Senin, 26 September 2011

Review: Badai di Ujung Negeri (2011)

Badai dan Joko adalah dua sahabat yang sama-sama memiliki profesi sebagai marinir. Namun peletakan tempat pekerjaan mereka membedakan hal semua itu. Badai ditugaskan di pos jaga perbatasan Indonesia di kepulauan Riau di laut cina selatan. Tiba-tiba Kepulauan tersebut pun menjadi resah dengan ditemukannya mayat di pinggir pantai. Badai pun menjadi terbebani karena itu semua merupakan tanggung jawab dirinya sebagai petugas keamanan disana. Di sisi lain, Badai dihadapkan suatu jawaban yang pasti tentang hubungannya dengan Annisa, gadis yang selama ini dipacarinya. Kehadiran Joko pun untuk membantu permasalahan yang dihadapi Badai ternyata membuat semuanya menjadi keruh karena Joko masih memiliki ras dendam terhadap Badai akibat peristiwa setahun lalu atas kehilangan adik Joko, Nugi.

Ketika melihat trailernya bisa dibilang gue cukup tertarik melihat cerita yang diangkat. Cerita tentang perbatasan kembali diangkat menjadi sebuah film, setelah film Batas yang tayang pada beberapa bulan lalu. Agung Sentausa, sutradara muda yang konon dibilang idealism ketika prescon film ini sepertinya mau membuat sesuatu yang berbeda dari film-film Indonesia yang sedang tayang akhir-akhir ini. Lalu bagaimanakah hasil cerita keseluruhan dari Badai di Ujung Negeri? Simak review curhatan josep berikut ini tentang film Badai di Ujung Negeri.

Cukup memuaskan adalah kata yang terlontar dari mulut gue ketika selesai menyaksikan film ini beberapa waktu lalu. Walaupun mengambil tema perbatasan suatu tempat, tapi unsur drama percintaan pun tidak lupa dimasukkan film ini. Tema perbatasan pun tidak sepenuhnya dibahas disini karena film ini cenderung lebih ke pembajakan kapal tanker oleh seorang orang kaya yang merupakan warga dari kepulauan itu sendiri. Bisa dibilang skenario film ini agak kedodoran di bagian beberapa 10 menit awal setelah prolog dari film ini. Terlalu banyak karakter-karakter pun menjadi sesuatu yang cukup kendala dari film ini, jadi tidak fokus untuk melihat karakter yang gampang diingat.

Untungnya setelah kekurangan tersebut bisa diatasi dengan cerita yang jelas diutarakan film ini yang ditulis oleh Arif M. Syarif. Adanya unsur perang antar dua kubu pun terlihat cukup apik dibuat film ini. Dengan mengambil suasana sinematografi yang gelap dan mengambil lokasi hutan, dan ada sungainya dengan iringan suara tembak-tembakan dan bom menjadi daya hangatnya film ini. Scoring yang diiringi oleh Ipang pun terasa lebih hidup suasana yang menyelimuti film ini.

Para pemain disini terlihat kurang gampang diingat walaupun penampilan mereka sebenarnya tidaklah begitu mengecewakan. Sebut saja Arifin Putra sebagai Badai, disini lebih terlihat nyaman dan menjiwai. Si cantik Astrid Tiar pun terlihat begitu mempesona di film ini, belum lagi dengan logat yang cukup fasih dimainkan beliau disini. Yama Carlos sebagai Joko dengan karakter pendendam terlihat kurang begitu pembawaannya karena pada dasarnya mata dari Yama pun memang sudah terlihat pemarah.

Yang menarik disini sebenarnya karakter yang diperankan Jojon disinilah yang lebih menarik dibandingkan pemeran-pemeran utama di film ini. Sosok Jojon yang selama ini dikenal sebagai pelawak denga kumis khasnya itu pun harus berubah drastis menjadi seseorang yang bengis. Namun cukup disayangkan disini karakternya kurang begitu digali lebih dalam. Pemain lainnya seperti Edo Borne, Dey Murphy, Ida Leman, Adrian Alim dll hanya menjadi pemanis saja di film ini. Pengambilan gambar di dasar laut ketika melakukan aksi diving bisa menjadi poin plus dari film ini.

Sebagai produksi debutnya, Quanta Pictures bisa dibilang cukup bisa diperhitungkan atas filmnya pertama ini. Semoga saja produksi selanjutnya dapat menghasilkan film-film yang cukup[ berkualitas dan semenarik dari Badai di Ujung Negeri ini. So, tunggu apalagi untuk saksikan sendiri film Badai di Ujung Negeri mulai tanggal 29 September 2011 di bioskop kesayangan anda!


