Tuesday, August 2, 2011

Jakarta Maghrib (2010)


Nama seorang Salman Aristo pastilah tidaklah asing saat ini, beliau cukup dikenal sebagai penulis sebuah skenario film. Projek beliau sendiri sebagai penulis film segera tayang di bioskop kesayangan anda. Cukup mengejutkan sih ketika mengetahui Salman Aristo akan membuat sebuah kumpulan film pendek (omnibus) namun tetap memiliki benang merah yang berjudul Jakarta Maghrib. Di dalam film Jakarta Maghrib sendiri terdapat 6 cerita pendek dengan judul yang berbeda-beda diantara lain, IMAN cuma ingin NUR, ADZAN, Menunggu AKI, Cerita Si IVAN, Jalan Pintas dan Ba’da. Daripada penasaran simak curhatan josep berikut ini.

Cerita berawal dengan judul IMAN cuma ingin Nur. Iman seorang bapak dari satu anak yang berprofesi sebagai satpam begitu kelelahan dan ingin meluapkan hasrat jasmaninya ke istri tercinta, Nur. Namun sayangnya, semua itu ahrus dikubur dalam-dalam karena anaknya yang masih bayi selalu merengek-rengek dan belum lagi kehadiran mertuanya di tempat tinggalnya tersebut.

Cerita kedua berjudul Adzan, yang menceritakan tentang seorang preman, Baung, yang tidak begitu peduli dengan agama dipertemukan dengan Pak Armen, seorang orang tua yang berprofesi sebagai petugas kebersihan musholla. Perbincangan yang awalnya menggelitik hingga serius tertuang semua di tempat dagangan Pak Armen.


Cerita ketiga berjudul Menunggu Aki, tentang penjual nasi goreng yang bernama Pak Aki. Dia terkenal di sebuah komplek perumahan karena beliau menyajikannya dengan arang. Menjelang Maghrib pun Pak Aki tidak datang-datang juga, padahal pelanggannya yaitu Akbar, Tuti, Randra dan Indra, sudah menunggu cukup lama dan menyebabkan mereka bisa saling bercakap-cakap yang baru pertama kali mereka lakukan sebagai sesame tetangga komplek perumahan.

Cerita keempat berjudul Cerita Si Ivan, tentang seorang anak kecil yang bernama Ivan yang memiliki hobi bermain game rental di tempat langganannya. Ketika dirinya meluangkan waktu untuk membolos sekolah demi bermain game rental ternyata tempat dia biasa bermain sedang digunakan pelanggan lain. Dengan akalnya, Ivan menceritakan cerita-cerita horror yang membuat pelanggan ketakutan dan ternyata membuat dirinya sebenarnya jauh lebih ketakutan.

Cerita kelima berjudul Jalan Pintas, yang menceritakan tentang sepasang kekasih yang sedang menuju tempat cathering untuk mengurus pernikahan adik si cowok. Sepanjang perjalanan suka duka mereka alami karena ego mereka masing-masing. Agar bisa sampai tempat tujuan sebelum maghrib, jalan pintas pun mereka lakukan.

Cerita keenam berjudul Ba’da yang menggabungkan semua tokoh dalam kelima cerita sebelumnya.

Sebagai debut dari seorang penulis film Indonesia, Salman Aristo, bisa dibilang belum dikatakan berhasil sesukses karya beliau sebelumnya sebagai seorang penulis. Penyutradaraan Jakarta Maghrib yang dilakukan beliau terjadi kekurangan dari segi teknisnya. Ketidakstabilan dalam memfokuskan pengambilan gambar dan editan dari Cesa David bisa dibilang ada bagian yang agak cukup kasar di salah satu part. Dimana terjadi perpindahan adegan yang berbeda padahal masih dalam konteks yang sama. Kalau dari cerita yang ditawarkan, bisa dibilang cukup ke kehidupan sehari-hari.

Untungnya juga casting directornya jeli memilih para pemain yang notabene cukup berpengalaman dalam berakting, jadi dalam berakting bisa dibilang tidak ada yang bermasalah. Berbagai epsan yang diutarakan melalui dialog antar pemain bisa dijadikan sentilan kecil dan cerminan buat penonton tanpa adanya unsur menceramah atau mendikte. Akhir kata, Jakarta Maghrib tontontan wajib yang harus kalian saksikan di bioskop terdekat saat ini, yang sebelumnya pernah singgah di Jiffest 2010. Selamat menonton. :cheers:

3/5

Trailer:

No comments:

Post a Comment