Senin, 31 Oktober 2011

Review: [Lagu + VC] Budi - Do Re Mi (2011)

(do) doakan ku harus pergi (re) relakan aku di sini
(mi) misalnya aku kan pulang (fa) fastikan kau tetap menunggu
(sol) soal cinta luar biasa (la) lama-lama bisa gila
(si) siapa yang tahu pasti (do) doakan aku di sini

Video Clip



Siapa coba yang tidak mengetahui dari lirik lagu di atas? Bisa dibilang hampir semua sudah mengenal dan mengetahui lirik tersebut. Sekarang yang jadi masalah adalah siapa orang yang menyanyikan lagu tersebut sehingga bisa menghipnotis dengan lagunya yang sangat simple tersebut? Yak beliau adalah Syahbudin Syukur yang dikenal dengan nama Budi - Do Re Mi. Mengapa Budi - Do Re Mi? Karena lirik lagu diatas tadi judulnya adalah Do Re Mi. Pria kelahiran 19 September 1984 ini, sebenarnya pernah membuat Band di kota Bandung. Namun karena sesuatu hal, Budi mencoba untuk bersolo karir.

Kalau ditelusuri lebih lanjut, jenis karakter suara Budi bisa dibilang santai tapi memiliki karakter yang cukup kuat. Jadi kalau kalian mencoba sebentar menutup mata mendengarkan suaranya pasti sudah bisa menebak suara siapa dari karakternya tersebut. Walaupun dirinya terlihat seperti Jason Mraznya Indonesia tapi gue berkata lain kalau Budi tetep Budi sedangakn Jason Mraz ya tetep Jason Mraz. Mungkin karena mereka sama-sama menggunakan gitar atau alat musik sendiri yang mereka mainkan ketika di Video Clip jadi terkesan sama atau salah satu diantaranya terlihar mengikutinya.

Video clip Do Re Mi ini dibuat oleh sutradara muda berbakat yaitu Angga Sasongko. Beliau bisa dibilang sempat terkenal di beberapa filmnya terdahulu dan kini sepertinya lebih banyak terjun ke dunia video-video clip seperti ini. Hasil video clipnya pun terlihat mencerminkan karakter Budi yang cuek, simple dan gak neko-neko. Dengan mengambil setting di beberapa tempat dengan mendepankan Budi sebagai sosok yang cukup terkenal diantara orang sekitarnya. Tone color untuk video clipnya pun dibilang begitu natural dan soft sekali.

Lagu Do Re Mi sendiri sebenarnya telah melakukan 3 perubahan dari sejak tahun 2008 silam hingga pada akhirnya dirilis oleh versi Budi dibawah naungan label WannaB. Yak semoga saja, lagu-lagu berikutnya Budi tidak kalah pamor dengan single pertamanya "Do Re Mi" di album pertamanya nanti yang diberi nama "Satu Hari Yang Cerah". Biarlah Budi bisa tetap menjadi dirinya tanpa adanya jiplakan atau pun meniru dari gaya seorang Jason Mraz atau artis yang sudah terkenal lainnya.

Berikut adalah lirik dan kunci gitar dari lagu "Do Re Mi"

D
wa ga pat

G D
do dododododo, re rerererere
Em C
mi mimimimimi, fa fafafafafa

Chorus:
G
(do) doakan ku harus pergi
D
(re) relakan aku di sini
Em
(mi) misalnya aku kan pulang
C
(fa) fastikan kau tetap menunggu

G
(sol) soal cinta luar biasa
D
(la) lama-lama bisa gila
Em
(si) siapa yang tahu pasti
C
(do) doakan aku di sini

Int:G D

G D
adududuh duh aku percaya
Em C
kali ini kau pasti bisa yeah
G D
kuku kutanya ada yang salah
Em C D
jelas ini luar biasa

C
hal yang baik tidak mudah
Bm
tak seperti kau bicara
Am D G
mereka mengerti ini terlalu jadi masalah
C
ketika kau mulai bisa
Bm
terbiasa untuk dapat
Am D
menikmati hari-hari tanpaku di sini

[chorus]
G
(do) doakan ku harus pergi
D
(re) relakan aku di sini
Em
(mi) misalnya aku kan pulang
C
(fa) fastikan kau tetap menunggu

G
(sol) soal cinta luar biasa
D
(la) lama-lama bisa gila
Em
(si) siapa yang tahu pasti
C D
(do) doakan aku di sini

G D Em C

C
hal yang baik tidak mudah
Bm
tak seperti kau bicara
Am D G
mereka mengerti ini terlalu jadi masalah
C
ketika kau mulai bisa
Bm
terbiasa untuk dapat
Am D
menikmati hari-hari tanpaku di sini

Chorus:
G
(do) doakan ku harus pergi
D
(re) relakan aku di sini
Em
(mi) misalnya aku kan pulang
C
(fa) fastikan kau tetap menunggu

G
(sol) soal cinta luar biasa
D
(la) lama-lama bisa gila
Em
(si) siapa yang tahu pasti
C D
(do) doakan aku di sini

[int] C Bm Am G
C Bm Am D

everybody sings it!

Chorus:
G
(do) doakan ku harus pergi
D
(re) relakan aku di sini
Em
(mi) misalnya aku kan pulang
C
(fa) fastikan kau tetap menunggu

G
(sol) soal cinta luar biasa
D
(la) lama-lama bisa gila
Em
(si) siapa yang tahu pasti
C D
(do) doakan aku di sini

G
doakan ku harus pergi
D
relakan aku di sini
Em
misalnya aku kan pulang
C
fafa fastikan kau yang menunggu
G
soal cinta luar biasa
D
lama-lama bisa gila
Em
siapa yang tahu pasti
C D G
doakan aku di sini

:Salam JoXa:

Sabtu, 29 Oktober 2011

Review: L'assaut / The Assault (2011)

Peristiwa hari natal pada tahun 1994 silam, menimpa sial pada 227 penumpang dari pesawat Air France yang sedang berada di bandara Aljazair. Mereka disandera oleh empat teroris, dan beberapa diantara mereka ada yang terpaksa dibunuh dan menyebabkan pesawat akhirnya lepas landas untuk mendarat di Marseilles. Kejadian peristiwa ini pun sampai meluas dan masuk berbagai televisi. Akan tetapi semua masih penuh teka-teki dibalik apa sebenarnya yang menimpa mereka, kenapa harus mereka menjadi korbannya?

Sepertinya gue akan singkat saja mengulas film ini. Bagaimana tidak gue seakan menjadi orang paling bloon ketika melihat film ini yang lebih ke bahasa Perancis dan belum lagi penyaduran ke dalam bahasa Indonesia sendiri pun terlihat begitu terganggu. Bisa dibilang film ini adalah film kedua setelah Vanishing gue yang setidaknya menghabiskan waktu gue selama kurang lebih 95 menit untuk tetap bertahan di atas mimpi indah dengan merem melek. Film L’Assault atau The Assault ini sendiri berasal dari sebuah buku yang dikarang oleh Roland Môntins dan Gilles Cauture. Nmaun kini dibuatkan naskah filmnya oleh Julien Leclercq, sang sutradara film ini juga, bersama Simon Moutairou. Entah apa maksud dan tujuan dari para penulis nasakah membuat film ini sampai gue pun tak mengerti dengan ceritanya.

Dari segi teknis saja sudah terlihat sekali film ini tidak jelas arahnya mau ke thriller atau action karena di beberapa bagian telihat sekali seperti film dokumenter. Suara-suara tembakan yang terjadi sepanjang film ini pun bukannya memancing emosi atau adrenalin tapi malah terdengar sangat mengganggu sekali. Akhir kata, L’Assault bukanlah sebuah film yang direkomendasikan jika kalian tidak mengerti dasar-dasar bahasa perancis. Karena anda akan merasakan seperti apa yang gue rasakan ketika menonton film ini. Membingungkan dan menghabiskan waktu saja! :Salam JoXa:


Trailer:

Jumat, 28 Oktober 2011

Review: Ra.One रा.वन (2011)

Shekhar Subramanium adalah seorang bos pendiri sebuah perusahaan game. Perusahaan ini selalu menciptakan sesuatu hal yang baru sampai apda suatu hari mereka uji coba untuk membuat sebuah game yang bisa lebih kelihatan hidup. Sonia sebagai sang istri begitu setia mendukung sang suami. Walaupun awalnya hubungan Shekhar dengan Prateek, anaknya, tidaklah harmonis tapi itu semua berubah ketika anaknya mencoba alat yang dibuat ayahnya tersebut. Prateek ternyata ahli dalam hal bermain video game sehingga dirinya bisa mengalahkan musuh di dalam video tersebut, R.One dengan nama gamenya, Lucifer. Ternyata setelah dikalahkan Prateek, R.One merasa dirinya ditampar luar biasa karena bisa dikalahkan. Akhirnya dia berontak dan bisa masuk ke dunia nyata sesungguhnya. Pencarian terhadap nama Lucifer pun dilakukan R.One.

Kurang lebih sudah 5-7 film bollywood yang gue tonton sampai gue menulis review Ra.One kali ini. Berbagai genre juga sudah gue tonton. Jadi bisa dibilang gue sudah tahulah plot dan gaya cerita dari negeri Bombay ini. Sebelum menonton film Bollywood pun gue ada criteria tersendiri jadi dari 10 film yang tayang di bioskop sampai bulan Oktober ini gue tidak semuanya ditonton. Salah satu kriterianya adalah rumor yang beredar dari film tersebut. Nah, dari film Ra.One atau रा.वन atau Random Access–Version 1.0, rumor yang beredar gue dapatkan adalah sebagai film bollywood termahal pembuatannya. Sekitar 400 juta film ini dibuat sedemikian rupa, ditambah 100 juta lagi untuk dibuatkan dalam format 3 Dimensi. Sesuatu banget bukan sih?

Cerita yang dibuat oleh Anubhav Sinha, Khanika Dhillon, Mushtaq Sheikh, dan David Benullo bisa dibilang hasil dari cerita comot sana-sini dari film Hollywood. Sebut saja, Tron Legacy. Kalau dari efek visualisasi atau gerak-gerik action dari film ini lebih banyak lagi mencontek film-film Hollywood. Sebut saja, Dark Knight, Tron Legacy dan Matrix. Sesuatu banget ya mereka bisa menggunakan kesempatan mengambil produk-produk film yang seudah lebih HITS duluan. Namun disini mereka terlihat lebih berbeda dalam pembuatannya sih, jadi tidak sepenuhnya sama 100%. Aksi kebut-kebutan di film ini cukup unik dan agak tidak masuk akal. Entah memang sudah dibooking buat lokasi atau memang polisi di daerah tempat mereka kejar-kejaran minim jumlah polisi jalannya? Dengan budget yang tidak sekecil itu, film ini terlihat meyakinkan dan memanjakan mata penonton karena berbagai macam kerusakan-kerusakan dan pecahan kaca dimana-mana.

Disamaping adanya selingan tarian dan lagu di sepanjang cerita, film ini juga menyajikan unsur komedi yang menghibur. Komedinya pun tidak terlihat murahan ataupun garing sekalipun. Suasana adu gesit antar dua kubu juga terlihat berjalan dengan cukup baik. Mungkin itu balik lagi karena kostum dan efek visualisasi yang diberikan film ini tidak murahan. Para pemain disini juga bisa dibilang tampil ada yang memukau, biasa saja dan cuma sebagai pemanis film ini saja. Shahrukh Khan disini selain tampil seperti seorang superhero dari kota Bombay, juga terlihat cukup baik dalam penggalian karakternya yang berlainan. Armaan Verma sebagai anak dari Shahrukh disini terlihat cukup menarik perhatian karena gaya rambutnya dan karakter yang dia mainkan cukup berhasil dilakoninya.

Dari deretan pemain wanita, kayaknya Kareena Kapoor lah yang paling berhasil mencuri perhatian gue. Dengan menggunakan kostum yang mini tapi tetap sopan *halah* dia berhasil membentuk lekukan tubuhnya menjadi enak untuk dipandang. Sorry buat para pemainnya gue gak tahu dan tidak mau tahu lebih lanjut siapa kalian akrena gue tidak begitu kenal banget. Hahaha *ngacirrrrr. Dari segi pengisi soundtrack gue sangat terhibur dengan adanya Akon tampil di film ini. Dengan gayanya yang kahas dirinya berhasil mencuri perhatian penonton karena lagu yang dibawakan ada bahasa Indianya juga loh. Akon tetep asik juga ya kalau bawain lagu film-film Bollywood!

Ra.One bisa dibilang sesuatu yang menghibur tapi tidak sepenuhnya gue langsung menobatkan dirinya sebagai film terbaik bollywood tahun ini dan menggeser Chillar Party sebagai kandidat terkuat film bollywood terbaik tahun ini #versigue. Sayang sekali durasi yang cukup panjang seharusnya bisa dipersingkat dengan mengurangi beberapa adegan yang sangatlah mengganggu dan terkadang membuat gue mengantuk bahkan tertidur sekita 15 menit-an #ooops. Tapi kalau untuk visualisasi dan niat membuat film seperti superhero yang sudah terkenal lebih dahulu, ya tidak masalah sih dengan film ini. Minimal budget 400n juta sudah himpas dengan semua itu. So tunggu apalagi menikmati film ini sekalian lagu-lagu dari Akon. Selamat menonton. :Salam JoXa:

3/5

Trailer:

Kamis, 27 Oktober 2011

Review: Real Steel (2011)

Apa jadinya jika sebuah Robot bisa dikendalikan oleh manusia dan secara otomatis pula nantinya bisa mengikuti juga gerak-gerik manusia? Hmm bisa dibilang sesuatu yang menarik ya. Nah disinilah Real Steel akan menceritakan akan hal tersebut. Charlie Kenton seorang mantan petinju kini beralih menjadi penggerak robot di ajang pertandingan dengan robot lainnya ataupun hewan sekalipun. Akan tetapi robot-robot yang sudah dia miliki bahkan sampai Robot Noisy Boy yang cukup terkenal pun harus rusak lebur karena dikalahkan musuhnya.

Agak mundur sedikit ya, Charlie sendiri seorang bapak dari satu anak yang istrinya sudah meninggal ketika Max masih tergolong batita. Max sendiri pun belum pernah bertemu dengan ayahnya sendiri yaitu Charlie. Ternyata buah tidak jatuh dari pohonnya, Max ternyata paling gila dan tahu akan hal namanya video game yang berhubungan dengan robot-robot. Dengan bantuan ilmu dari Max pun, Charlie bisa bekerja sama dengan anaknya sendiri. Tapi itu semua tidak semudah dibayangkan karena Max sendiri belum seutuhnya milik Charlie karena hak asuh sudah diberikan kepada Adik dari istrinya.

Bisa dibilang Real Steel sebuah film yang menarik untuk ditonton. Sesuai dengan judul yang “Real” atau nyata disini kalian bisa menikmati robot-robot layaknya seperti manusia pada umumnya. Cerita yang berdasarkan cerita pendek dari judul “Steel” karya Richard Matheson dan kemudian dibuatkan dalam bentuk skenario oleh Dan Gilroy, Jeremy Leven, dan John Gatins. Gue gak tahu menahu soal cerita pendek “Steel” tersebut tapi gue disini akan melihat dari cerita panjang yang dibuat ketiga orang tadi saja. Cerita bisa dibilang hampir sama dengan “trend” film Hollywood akhir-akhir ini yaitu mengandung unsur ayah-anak di dalamnya.

Selain adanya unsur ayah-anak yang kuat, di film Real Steel ini juga menceritakan bagaimana rasa terima kasih robot kepada majikannya/penemunya sehingga mereka bisa mengikuti apa yang diperintahkan orang itu. Bisa dibilang plot akhir cerita bisa ditebak ketika pertengahan cerita. Awal cerita gue masih meraba-raba asal-usul kenapa Charlie begitu suka dengan koleksi robot-robot. Sampai pertengahan baru lah gue mengerti kenapa dia melakukan hal tersebut. Scoring dan pengisi soundtrack di film ini bisa dibilang bagus-bagus semua loh. Sayangnya gue bukan pecinta musik banget jadi gak tahu nama penyanyi dan judul lagunya *sigh*.

Sinematografi dan visualisasi dan pergerakan robot disini terlihat cukup baik kemasannya secara keseluruhan. Gue malah mengira ada orangnya di dalam robot saking seperti manusia saja yang juga memiliki perasaan. Aksi berantem robot disini bisa dibilang yang paling gue tunggu, dan hasilnya gue puas dengan aksi pertarungan robot dengan robot atau robot dengan hewan sekalipun. Para pemain disini bisa dibilang cukup berkarakter dengan baik. Dimulai dari pemain pendukungnya dahulu, Olga Fonda, Farra Lemkova, sebagai salah satu lawan dari Max dan Charlie disini, selain parasnya yang cantik dan gemesin disini karakternya sebagai cewek antagonis paling berkesan menurut gue di film ini.

Pemain cewek lainnya yaitu Evangeline Lilly bisa dibilang terlihat agak Cuma sebagai tempelan saja di film ini, walaupun dialognya lebih banyak dibandingkan Fonda, tapi kekuatan karakter dari dirinya kurang terlihat dengan baik. Chemistry dirinya dengan Hugh Jackman pun terlihat kriuk alias garing. Hugh Jackman disini bisa dibilang terlihat agak berbeda karena ciri khas dari seorang wolverine yang begitu kuat harus berubah dari segi penampilan rambut dan gerak-geriknya sebagai Charlie. Karakter dirinya disini tidak terlalu baik tapi tidak buruk-buruk amat alias biasa saja. Nah, kalau Dakota Goyo, yang pernah bermain sebagai Thor muda, berhasil mencuri perhatian gue dengan sikap keras kepala dan kegigihannya menjadi seperti sang ayahnya. Chemistry ayah anak diantara mereka berdua pun terlihat baik penampilannya.

Baiklah, akhir kata Real Steel sebuah film yang menghibur secara keseluruhan. Disini selaina danya pertarungan seru antar robot-robot yang digerakkan oleh tangan manusia dengan mesin tapi juga ada keterikatan keluarga yaitu hubungan antara ayah dan anak yang begitu kuat. So tunggu apalagi untuk menyaksikannya mulai hari ini di bioskop kesayangan anda! Selamat Menonton. :Salam JoXa:


3,5/5


Trailer: