirnya diajak ke tempat ibadah oleh keluarga mininya itu. Dengan memantapkan hati, akhirnya Sam pun bertobat dan menyerahkan dirinya kepada Tuhan dengan mengikuti jalan-Nya. Kehidupan Sam pun berubah total setelah hari spesial itu. Bahkan Sam pun rela menjadi relawan di sebuah Negara terpencil sekalipun untuk membantu perbaikan rumah-rumah yang terkena bencana.

Bisa dibilang alasan kuat gue menonton film Machine Gun Preacher adalah ada tanda daun di posternya itu. Machine Gun Preacher adalah salah satu film yang masuk official selection Toronto Film Festival 2011. Hmm kalau sudah menyebut kata Toronto Festival pasti gue sekarang langsung penasaran dan tertarik untuk menontonnya. Menurut gue secara pribadi pasti kriteria film-film yang masuk festival tersebut pasti memiliki sesuatu yang ingin dibagikan ke penonton luas dibandingkan film-film lain yang beredar. Terbukti, sepanjang menonton film Machine Gun Preacher gue melihat sesuatu yang menarik diangkat di film ini.

Sebagai debut filmnya sebagai penulis skenario film, Jason Keller, bisa dibilang memberikan sesuatu yang menarik di film ini. Apa itu menariknya, rasanya kalian tonton saja sendiri biar tidak memberikan spoiler terhadap film ini. Dengan alur cerita yang menceritakan jatuh bangun dari seorang Sam Childers bisa dibilang seperti kehidupan nyata. Memang sih film ini untuk dipersembahkan kepada seorang Sam Childers tapi ketika menonton film ini penonton akan dibawa melihat kisah perjalanan beliau yang begitu menyentuh dan diombang-ambingkan oleh percayanya kepada Sang Pencipta.

Rasa peduli dari Sam Childers kepada anak-anak yang berada di Uganda karena adanya serangan menjadi daya tarik tersendiri. Sosok Sam kita lihat bisa dibilang seperti penyayang anak-anak dan begitu ikhlas dalam melakukan semua ini. Untungnya juga karakter Sam berhasil dimainkan Gerard Butler dengan baik. Dengan sosok Gerard yang berbadan besar dan rambut agak sedikit gondrong rasanya pas untuk penggambaran tokoh dari Sam yang dulunya brutal berubah menjadi penyayang dan relawan. Selain Gerard, tokoh istri dari Sam yaitu Lyn Childers yang diperankan oleh Michelle Monaghan. Sosok Michelle sendiri pernah kita lihat di berbagai film diantaranya Eagle Eye, Made Of Honor, Due Date, dan terakhir Source Code. Aktris yang pernah meraih penghargaan sebagai best actress 2009 di San Diego Film Critics Society Awards, bermain lumayan baik.

Sebagai seorang istri dari Sam, Michelle memiliki karakter yang cukup kuat sebagai istri yang sabar. Chemistry antara Michelle dengan Gerard pun terlihat cukup baik sebagai sepasang suami istri. Madeline Carroll yang berperan sebagai anak dari Sam dan Lynn ini tampil begitu ayu dan manis. Wajah manisnya ini pernah kalian lihat di film The Spy Next Door. Akhir kata, film karya dari Marc Forster ini memiliki sesuatu yang menarik di dalamnya. Walaupun tidak begitu memorable tapi dengan durasi 2 jam rasanya kalian tidak akan bosan ketika menonton film ini. Sebagai salah satu official film selection di ajang Toronton Film Festival tahun ini rasanya tidak ada salahnya untuk menonton film ini. Berbagai macam pesan dapat kalian petik dari film ini. Selamat menonton! :Salam JoXa:

3/5

Trailer:

Selasa, 29 November 2011

Review: Sector 7 3D (2011) / 7광구

Di sebuah tengah pulau tempat pengeboran minyak, tinggallah beberapa awak kapal yang sedang melakukan pencarian sumber minyak di tempat tersebut. Sang Kapten yang sudah pasrah karena sampai puluhan meter tidak menemukan sumber minyak tersebut pun memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut. Lain halnya dengan salah satu awak kapal yang ayahnya dahulu pernah hilang di tempat tersebut, Hae-Jun, yang begitu gigih tetap bertahan dan yakin pasti akan menemukan sumber minyak tersebut. Tidak lama kemudian pun terjadi sesuatu di tempat tersebut. Munculnya sosok misterius yang telah merenggut nyawa salah satu awak kapal tersebut.