3/5


Trailer:

Sabtu, 24 September 2011

Review: The Ledge (2011)

Gavin, seorang atheis, sedang mengalami kegalauan dalam hidupnya, dirinya harus mengambil keputusan diantara dua pilihan yaitu melompat dari tepi atas gedung atau wanita yang dicintainya secara terlarang, Shana. Joe, sebagai suami Shana, merasa pantas melakukan hal tersebut kepada Gavin. Dengan lebih mengandalkan ilmu agama yang dimilikinya dirinya selalu menjadikan sesuatu menurut berdasarkan kitab suci yang dibacanya. Di sisi lain, Detektif Hollis baru mendapatkan kabar dari dokter bahwa dirinya ternyata mandul. Lalu dirinya pun bertanya-tanya darah siapakah yang mengalir di 2 anak yang selama ini dia anggap anak?

Menarik adalah kata yang gue lontarkan pertama kali ketika selesai menyaksikan film ini. Sebelum menonton film ini gue memang belum melihat trailer ataupun membaca sinopsisnya, akan tetapi gue sudah melihat rating dan komentar dari salah satu “suhu” review saya. Di dalam reviewnya memang sedikit menyiggung kalau film ini nantinya ada hubungannya sama atheis dan agama. Setelah tahu akan hal itu, gue semakin penasaran sama cerita yang dibuat dengan tema seperti itu. Daripada penasaran, yuk bareng-bareng simak review curhatan josep berikut ini tentang film The Ledge.

Cerita dan penyutradaraan yang dibuat oleh Matthew Chapman ini bisa dibilang menarik buat ditonton. Berbagai konflik yang dihadirkan sepanjang film ini bisa dibilang cukup beragam saling beradu timpa sana-sini. Diantaranya, bagaimana sikap seorang Joe yang terlihat begitu rohanis sekali, namun ternyata itu tidak begitu terlalu disukai istrinya sendiri. Belum lagi sikap Gavin disini sebagai seorang yang atheis dan memiliki satu kontrakan yang ternyata gay dan memiliki pasangannya sendiri. Satu lagi konflik Detektif Hollis sendiri bersama keluarganya.

Pembawaan alur cerita film ini bisa dibilang maju mundur ya karena memang lebih cenderung menjelaskan tentang asal usul penyebab Gavin bisa berada di atas tepi gedung bertingkat. Sayangnya pembawaan alur tersebut terlihat sekali seperti serakan-serakan gambar puzzle yang harus disusun sendiri oleh penonton.

Cerita atheis dan unsur agama yang gue kira kuat sepanjang film, ternyata hanya sebatas penggalan-penggalan ayat saja untuk menguatkan dialognya. Gue melihat film ini jadi seperti melihat kisah terlarang antara Gavin dan Shana, dan juga kisah teman Gavin yang gay, Chris, bersama pasangannya. Sayangnya, karakter Chris disini tidak begitu banyak digali lebih dalam dan terlihat hanya tempelan konflik saja.

Para pemain bisa dibilang lumayanlah mendalami karakternya masing-masing. Sebut saja Charlie Hunnam sebagai Gavin disini terlihat bermain dengan baik sebagai sosok yang atheis dan teguh pada pendiriannya. Patrick Wilson yang sempat mewarnai perfilman pada bulan Juni lalu dengan Insidious, disini terlihat sebagai suami yang terkhianati dan harus berubah menjadi macan dan siap menerkam siapa saja yang mencoba mengganggu keluarganya. Liv Tyler, aktris yang pernah meraih penghargaan sebagai Best Female Perfomance MTV Movie Awards 1999 di fillmnya Armageddon (1999), disini terlihat tanpa lagi adanya keraguan dalam dirinya untuk berakting. Dengan karakter seorang istri yang menginginkan hasrat dari pria lain yang bukan suaminya cukup berhasil dimainkannya.

SSelain ketiga peran tersebut sebenarnya ada lagi, yaitu Terrence Howard sebagai Detektif Hollis yang terpaksa harus rapuh karena merasa dibohongi istrinya selama ini kalau 2 anak yang dianggapnya anak selama ini oleh dirinya ternyata bukan anaknya. Christopher Gorham yang memerankan peran gay disini bisa dibilang tidak begitu terlalu frontal banget bermainnya malah terlihat aman-aman saja, mungkin faktor jalan cerita yang tidak mau membesarkan kisah Chris sendiri di film ini. Scoring yang indah dapat menghiasi telinga anda di sepanjang film ini.

