Wednesday, August 31, 2011

Dream Home 維多利亞壹號 (2010)

Impian memiliki sebuah tempat tinggal yang sesuai denga keinginan pastilah idaman semua orang pada umumnya. Berbagai macam usaha akan dilakukan untuk mewujudkan impian tersebut. Namun apakah wujud tersebut harus melibatkan namanya suatu pendarahan akan banyak orang? Nah Dream Home memiliki cerita yang menarik untuk ditonton. Namun sangat disarankan jika memang anda tidak kuat dengan cipratan darah dimana-mana alangkah lebih mengurungkan niat untuk menonton film ini. Penasaran baca review curhatan josep tentang Dream Home? Silahkan simak curhatan josep berikut ini.

Cheng Lai-Sheung, gadis kecil yang begitu polos dan cantik yang memiliki satu impian di waktu usianya kanak-kanak dahulu. Impian tersebut terlintas di pikirannya ketika melihat sebuah tempat tinggal yang terkenal di Hong Kong. Dirinya sangat menginginkan suatu hari nanti jika dia sudah dewasa dan bisa mencari uang sendiri, mau membelikan tempat tinggal tersebut kepada keluarganya tersebut. Hingga dirinya beranjak dewasa pun ternyata impian tersebut tidak hilang begitu saja. Dengan hasil kerja keras banting tulang pun dirinya bertekad untuk mengumpulkan uang agar bisa membeli tempat tinggal tersebut. Kerja kerasnya pun ternyata tidak membuahkan hasil yang baik, kini Cheng pun berubah menjadi seorang yang berdarah dingin.

Menonton Dream Home atau 维多利亚壹atau Wai dor lei ah yut ho saat ini bisa dibilang cukup ketinggalan buat gue karena hampir semua teman gue telah menonton film ini. Belum lagi film ini sempat menghiasi salah satu festival film horror atau yang dikenal dengan INAFFF 2010 silam. Rasanya tidak ada kata terlambat dalam hidup ini toh? Sebelum menonton film ini, berbagai macam opini-opini yang mengatakan film ini sadis, buat ngilu, apalagi buat para kaum adam karena adanya pemotongan alat kelamin adam disini (peduli amat kalo ini disebut spoiler). Dan setelah menyaksikan sendiri film ini, perkataan yang terlontar dari mulut gue adalah “ngilu yaaa, tapi kok cuma dibagian alat kelamin itu saja ya karena secara keseluruhan sebenarnya tidak membuat gue ngilu dan sadis banget ah.”

Arahan sutradara dari Pang Ho-cheung disini bisa dibilang memiliki titik kelemahan pada cerita dan unsure kesadisan yang ditampilkan. Untungnya sang sutradara cerdik memilih bagian visualisasinya terlihat seperti seperti nyata. Cerita mengapa gue bilang lemah karena gue secara pribadi tidak merasakan sesuatu yang spesial dari yang diberikan film ini. Intinya cerita ini terlalu biasa ah buat gue. Walaupun adanya unsur flashback pun di bagian tengah-tengah untuk menjelaskan namun tidak membuat gue langsung mengatakan “ceritanya keren yah atau sejenisnya.”

Untungnya pemain utama disini bisa membuat gue jatuh cinta, bagaimana tidak Josie Ho disini terlihat berhasil memerankan karakter lembut, cantik namun dibalik semuanya itu terdapat unsur kesadisan didalam dirinya tanpa adanya pengalaman buruk di masa lalunya sendiri. Yang cukup disayangkan ekspresi Josie Ho ketika melakukan aksi kesadisannya tidak begitu banyak dipertontonkan, jadi terkesan film ini hanya menjual visual yang seperti kehidupan nyata saja. FYI, Josie Ho sendiri faktanya telah berhasil membawa piala sebagai aktris terbaik di ajang Sitges Film festival 2010.

Kalau secara logika sih film ini cukup masuk akal sih dari bagaimana seseorang melakukan apapun demi meraih sesuatu yang diinginkannya. Namun yang sangat tidak dianjurkan adalah dari unsur ambisius yang berfaktor negatif tersebut, apalagi sampai membawa nyawa seseorang. Jadi film ini sangat tidak sarankan buat anak-anak yang dibawah umur 17 tahun atau yang masih memiliki mental ambisius tinggi yang ujungnya berbau negatif kepada sekelilingnya. Buat sekedar hiburan saja sih ya tidak masalah sih, selamat menonton! :cheers:



3/5



Trailer:



No comments:

Post a Comment