Kalau boleh jujur film korea yang gue tonton belum ada yang pernah bergenre thriller atau action. Terakhir pun gue menonton film Korea itu My Sassy Girl (bener kan itu dari korea??). Sisanya belum sama pernah sama sekali. Tapi kalau film Asia selain dari Korea yang bergenre action, thriller ataupun horror rasanya sudah cukup banyaklah. Akan tetapi jika berformat 3D rasanya ini baru pertama kali gue menontonnya. Yap, Sector 7 judulnya. Sector 7 awalnya memang sudah banyak dibicarakn sejak masuk trailernya yang rajin diputar di salah satu bioskop. Berbagai macam ekspetasi pun bermunculan.

Gue ketika menonton trailernya pertama kali, langsung penasaran dan memberikan ekspetasi lumayan baik terhadap film ini. Eh setelah menonton trailernya berulang-ulang kali dan membaca review dari situs luar ataupun yang sudah menontonnya, gue langsung secara perlahan demi perlahan menurunkan ekspetasi sebelum menonton film ini. Alhasil setelah menonton Sector 7 3D pun gue tidak terlalu kecewa-kecewa banget. Keanehan-keanehan yang terjadi di sepanjang film Cuma bisa gue lampiaskan dengan tertawa bersama teman nonton gue saja (ketawa sinis).

Sector 7 3D yang disutradarai oleh Kim Jin-Hoon bisa dibilang dikemas sangatlah tidak modern. Dari segi artistik, dan cerita amatlah bikin jidat gue berkerut. Sebenarnya film ini cukup terganggu dari cerita yang dibuat oleh Je-Gyun Yun. Ada beberapa plothole dan sesuatu yang tidak masuk akal terjadi disini. Oke kayaknya sudah pada nonton kan? Gue bakal spoiler ah… Yang paling geregetan itu yaitu monsternya kenapa cuma satu? Padahal monster-monster kecil yang di simpan di sebuah lemari berisi air bisa bertumbuh besar jika bertahun-tahun lamanya. Tapi kenapa tetap kecil aja? Selain itu yang paling bikin gue gemes yaitu, ketika ada penyerangan monster dari bawah, entah kenapa 2 tokoh disana malah mencoba menahan alat penutup yang dibawahnya ada si monster? Kenapa mereka tidak langsung lari saja?

Selain itu yang paling gue salut dan tidak masuk akal juga, para awak kapal disini kuat banget ya. Cara mereka melakukan adegan pun mengingatkan gue pada salah satu iklan minuman kuat di TV. Malah gue sempat berpikir apakah mereka minum obat kuat itu dulu biar tidak kelihatan kecapean dan hanya dengan bantuan cipratan air biar terlihat letih? Terakhir, si monster kenapa marah dan menyerang mereka? Padahal kalau dilihat asal mula ceritanya tidak ada cerita kalau si pembuat monster ini bakal berbuat jahat kok.

Deretan para pemain bisa dibilang menampilkan yang biasa aja. Sebut saja Oh Ji-Ho, Ahn Sung-Ki, Cha Ae-Ryeon, Lee Han-Wi. Yang paling berkesan buat gue cuma karakter Jae-Hun yang diperankan oleh Ha Ji-Won. Karakter cewek tomboy dan mau tahu pas banget diperankan oleh dirinya disini. Dari gesture badan dan cara bicara pun begitu jelas terlihat dengan baik dilakoninya. Sinemtografi dari film ini terlihat jadul ya dengan mengambil tone warna yang berwarna coklat atau cenderung gelap. Scoring dari film ini bisa dibilang cukup baik untuk memberikan rasa ketegangan dari film ini. Oh iya twist dari film ini bisa dibilang lumayan oke juga loh.

Akhir, kata Sector 7 3D atau / 7광구bisa dibilang film Korea pertama yang membuat format 3D/IMAX yang tidaklah begitu terlalu mengecewakan sekali. Setidaknya usaha mereka untuk membuat 3D di film ini ada efeknya lah daripada film Hollywood sejenis Shark Night 3D yang juga tayang berbarengan dengan film ini. Semua itu juga kalau kalian memberikan ekspetasi rendah terhadap film ini. Ya lupakan saja slow motion-slow motion yang terdapat di film ini. Anggap saja si monster tersebut bakal menghampiri kalian karena kacamata 3D yang kalian gunakan itu. :Salam JoXa:

2/5

Trailer:

Jumat, 25 November 2011

Review: Shark Night 3D (2011)

Sara, Nick, Beth, Malik, Maya, Black, dan Gordon adalah ketujuh mahasiswa yang akan melewati masa liburannya ke tempat biasanya Sara bersama keluarganya di sebuah pinggir Danau Pontchartrain. Perjalanan mereka sempat dikejar-kejar oleh salah satu penjaga, Sheriff Sabin, yang ternyata orang yang pernah ketemu dengan Sara 3 tahun lalu. Kebahagiaan pun mereka rasakan dan nikmati ketika tiba di danau tersebut. Namun ternyata, kebahagiaan itu mulai berubah menjadi tempat berdarah karena salah satu teman mereka Malik mengalami kecelakaan kecil yaitu digigit oleh sebuah predator yang ganas. Beth mulai panik dan menyalahkan Sara karena semua ini ide dari Sara untuk mengajaknya ke tempat ini. Akankah mereka semua bisa keluar dari serangan makhluk predator tersebut?


Sebuah film dari distributor yang terakhir mendistribusi filmnya yang berjudul Limitless ini kembali dengan tema thriller. Relativity Media atau Rogue bisa dibilang rata-rata menghadirkan film yang variatif, dari science fiction sampai hanya mengumbar sex belaka saja seperti American Pie Beta House sudah didistrubusikan mereka. Sekarang Shark Night 3D menjadi film terbaru mereka. Hmm bisa dibilang agak berani juga ya Shark Night dibuat versi 3Dnya. Apakah ini semacam persaingan terhadap pendahulunya yaitu Piranha yang dibuatkan dalam bentuk versi 3Dnya?

Shark Night bisa dibilang sebuah film yang sangatlah biasa dari segi cerita. Dengan mengambil tema ada sosok hewan di tengah pantai, dan unsur pakaian seksi tidak akan kalian dapatkan. Oleh sebab itu, unsur menariknya film ini pun rasanya tidak ada lagi. Kalau saja Will Hayes dan Jesse Studenberg yang duduks ebagai penulis skenario film ini, membuat sesuatu yang lebih menarik lagi pasti Shark Night akan jauh lebih nikmat untuk ditonton. Kesalahan fatal pun dilakukan kedtika film ini dibuat dalam bentuk 3D. Efek 3D dari film ini pun tidak banyak. Dengan sangat terpaksa gue spoilerin yaitu ketika suasana di dalam air, perahu meledak, dan gigi hiu.

Efek-efek yang diberikan dari film ini pun bisa dibilang cukup murahan dan masih jauh bagusan Piranha kemana-mana. Ketika di dasar air pun terlihat keruh dan tidak indah untuk dinikmati. Suasana ketegangan dari film ini untungnya bisa terjaga dengan baik walaupun sebenarnya bisa tertebak alurnya. Hadirnya twist di film ini bisa dibilang poin plus dari film ini tapi sayangnya tidak sesuai harapan karena terlalu gampang untuk menyelesaikan akhir film ini.

Para pemain yang mengambil peran di Shark Night 3D bisa dibilang tidak ada yang menjual. Walaupun nama Katherine McPhee sekalipun rasanya tidak ada yang menariknya dari film ini. Keindahan tubuh Katherine cuma bisa lo lihat dari belakang dan kalaupun dari depan hanya ketika berada dalam penyiksaan saja. Aktris yang pernah meraih berbagai penghargaan ajang buat anak muda, Sara Paxton disini cukup baik memerankan karakternya. Bintang serial TV/Drama 90210, Dustin Milligan, ini bisa dibilang agak kaku ya menurut gue dan chemistry dengan Sara terlihat agak kurang. Para pemain lainnya yaitu, Chris Carmack, Donal Logue, Joel David Moore, dan Joshua Leonard.

Akhir kata, Shark Night 3D arahan sutradara dari David R. Ellis ini bisa dibilang film yang cukup buruk dan jauh dari kata menghibur sama sekali. Walaupun adanya embel-embel 3D tapi sayangnya efek 3Dnya tidak dimanfaatkan dengan baik dan rasanya cukup mubazir untuk menonton film ini dalam bentuk 3D. Akan tetapi jika menonton versi 2D rasanya suasana ketegangan bisa terjaga dengan baik sampai akhir film ini walaupun tanpa adanya keindahan para gadis-gadis pantai di film ini. :Salam JoXa:

1,5/5

Trailer: