Thursday, September 1, 2011

Review: The Match Factory Girl (1990)

Iris seorang perawan yang sudah tidak muda lagi usianya namun belum mendapatkan seorang kekasih juga. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya dan dirinya bekerja sebagai seorang buruh pabrik untuk membantu membiayai kehidupan keluarganya. Pada suatu malam, dirinya pun melakukan penjajakan dirinya sendiri kepada lelaki-lelaki di sebuah klub malam. Namun usaha dirinya gagal sudah karena tak seorang pun lelaki melirik kepadanya. Hingga pada penerimaan upah buruhnya, dirinya pun berniat membeli sebuah gaun untuk dapat digunakannya ketika malam nanti di klub yang biasa dia kunjungi tersebut. Ternyata usahanya kali ini tidak sia-sia, dirinya mendapatkan seorang lelaki berhidung belang dan cukup dalam hal finansial. Setelah kejadian malam yang indah tersebut, Iris ternyata tidak bisa melupakan lelaki pada malam itu. Sampai akhirnya, dia pun nekat berjumpa ke tempat lelaki tersebut dan kemudian lelaki tersebut pun dengan berat hatinya akan menjemput dirinya besok malam untuk kencan. Ternyata kencan yang Iris harapkan berakhir romants harus berubah menjadi pilu karena pria tersebut ingin semua berakhir sampai disini saja. Hati Iris pun berkeping-keping hancur dan belum lagi dirinya mengetahui bahwa ada benih janin di dalam perutnya saat itu.

Tulitikkutehtaan tyttö

Film dari Aki Kaurismaki yang berjudul The Match Factory Girl atau Tulitikkutehtaan tyttö, bisa dibilang mengalir dengan begitu lambat sekali. Bayangkan saja, hingga menit ke 13 film ini tanpa dialog sama sekali. Gue secara pribadi sebagai penonton awam yang baru pertama kali pun mengira bahwa film ini adalah sebuah film dengan peran-peran bisu di dalamnya. Suara-suara mesin yang muncul disini malah bisa dibilang lebih kencang dibandingkan dialog yang dihadirkan. Walaupun film ini berdurasi 1 jam tapi ketika menonton film ini seperti menyaksikan film berdurasi 2 jam saking lambatnya gaya cerita yang diberikan film ini.

Akan tetapi tenang saja cerita film ini tidak berakhir dengan adanya penyembahan-penyembahan cinta Iris kepada lelaki tersebut. Disini malah disajikan Iris seperti ingin melampiaskan emosinya kepada orang-orang terdekat sekalipun. Bagaimana pelampiasannya itu memang tidak seperti film-film slasher tapi bagaimana ekspresi dan tindakan yang dilakukannya untuk meluapkan rasa emosinya tersebut dibuat dengan cukup baik. Penggambaran suasana film seperti tahun 80-90an pun terlihat terasa di film ini. Dari segi kostum, lagu dan tempat setting juga terlihat dengan jelas kalau film ini memang pada era 80-90an.

Walaupun karakter dari film ini tidakbanyak, akan tetapi peran Iris cukup menyita perhatian karena dirinya berhasil memerankan peran galau, resah, gundah, dan dendam dengan baik.Selebihnya pemain-pemain lainnya hanya terlihat sebagai pemain pendukung saja untuk mendongkrak emosi dari Iris tersebut. Sebagai film yang rilis pada tahun 1990, The Match Fatory Girl, bisa dibilang cukuplah menghadirkan sebuah sajian yang didalamnya terdapat drama emosional di dalamnya. Kalau masih penasaran juga dari curhatan josep ini tentang film The Match Factory Girl arahan Aki Kaurismaki yang berhasil meraih 4 penghargaan Jussi Award 1991 dan pemenang Berlin International Film Festival 1990, silahkan saksikan sendiri film ini. Selamat menonton. :cheers:



3/5







No comments:

Post a Comment