Wednesday, September 7, 2011

Review: Captain America: The First Avenger 3D

Steve Rogers seorang pemuda yang berniat menjadi seorang relawan di suatu perkumpulan percontohan menjadi prajurit super yang bernama Captain America. Tubuh Steve yang paling berbeda dengan layaknya calon prajurit lain menjadi faktor terhambatnya rasa kepercayaan para pelatih disana untuk meluluskan dirinya. Namun demikian, Dr. Abraham melihat sosok prajurit yang lain dari dalam Steve dibandingkan kandidat lainnya. Dengan bantuan dan dukungan dari Bucky Barns dan Peggy Carter akhirnya Steve bergabung untuk menghancurkan RED SKULL, pemimpin organisasi HYDRA yang berusaha menaklukkan dunia ini.

Siapa coba tidak mengetahui salah satu hasil dari Marvell Studios ini? Waktu gue masih berusia TK dan SD pun nama Captain America pasti salah satu pembicaraan superhero gue pada saat itu bersama teman-teman lainnya. Selain Captain America sendiri, juga ada Hulk, Iron Man, Cat woman, Batman, Superman dan Spiderman. Semua itu bisa gue bilang superhero gue ketika gue masih kecil *so sweet*.

Ketika film ini sudah mulai diperbincangkan mau diproduksi dalam sebuah film, gue kalau boleh jujur begitu gembira sekali apalagi sebelum mereka berkumpul semua jadi satu di film The Avenger nanti tahun 2012. Penasaran? Simak review curhatan josep berikut ini tentang Captain America: The First Avenger kali ini.

OK disini gue akan mereview secara umum, dimana bukan berdasarkan karena gue ngefans dengan karya-karya marvell studios. Ekspetasi tinggi sebelum menonton film sudah gue berikan kepada film ini. Dan setelah menonton film ini, ternyata sedikit jatuh dari ekspetasi yang gue harapkan sebelumnya. Disana-sini gue melihat banyaknya kekurangan dan bahkan membuat gue tidak nyaman ketika menonton film ini. Dari segi cerita keseluruhan sebenarnya tidak masalah ya tapi gue cukup terganggu amat sangat di bagian penyampaian alur film ini. Entah kenapa bagian sebelum pertengahan menuju akhir sebuah film selalu membosankan buat gue apalagi kalau film tersebut berdurasi diatas 2 jam.

Arahan sutradara Jumanji dan Jurassic Park, Joe Johnston, bisa dibilang terlihat kurang maksimal. Kekurangan tadi sudah gue sebutkan sebagian di paragraf sebelumnya, selanjutnya akan gue bahasa lagi sesaat lagi. Entah kenapa penggambaran dari film ini gue melihatnya terlihat begitu kelam dan gelap ya? Sampai gue pun mengucek-ngucek mata gue, mungkin karena faktor mata dan ternyata tidak juga setelah gue bandingkan ketika menonton Iron Man dan Iron Man 2 terlihat lebih jernih mereka dibandingkan Captain America: The First Avenger kali ini. Belum lagi adanya teknologi 3 dimensi yang dihadirkan film ini. Format 3 dimensi tersebut tidak begitu banyak terlihat di sepanjang film ini, itu juga disebabkan karena banyaknya dialog yang diberikan sepanjang film ini.

Efek visual yang diberikan film ini bisa dibilang cukup membuat gue tercengang karena awalnya gue tidak menyangka kalau Steve Rogers itu Chris Evans tapi karena adanya faktor perubahan dari efek visual barulah kelihatan baru itu Chris Evans sesungguhnya. Dari segi action pun juga tidak ada masalah ya karena disini terlihat juga ada faktor-faktor CGI di dalam actionnya. Scoring film ini juga lumayan ok untuk didengar, apalagi memang suasana old atau vintage yang dihadirkan film ini dari awal sudah begitu terasa.

Kalau dari deretan pemain rasanya tidak ada yang kurang ya, sebut saja Hugo weaving yang menjadi Red Skull terlihat cukup bengis dan kejam untuk menguasai dunia ini. Hayley Atwell walaupun dengan dandanan vintage tapi tetap terlihat cantik sebagai pemimpin dari Chris Evans.

Chris Evans pun disini terlihat begitu baik memerankan perannya sebagai Steve Rogers, dengan modal tubuh dan kekuatan yang prima. Disini juga ada starks loh, dimana itu ayah dari Steve Rogers. Nmaun pemainnya bukan pemain Iron Man tapi cukup miriplah karakternya. Gue cuma berharap nantinya di The Avenger bisa terlihat lebih maksimal lagi dari penggabungan Iron Man, Hulk, Captain America, dan Thor disini. Walaupun cerita yang ditulis Christopher Markus dan Stephen McFeely (FYI, mereka juga sempat duet dalam menulis film Narnia) disini kurang begitu maksimal untu tontonan yang menghibur dan nyaris membuat gue tertidur saking bosannya, tapi efek visual bisa menjadi sedikit dongkrak-an dari film ini menjadi lebih baik. Selamat menonton. :cheers: NB: JANGAN KELUAR SEBELUM CREDIT TITLE DARI FILM INI BENER-BENER HABIS KARENA ADA SESUATU YANG WOW!

2,5/5

Trailer:

No comments:

Post a Comment