Akhir kata, The Ledge bisa dibilang tidak begitu terlalu ke arah atheis atau agama tertentu saja. Disini bisa diambil sentilan-sentilan yang dapat diresapi dan dapat diperbaiki di kehidupan anda selanjutnya. Sebenarnya sederhana saja yaitu bagaimana mempertahankan hawa nafsu jika anda memang sudah memiliki status pasangan milik orang lain. Selain itu, dalam menilai sesuatu janglah hitam dan putih, siapa yang bersalah haruslah dihukum karena bla bla bla bla, kita pun sebagai penghukum harus intropeksi juga apakah kita sudah se”putih” dari si korban tersebut? Terkadang itu yang sering kali dilupakan oleh semua orang. Selamat menonton!


3,5/5


Trailer:

Review: Conan The Barbarian (2011)

Sebagai anak yatim piatu, Conan hidup menjadi anak yang kuat dan dipenuhi rasa dendam kepada Khalar Zym atas kematian ayahnya. Sang ibu meninggal ketika melahirkan dirinya. Dalam perjalanannya menuju Hyboria, Conan tidak sengaja bertemu dengan Tamara dan membuat dirinya jatuh cinta. Selama perjalanan tersebut, ternyata Khalar Zym sendiri sedang melakukan pencarian juga terhadap keturunan terakhir yang ternyata tidak lain tidak bukan adalah Tamara sendiri. Pencarian Khalar pun tidak sendiri karena ditemani anaknya Marique yang begitu kejam dan menggoda.

Akhirnya gue bisa juga mereview film ini setelah hampir 2 minggu gue tunda akibat aktivitas yang padat *curhat*. Kalaupun ada kesalahan kata-kata harap dimaklumi saja karena gue ga begitu ingat lagi film ini secara keseluruhan. Belum lagi gue sempat ngantuk ketika menonton film Conan The Barbarian ini. Daripada penasaran yuk simak review curhatan josep berikut ini tentang film Conan The Barbarian.

Ketika mendengar bahwa film ini di kasih rating 0/10 oleh kritikus film di luar negeri gue langsung bengong dan gak habis pikir apa kesalahan fatal yang diberikan Marcus Nispel sebagai sutradara film ini. Ketika selesai menyaksikan film ini gue pun berpikir rasanya masuk akal juga rating itu diberikan kepada film ini. Tapi gue secara pribadi tidak sesadis kritikus film itu juga yang tidak memberikan rating apapun terhadap film ini. Walaupun cerita dibuat amatlah tumpuk menumpuk dan terlalu singkat akibat pemotongan LSF yng barbar, tapi setidaknya efek visualisasi film ini begitu nyaman gue nikmati.

Walaupun visualisasi film ini cukup baik tapi sayangnya sinematografi film ini terasa begitu gelap sekali. Memang sih ini tipe-tipe film dark gitu tapi bukan berarti faktor kekurangan cahaya dan membuat penonton terasa begitu buram ketika menonton film ini dong.

Kayaknya sudah bosan ya gue berkomentar soal subtitle yang dibuat Parkit Film selaku pendistribusi film ini ke Indonesia, karena hasilnya toh sama saja subtitle terlihat begitu berantakan. Para pemain bisa dibilang tidaklah begitu istimewa ya, apalagi Jason Mamoa yang terlihat kurang greget dan macho bila dibandingkan film dahulunya yang diperankan oleh Arnold S. Rachel Nichols pun terlihat hanya sebagai pemanis film ini, begitu pula dengan Rose McGowan yang terlihat cukup meyakinkan dengan make-upnya sebagai Marique. Akhir kata Conan the Barbarian terlihat sekali kurang greget jika memang ini mau dibuat begitu sadis. Selamat menonton.


1/5


Trailer:

Rabu, 21 September 2011

Review: Final Destination 5 3D (2011)

Siapa coba yang tidak tahu dengan film Final Destination? Walaupun mereka ada yang tidak berani menontonnya sekalipun pasti pernah mendengar desas desus cerita dari kanan kiri dari film ini. Bisa dibilang cerita Final Destination sendiri sama saja plotnya dari cerita yang pertama sampai keempat yang tayang sekitar 2 tahun lalu. Cerita pun hanya usaha demi usaha dilakukan para pemain untuk mengatasi kematian yang seharusnya ditakdirkan kepada mereka. Nah di tahun 2011 Final Destination 5 kembali beraksi lagi!

Cerita pun sekarang berganti lagi yaitu ada hubungannya sama jembatan runtuh. Sam, Molly, Peter, Candice, Olivia, Isaac, Nathan, Dennis dan 17 karyawan lainnya berniat melakukan retret bersama. Namun kematian yang seharusnya menimpa mereka dengan sangat beruntung mereka terhindar berkat bantuan dari Sam yang memiliki penglihatan kematian tersebut. Setelah kematian 17 orang karyawan lainnya tersebut, permainan kematian satu per satu kepada 8 orang tersebut pun dimulai…..

Aksi Final Destination kayaknya tidak pernah bosan untuk dinimakti bagi pecinta tipe film seperti ini! Sebelum menonton film ini jangan berharap anda akan mendapatkan cerita yang masuk akal dengan jalan cerita kematian yang menimpa para pemain. Semua itu akan membuang energi kalian saja nantinya! Jadi ketika menonton film ini anggap saja ketika haus hiburan dari sebuah film. Akan tetapi disarankan bagi yang punya penyakit parno sama darah dan benda-benda tajam sebaiknya tidak menonton film ini. Untuk lebih jelasnya yuk simak review curhatan josep berikut ini tentang film Final Destination 5.

Bisa dibilang Final Destination 5 adalah debut dari Steven Quale sebagai seorang sutradara film layar lebar. Sebelumnya beliau berpengalaman ke bidang asisten sutradara, konon film-filmnya cukup sukses loh diantaranya Titanic dan terakhir Avatar. Sebagai langkah debut, bisa dibilang juga Steven Quale cukup berhasil membuat film Final Destination 5 dengan lokasi tempat kejadian yang berbeda walaupun tetap dengan plot yang sama. Disini mungkin unsure kesadisan dari cerita Final sendiri tidak begitu sadis dan membuat ngilu ya dibandingkan cerita Final sebelum-sebelumnya. Entah apa karna faktor adanya potongan dari Badan Sensor Filmkah? Tapi gue disini ketika menonton filmnya yang berformat 3D pun tidak merasakan sesuatu yang ngilu sekali.

Kematian-kematian yang ditimbulkan dari film ini terkesan jauh lebih halus dan bermain aman. Kenapa gue bilang bermain aman? Karena ada beberapa bagian yang gue berharap sesuatu yang lebih eh ternyata tidak terjadi. Padahal ketika sebelum kejadian itu berlangsung sudah ada semacam pembuka bahwa bakal ada sesuatu yang menarik nih nanti pada saat salah satu kematian tersebut. Walaupun agak kecewa sedikit tapi untungnya efek visual 3 Dimensi yang dihadirkan film ini begitu menolong semua itu. Kualitas 3Dnya pun dibandingkan seri Final Destination 4, disini jauh lebih baik. Cipratan-cipratan darah dan benda-benda tajam akan menghiasi kacamata 3D anda sepanjang 82 menit film ini berlangsung.

Ada yang menarik dari film ini yaitu Final Destination 5 ada hubungannya dengan cerita salah satu dari keempat Final Destination sebelumnya. Untunglah hubungan cerita untuk mengaitkan hal tersebut dibuat begitu agak sedikit masuk akal lah. Akhir kata, Final Destination hanya menang dari segi penampilan kemasan efek 3 Dimensi saja. Lupakanlah dari segi cerita karena tetap saja plotnya dengan kisah-kisah Final Destination sebelumnya. Belum lagi para pemain disini pun terlihat sekali tampil biasa sekali. Sebut saja, Nicholas D'Agosto, Emma Bell, Tony Todd, Courtney B. Vance, Miles Fisher, David Koechner. So tunggu apalagi untuk menyaksikan sendiri aksi dari kematian-kematian yang tidak bisa dielakkan oleh para pemain disini namun disini lebih dahsyat karena efek 3D yang memuaskan! We want more another Final destination!!!

2,5/5

Trailer:

Selasa, 20 September 2011

Review: Mati Muda di Pelukan Janda (2011)

Bunga seorang transgender yang sedang mengalami kegalauan dalam hidupnya. Untunglah kegalauan tersebut hilang ketika seorang Rahmat kecil dengan lugu dan polosnya menghampiri dirinya. 18 tahun kemudian Rahmat kecil tadi tumbuh menjadi lelaki tulen yang dibesarkan oleh seorang Bunga yang seorang transgender. Dengan modal usaha Salon Mawar dari Bunga lah, Rahmat bisa sampai menuntaskan sekolahnya sampai jenjang SMU. Rahmat pun berniat mencari pekerjaan sendiri demi membantu biaya hidup Ibu angkatnya tersebut.

Di lingkungan rumah Rahmat pun tinggallah 2 orang janda yang begitu sama-sama menyukai Rahmat. Ratih, janda yang sudah ditinggal 2 tahun oleh suaminya yang kini berprofesi sebagai tukang jahit. Lain halnya dengan Mpok Sari yang konon kabarnya Cuma mengaku sebagai janda biar usaha warung nasi “Sari Nikmat” miliknya bisa laris dipenuhi pelanggan hidung belang. Kini Rahmat pun harus memilih salah satu diantara mereka, namun itu semua harus dilalui dirinya dengan masalah-masalah yang mempertaruhkan nasib dirinya sendiri.

Sentra Mega Kreasi? Apa yang terlintas dari pikiran kalian ketika mendengar nama PH Film ini? Pastilah unsur Film yang berbau esek-esek yang terlintas di pikiran anda. Belum lagi fakta yang menunjukkan bahwa produksi film ini sempat berhasil menjadi penonton terbanyak di tahun 2011 namun kini harus bergeser ke posisi 2. Dan kini SMK kembali dengan judul yang membawa unsur Janda di dalamnya. Hmmm pasti yang terlintas di pikiran penonton adalah bahwa film ini ada unsur sexnya kan? Tenang dulu! Sepanjang 84 menit ternyata penonton tidak dibawa sepenuhnya ke dunia pakaian-pakaian minim yang hanya mengumbar-umbarkan dada belaka saja. Sebaliknya, penonton akan dibawa ke jalan yang benar dan diberikan pesan moral di dalamnya.Penasaran? Simak review curhatan josep berikut ini tentang film Mati Muda Di Pelukan Janda.

Bisa dibilang Mati Muda Di Pelukan Janda sebuah film cukup serius yang dibuat Sentra Mega Kreasi sampai tahun 2011. Kalau boleh flash back sejenak, rata-rata produksi filmnya selalu tidak jauh dengan tebar-tebar dada besar atau unsur sex belaka. Namun sepertinya kali ini Shankr X bersama Helfi Kardit agak “sadar” dikit membuat sebuah film. Dengan mengambil tema Janda dan ada unsur transgender di dalamnya, rasanya kalau tidak dibuat secara benar di jalannya pasti akan membuat penonton bosan atau malah keasyikan sendiri. Untungnya Hilman Mutasi dan Bintang Timut Team cukup lumayan memberikan cerita yang baik dengan adanya pesan-pesan moral di dalamnya.

Pesan moral disini bisa diantaranya adalah jangan memandang Janda sebelah mata karena walaupun mereka Janda tapi mereka juga memiliki semangat hidup. Visualisasi janda disini untungnya sesuai dengan porsinya. Walaupun tetap adanya tebar-tebar pesona dada dari 2 pemain disini yaitu Shinta Bachir dan salah satu lagi pelanggan salonnya Bunga. Selebihnya sepanjang film ini disajikan dengan wajar-wajar saja. Mungkin yang cukup mengganggu disini adalah unsur komedi di dalamnya terasa begitu garing dan terlihat maksa. Dialog yang dihadirkan tidak lucu dan dapat membuat penonton mengerutkan kening.

Pengambilan gambar dari film ini pun terasa biasa saja dan juga scoring dari film ini pun terlihat Cuma sekedar tempelan belaka saja. Yang paling menggelikan dari film ini adalah ketika dimana Ihsan mengalami jatuh dari genteng namun ketika jatuh bajunya tetap bersih dan juga luka yang di hadapinya pun tidak ada. Untungnya unsur antagonis di film ini cukup membantu jalan cerita film ini. Karena menurut gue secara prinadi film ini terasa kurang kokoh ketika selesai 1 jam pertama. Barulah setelah 1 jam pertama datanglah antagonis di dalam film tersebut.

Para pemain disini bisa dibilang tampil biasa aja tanpa adanya keistimewaannya sendiri. Malah bisa dibilang tidak ada pemain yang cukup terkenal yang disajikan film ini. Lihat saja di film ini nanti lo akan melihat kakek-kakek tua yang horny, belum lagi segerombolan anak-anak kecil di sekitar tempat tinggal Rahmat yang begitu banyak, tukang bajaj, penggila obat perkasa, dan pria-pria hidung belang tapi dengan tampang yang amatlah mengkerut. Ya bisa dibilang Mati Muda di Pelukan Janda tidak seburuklah dengan judul film ini yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan film ini. Dan juga didalamnya tidak begitu banyak unsur sex atau bertebaran dada dimana-mana. Bila dibandingkan dengan duel Helfi dan Shankr yang sebelum ini, mereka bisa dikatakan naik tingkat 1 untuk di film ini. Saksikan sendiri mulai tanggal 22 September akan datang!


2/5

Trailer: