Saturday, October 15, 2011

Review: Semesta Mendukung (2011)

Fisika adalah salah salah satu mata pelajaran yang paling ditakuti para pelajar SD-SMU hingga saat ini. Perasaan takut dan pusing duluan sebelum pelajaran pasti kalian rasakan kan? Nah sekarang John De Rantau sebagai seorang sutradara yang dahulu pernah membuat film Obama Anak Menteng, kini kembali dengan karyanya untuk mendepankan mata pelajaran Fisika di filmnya, dengan judul Semesta Mendukung. Semesta Mendukung sendiri memiliki arti yang berhubungan sama dunia fisika yaitu hukum alam dimana ketika suatu individu atau kelompok berada pada kondisi kritis maka semesta (dalam hal ini sel-sel tubuh, lingkungan dan segala sesuatu disekitar dia) akan mendukung untuk dia keluar dari kondisi kritis.. (dikutip dari Yohanes Surya) Lalu bagaimanakah kisah film Semesta Mendukung ini sendiri?

Di sebuah daerah Sumenep, Madura, tinggallah seorang anak penggemar sains dan rajin bekerja yang bernama Muhammad Arief. Arief tinggal bersama Ayahnya, Muslat, setelah ibunya, Salmah, terpaksa meninggalkan mereka, ketika usia Arief berusia masih kecil, untuk bekerja sebagai TKW di negeri Singapura. Rutinitas Arief bisa dibilang tidak seperti anak lainnya, karena dirinya harus bekerja untuk mencari uang demi bertemu ibunya, yang konon Cak Alul akan membantunya.

Di sekolah, Ibu Tari, seorang guru fisika yang pindah dari Jakarta, melihat bakat besar dalam diri Arief di bidang fisika. Ibu Tari pun bertekad mencantumkan nama Arief sebagai anak-anak jenius yang nantinya akan mengikuti olimpiade Sains di Singapura. Pak Tio dan Deborah yang awalnya kurang begitu setuju dengan rencana Ibu Tari tersebut, akhirnya mau menerima Arief sebagai kandidat anak-anak yang akan dikirimkan ke Singapura kelak.

Langsung saja ke kekurangan film ini dahulu sebelum membahas kelebihan-kelebihan dari film ini. Sebuah film yang awalnya sebenarnya bagus untuk rasa semangat terhadap anak-anak Indonesia agar bisa rajin belajar dan tidak takut akan namanya pelajaran Fisika, namun secara keseluruhan kemasan kurang begitu menarik. Film ini dibuat begitu terlalu seperti ajang perkumpulan artis yang cukup terkenal. Lihat saja dari jejeran para pemain dewasanya sudah banyak yang kita sering lihat. Sebut saja, Revalina S Temat, Lukman Sardi, Sudjiwo Tedjo, Dinda Hauw, Indro Warkop, Ferry Salim dan Febby Febiola. Saking banyaknya karakter yang di film ini pun menjadi terlihat sekali film ini kurang terasa memorable jika anda keluar dari bioskop setelah menyaksikan film ini. Kalau saja lebih diminimalisir karakter-karakternya pasti akan jauh lebih hidup film ini.

Selain itu, cerita yang dihadirkan terasa begitu cepat sebagai perjalanan seorang anak yang mau mengikuti perlombaan Sains Internasional. Kalau saja beberapa bagian dibuang yaitu ada di awal film pasti film ini lebih kelihatan real atau berdasarkan kisah nyata seorang anak olimpiade sains yang berjuang mati-matian untuk meraih mimpinya itu. Perpindahan adegan pun terlihat pengulangan adegan saja, dan anehnya pengulangan adegan itu jadi terkesan ada yang tidak nyambung dengan scene berikutnya. Selain itu, ilmu-ilmu yang menjadi bekal nanti untuk mengikuti olimpiade yang diajarkan kok kelihatan semudah itu ya? Perasaan gue soal Olimpiade Sains International itu jauh sangat lebih menguras otak dibandingkan ilmu yang diberikan film ini.

Oke sekian membahas kekurangan film ini, mari membahas keunggulan-keunggulan apa saja dari film semesta mendukung ini. Karakter dari Sayef Muhammad Billah sebagai Arief, disini cukup menyakinkan sebagai anak cerdas yang bisa melakukan apa saja dari alam sekitar. Untungnya praktikal-praktikal yang sains yang dilakukannya masih tergolong standart dan bisa dimasukkan ke dalam logika orang awam sekalipun. Kalau pemeran dewasa lainnya kayaknya tidak ada masalah yak arena memang cukup mampu memainkan karakternya disini. Yang jauh lebih menarik adalah sosok Indro Warkop yang dapat mencairkan suasana dan membuat gelak tawa.

Keindahan sinematografi juga menjadi keunggulan dari film ini, bagaimana keindahan dari kota Sumenep terlihat asri dan cerah dipandang mata. Scoring dari film ini cukup bisa menyatu dengan suasana senduh, galau, bimbang dan ceria sekalipun. Rasa semangat untuk menceritakan kepada anak-anak Indonesia bahwa Fisika tidak sesulit mereka bayangkan terlihat cukup berhasil diberikan film ini. Dengan adanya bantuan dari lingkungan sekitar, semua penyelesaian soal fisika bisa terjawab. Berharap film ini bisa menjadi tontonan inspiratif buat anak-anak Indonesia bahwa tanpa usaha kerja keras dan rasa semangat tinggi, pencapaian untuk meraih sesuatu tidak akan mustahil untuk mendapatkan semuanya! :Salam JoXa:


3/5

Trailer:

No comments:

Post a Comment