Monday, September 19, 2011

Review: Simfoni Luar Biasa (2011)

Jayden Ruiz, seorang musisi yang memiliki suatu cita-cita menjadi seorang penyanyi yang memiliki label dan album sendiri. Namun itu semua ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kendala-kendala pun dihadapi Jayden, belum lagi konflik keluarga yang dialami sebagai anak yang tinggal sendiri di kota Manila. Permasalahan pun semakin memuncak ketika Jayden dengan terpaksa diusir dari tempat kontrakannya dan ternyata tante Jayden mengetahui soal ini. Dengan bantuan dari ibunya yang berada di Jakarta,akhirnya Jayden berangkat ke Jakarta untuk menemui Ibunya.

Ketika tiba di Jakarta, Indonesia, Jayden tinggal bersama Ibu dan keluarga baru. Jayden yang awalnya bingung dan terjebak di dunia barunya tersebut bingung mau ngapain di Jakarta. Lain lagi dengan Ibu Jayden yang sudah mempersiapkan anaknya menjadi sesuatu di Jakarta. Keesokan harinya, Jayden diajak oleh ibunya ke tempat sekolah luar biasa, sekolah yang didirikan ibunya selama ini. Setiba disana, Jayden bertemu dengan Bu Rinjani, kepala sekolah, guru lainnya diantaranya Pak Dimas. Dari sekolah tersebutlah Jayden bisa mempelajari arti sebuah plihan yang harus dipilihnya. Musik atau masa depan anak-anak sekolah luar biasa tersebut?

Film Indonesia di tahun 2011 yang bertema tentang musikal bisa dibilang tidak banyak. Maksud musikal disini adalah adanya suatu aksi nyanyi dari para pemainnya di film. Simfoni Luar Biasa adalah salah satu film Indonesia yang memiliki unsur musikal tersebut. Dengan modal adanya penyanyi asli dari Filipina langsung, Christian Bautista, film ini terasa lebih berwarna. Lalu apakah Simfoni Luar Biasa mampu memberikan kekuatan cerita secara keseluruhan? Simak review curhatan josep berikut ini tentang film Simfoni Luar Biasa.

Walaupun mengambil tema sedikit ke arah musikal namun Simfoni Luar Biasa terlihat sama saja penyampaian ceritanya seperti genre lainnya. Dengan bermodalkan plot cerita drama keluarga yang broken home dan memiliki suatu impian untuk meraihnya diberikan film ini kepada penonton. Kekuatan cerita yang dibuat oleh Maggie Tiojakin dan Awi Suryadi yang juga berperan sebagai seorang sutradara sebenarnya tidak begitu kuat. Terlihat sekali adanya plot hole-plot hole di bagian pertengahan dan sepertinya dilupakan begitu saja sampai akhir film ini. Salah satu plot hole tersebut adalah bagaimana seorang Jayden menghadapi atau beradaptasi dengan murid-murid Sekolah Luar Biasa terasa begitu cepat sekali tanpa adanya proses yang cukup masuk akal.

Selain adanya salah satu plot hole tersebut, di film ini juga terlihat body language dari anak-anak Sekolah Luar Biasa pun terlihat bukan seperti anak-anak Luar Biasa, mereka malah terlihat seperti anak-anak berpenyakit ayan. Walaupun mereka disini berakting alangkah lebih baik sebelum pengambilan gambar benar-benar diarahkan bagaimana perilaku anak-anak SLB itu sebenarnya. Setau saya secara pribadi, body language seorang yang memiliki kemampuan Luar Biasa tidak 100% sama dengan apa yang ditampilkan film ini.

Pengambilan gambar dari film ini tidak begitu adanya masalah, namun cukup gelap dan kelam pengambilan gambarnya ketika settingan di Filipina. Jadi terkesan sekali tidak seperti mengambil lokasi shootingnya di Filipina. Para pemain disini bisa dibilang hanya beberapa saja yang berhasil mencuri perhatian saya secara pribadi. Diantaranya adalah akting dari Verdi Solaiman yang cukup fantastis dengan gaya orang yang memiliki gangguan tapi tetap memiliki karakter cemburu dan bengis. Selain Verdi, akting dari Ira Wibowo dan Ira Maya Sopha juga tidak kalah menarik sebagai seorang Ibu yang sama-sama wanita karir. Yang cukup disayangkan disini adalah Christian Bautista tampil begitu datar tanpa adanya ekspresi yang pas di dalamnya. Kecantikan dari seorang Gista Putri pun terlihat disini cuma sebagai pemanis saja.

Anak-anak yang berperan sebagai anak-anak luar biasa disini terlihat sekali bakat-bakatnya disini. Kemampuan bernyanyi mereka bisa dibilang tidak boleh dipandang sebelah mata begitu saja. Suara mereka disini bisa dibilang cukup menggetarkan hati dan bisa menyentuh hati gue secara pribadi. Sebagai film yang mengambil tema musikal, Simfoni Luar Biasa bisa dibilang cukup baik untuk dinikmati sepanjang 99 menit film ini berlangsung. Sebagai produksi film yang pernah sukses dengan filmnya terdahulu, Rumah Dara, bisa dibilang Nation Pictures agak ketinggalan satu level di film terbarunya kali ini. Walaupun anak-anak luar biasa disini bermain dengan baik tapi sayangnya rasa penonton terhadap mereka kurang begitu menyatu dengan baik. Untuk lebih percayanya silahkan tonton sendiri tanggal 29 September di bioskop kesayangan anda!


2,5/5


Trailer:

No comments:

Post a Comment