Minggu, 31 Juli 2011

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 (2011)

Setelah 1 dekade, akhirnya film Harry Potter berakhir tahun ini dengan arahan sutradara David Yates. Di awal-awal filmnya, film ini sangat begitu memukau banyak penonton dan pecinta film berbau sihir mengakibatkan banyaknya penggemar di seluruh dunia. Antusiasme penonton pun selalu membludak di setiap penayangan film ini. Bahkan saking ngefans banget dengan film ini, ada yang mengoleksi semua novel terbitan JK Rowling ini, bahkan pernak-pernik yang dipergunakan Harry Potter dan kawan-kawan pun tidak kalah ketinggalan untuk dikoleksi, dan menjadi trend fashion. Ah untungnya saya tidak begitu terlalu tergila-gila dengan Harry Potter, karena kalau sampai tergila-gila pasti saya akan melebihi para penggemar tersebut karena saking ngefans terhadap sesuatu.

Ngomong-ngomong soal filmnya, pendapatan dari film Harry Potter sendiri pun bisa dibilang laris manis di setiap serinya. Setiap filmnya menurut data yang saya ambil katanya memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Dan ternyata, yang paling banyak digemari itu seri Harry Potter keempat yaitu Harry Potter and The Prisoner of Azkaban (2004). Nah daripada kelamaan curhat mendingan simak curhatan josep berikut ini tentang seri terakhir dari Harry dan kawan-kawan yaitu Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2.

Cerita dilanjutkan setelah kematian Dumbledore sebelumnya, kini Voldemort semakin berkuasa karena telah berhasil mengambil Tongkat Elder dari peti mati Dumbledore. Di sisi lain Harry, Hermione dan Ron sedang mencari ketiga jenis Horcrux yang masih menyebar tidak jelas dimana tempatnya. Perjalanan mencari ketiga Horcrux tersebut tidak segampang itu karena mereka bertiga harus melewati berbagai macam tantangan demi tantangan. Belum lagi usaha Voldemort yang selalu mengintai kemanapun mereka bertiga berada. Akan tetapi semuanya ini pun harus berakhir….

Okei gue disini akan berusaha mencoba mereview bukan berdasarkan karena penggila dari harry potter akan tetapi mencoba berusaha mereview atas dasar apa yang gue tonton dan saksikan sendiri dengan mata kepala gue sendiri. IMO, akhir dari cerita Harry dan kawan-kawan dalam Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 kali ini bukanlah sesuatu yang greget dan membuat gue berkata “WTH! Filmnya keren dan menyentuh banget!”.

Kalau cerita rasanya gue tidak berhak menjudge Steve Kolves sebagai penulis skenario film ini karena gue sendiri tidak membaca novel dari JK Rowling tersebut. Akan tetapi, jika gue membandingkan sebuah film yang baru-baru ini juga mengakhiri sekuelnya, rasanya gue lebih suka dan tersentuh dengan keseluruhan film tersebut. Walaupun dari segi genre memang agak berbeda, tapi setidaknya gue yang tidak juga mengikuti film tersebut dari awal bisa mengerti maksud dari sekuel terakhir film tersebut.

Nah, akan tetapi Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 kali ini jika gue bandingkan dengan seri part 1 disini jauh lebih baik dan matang pembuatannya. Bisa dilihat sendiri dari segi scoring yang sudah terlihat sekali rasa ditinggalnya film ini dari para fansnya.

Belum lagi efek visualisasi yang ditampilkan ciamik banget dan gue yakin pasti membutuhkan biaya yang cukup besar untuk membiayai produksi ini *ya iyalah*. Dari deretan para pemain (Daniel Radcilffe, Emma Watson dan Rupert Grint) menurut gue biasa aja penampilannya, dan yang cukup disayangkan disini adalah karakter villian tidak terlalu banyak digali lebih dalam lagi penampilannya. Sebut saja karakter Voldemort menurut gue harus lebih kejam dari ini dan karakter Bellatrix malah seperti tenggelam ditelan ombak samudera antlantik.

Daripada kelamaan curhat, alangkah lebih baik gue akhiri saja curhatan ini. :cheers:

3,5/5

Trailer:

Sabtu, 30 Juli 2011

Beat The World (2011)

Kompetisi dalam hidup ini pastinya selalu ada suka dan dukanya. Akhir-akhir ini yang paling trend saat ini adalah kompetisi adu tarian dalam suatu audisi. Lihat saja dari tahun 2010 sudah banyak program TV berlomba-lomba bersaing dalam menampilkan program TV mereka tentang sebuah “dance competition”. Bukan hanya di dunia program TV saja yang berlomba-lomba untuk menampilkan sejenis hiburan sebuah “dance competition” tersebut, dalam dunia perfilman pun sudah banyak yang menampilkan hal tersebut, sebut saja Step Up 1-3, dan Streetdance terakhir yang saya tonton. Cerita dari semuanya bisa dibilang tidaklah terlalu spesial, hiburan dari segi tarian bisa dibilang cukup memanjakan mata. Nah di tahun 2011 ini, muncul film baru yang berbau sama dengan mereka yaitu You got served: beat the world (2011). Daripada penasaran dengan film ini, simak yuk curhatan josep berikut ini.

Beat The World adalah sebuah kompetisi yang sangat ditunggu-tunggu para penari-penari terbaik dan berbakat di berbagai negara dan kalangan. Disini para penari tersebut bersaing demi mendapatkan penghargaan tertinggi tersebut. Persaingan tersebut kini harus mengorbankan waktu, tenaga, cinta dan bahkan persahabatan pun menjadi taruhan dalam menjawab kompetisi ini. Sepertinya cukup sekian sinposis saya tentang film ini karena kalau terlalu banyak nanti jadi spoiler. Lagipula cerita yang dihadirkan pun tidak begitu penting disajikan film ini alias sangat membosankan.

Okei seperti yang sudah gue singgung di atas, cerita film ini sangatlah membosankan sekali. Bahkan gue kira sebelumnya film Step Up 3D atau Street Dance adalah yang terburuk dari segi cerita, ternyata tahun ini You got served: beat the world (2011) mampu menggantikan posisi tersebut. Ketika menonton film ini gue mencoba untuk bertahan sampai credit title ini keluar dan dengan mata terkantuk-kantuk. Bisa dibilang ceritanya berantakan sekali dan tidak ada penyelesaian yang maksimal. Adanya konflik pun tampaknya cuma dianggap sebagai angin lalu di film ini. Setelah gue telusuri ternyata penulis dan sutradara film ini alias Robert Adetuyi tidak sanggup sepertinya untuk membuat penonton tersenyum. Terbukti dengan rating yang dihasilkan tidak pernah menyentuh angka 5/10, buat sebagian orang memang bukanlah hal penting tapi buat gue cukup bisa dibilang sebagai patokan untuk menonton.

Para pemain disini bisa dibilang menari dengan baik, tapi untuk berakting ketika mereka bermain dengan karakter mereka masing-masing rasanya tidak berhasil dan membuahkan hasil yang maksimal. Sebut saja, Tyrone Brown, Mishael Morgan, Nikki Grant, dan Chase Armitage. Selain mereka disini juga hadir cameo Parkour artist, Ray Johnson. Sebelum gue cari tahu tentang Ray gue sudah punya feeling kalau dia pasti punya bakat asli sebagai Parkour artist karena sangat terlihat sekali bakatnya ketika di film ini. Scoring film ini bisa dibilang tidaklah terlalu spesial tapi cukup kecelah untuk didengar dan sebagai pemanis dari tarian yang dihadirkan.

Akhir kata, You got served: beat the world (2011) bukanlah sebuah film yang menarik dari segi cerita yang disajikan, belum lagi tarian yang disajikan tidaklah terlalu spesial dan tidak ada yang baru dari pergerakannya. Sebelum menyaksikan film ini alangkah lebih baik mempertimbangkannya, jika memang penyuka film jenis tarian seperti ini ya tidak ada salahnya sih untuk menontonnya. Kalau memang bukan pecinta jenis film ini, alangkah lebih baik mengurungkan niat untuk menonton film ini. :cheers:

1,5/5

Trailer:

Kamis, 28 Juli 2011

Rahtree Reborn 3.1 / บุปผาราตรี 3.1 (2009)

Rang, pemuda tampan yang tinggal di sebuah apartemen yang bernama Oscar. Rang sendiri memiliki kekuatan untuk melihat sesuatu hal yang gaib atau yang disebut dengan sixth sense. Di Apartemen tempat tinggalnya ternyata terkenal cukup angker dan dipenuhi banyaknya hantu-hantu di dalamnya. Suatu hari, Rang bertemu dengan seorang gadis yang bernama Buppha yang tinggal di kamar 609. Buppha sendiri dikenal sebagai gadis yang cukup misterius di apartemen tersebut. Semenjak kehadiran Buppha disana, ada kejadian-kejadian aneh menimpa Rang bersama teman-temannya.

Film Thailand bergenre horror comedy di tahun 2011 yang tayang di Indonesia bisa dibilang baru Four itupun hanya semacam omnibus saja. Nah sekarang yang bakal tayang di bioskop Indonesia adalah Rahtree Reborn (Buppha Rahtree 3.1) atau บุปผาราตรี 3.1. Kalau melihat poster film ini pasti sudah tidak asing lagi dengan paras wajahnya yaitu Mario Maurer atau มาริโอ้ เมาเร่. Daripada penasaran dengan aksi Mario di film yang berbau slasher, horror yang dibumbui komedi, simak curhatan josep berikut ini.

Arahan sutradara Yuthlert Sippapak di film ini bisa dibilang tetap berdiri di genre sesungguhnya film ini yaitu horror dan comedy. Alur cerita yang dihadirkan bisa dibilang terlalu lambat untuk durasi yang sebenarnya tidak begitu lama. Suasana horror yang diberikan memang tidak seperti horror Thailand seperti Laddaland yang baru tayang beberapa bulan lalu tapi bisa dibilang adalah sedikit unsur tersebut di dalamnya. Sound design yang diberikan film ini cukup baik dikelasnya.

Para pemain disini bisa dibilang lumayanlah untuk dari segi kualitas aktingnya. Mereka tidak hanya menang tampang doang kok ternyata, sebut saja Mario Maurer atau มาริโอ้ เมาเร่ dan Chermarn Boonyasak atau เฌอมาลย์ บุญยศักดิ์. Sebagai wanita misterius Cherman tampil dengan meyakinkan tapi tetap dengan wajah cantik dan manisnya tersebut. Pemain pendukung sebagai teman-teman Rang cukup menarik dan menggelitik perut dan membuat unsur komedi film ini menjadi hidup. Akhir kata, jika menginginkan horror komedi Thailand, film Rahtree Reborn (Buppha Rahtree 3.1) atau บุปผาราตรี 3.1 patut ditonton walaupun cerita tidaklah terlalu istimewa. Setidaknya ada unsur menakutkan, lelucon dan bisa memanjakan mata. Selamat menonton. :cheers:

2,5/5

Trailer:

Selasa, 26 Juli 2011

Forget Me Not (2009)

Sandy dan kawan-kawannya merayakan kelulusan mereka di suatu tempat. Mereka meluapkan segala rasa kesenangan mereka sampai membuat ide gila. Melakukan hal aneh di tempat kuburan merupakan ide mereka tersebut. Kejadian aneh pun dialami Sandy ketika melihat sosok perempuan di kuburan tersebut yang tiba-tiba terjun bunuh diri ke jurang. Setelah malam itu pun kejadian-kejadian aneh mengalami Sandy dan kawan-kawannya. Begitu pula dengan gangguan ingatan yang dialami oleh Sandy, yang merasa seperti pernah melakukan hal serupa ketika bersama-sama temannya di kuburan malam itu.

Melihat poster ini bertengger di “coming soon” salah satu bioskop membuat gue illfil dengan posternya. Entah kenapa gue tidak menyukai efek dari poster tersebut. Ketika menyaksikan trailernya pun semakin membuat gue untuk memutuskan mengurungkan niat menonton film ini di bioskop dan memilih DVD sebagai jalan alternatif. Dan hasilnya adalah kurang lebih sesuai dengan ekspetasi illfil gue terhadap film ini, bagaimana tidak gue dibuat pusing oleh film ini karena begitu dibuat “sok puzzleing” didalamnya. Daripada penasaran simak curhatan josep berikut ini tentang film Forget Me Not.

Forget Me Not arahan sutradara Tyler Oliver bisa dibilang tidak terlalu spesial untuk ditonton walaupun opening film ini terlihat cukup meyakinkan sih sebenarnya. Akan tetapi setelah opening, cerita yang dibuat oleh Tyler sendiri yang dibantu oleh Jamienson Stern terlihat mulai kedodoran dimana-mana. Penonton akan disajikan berbagai macam potongan-potongan adegan yang berbeda-beda tentang kehidupan bebas para pemain disini. Adegan-adegan tersebut melingkupi perselingkuhan, meluapkan rasa emosional, persahabatan dll. Adegan-adegan tersebut bisa dibilang cukup mengganggu ya karena editannya terlalu kasar dan terlalu cepat pergerakan perpindahan settingannya.

Kalau dilihat secara keseluruhan sebenarnya adegan-adegan film ini mengingatkan dengan film Sorority Row, Grave Dancers, dan sedikit unsur dari Shelter. Yang membuat gue illfil lagi dari film ini yaitu dari efek make-up para pemain disini, aduh bisa dibilang mengganggu sekali dan terlihat sekali pengambilan gambarnya tidak fokus dan mengakibatkan blur disana-sini.

Sound design film ini bisa dibilang cukup beragam karena genre film ini tidak hanya tentang horror tapi juga ada unsur romantis dan dramanya, dan untungnya sound designnya bisa dibilang tergolong aman. Oh iya beberapa adegan film ini bisa dibilang cukup sadis karena ada adegan pemotongan tangan dan kepala oleh sebuah mesin *maaf spoiler*.

Para pemain disini juga tidak menampilkan sesuatu yang istimewa, pemain tersebut adalah Carly Schroeder, Chloe Bridges, Cody Linley, Jillian Murray, Micah Alberti. Walaupun penampilan mereka biasa saja, akan tetapi kemolekan tubuh dan kecantikan wajah mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Pesan dari film ini antara lain yaitu jika memiliki pengalaman buruk di masa lalu alangkah lebih baik dituntaskan terlebih dahulu daripada nantinya akan lebih banyak melibatkan banyak korban di masa selanjutnya. Selamat Menonton. :cheers:

2/5

Trailer:

Minggu, 24 Juli 2011

Ecstasy (2011)

Pergaulan anak muda di jaman modern kali ini bisa dibilang banyak yang sudah melampui batas aturannya. Batas-batas tersebut dilampaui bahkan hingga menyebabkan mereka ada yang terjebak di dunia obat-obatan terlarang bahkan hamil atau making love sebelum menikah. Begitu pula yang diceritakan oleh film Ecstasy berikut ini. Dimana diceritakan seorang ibu yang begitu protected terhadap kedua putrinya. Dirinya tidak mau anaknya sampai terlalu bebas pergaulannya. Akan tetapi, langkah tegas dan berbagai larangan disana-sini tidak membuat kedua putrinya takut kepadanya. Dianna dan Chantel pun semakin merajalela pergaulannya hingga pada akhirnya mereka berdua terjebak dalam kehidupan obat-obatan terlarang. Efek samping pun mereka alami, salah satunya adanya penyakit misterius yang hinggap di tubuh Dianne. Usaha untuk melepaskan penyakit tersebut dan tetap hidup dengan menutupi semuanya itu dari ibunya pun dimulai.

Okei sepertinya booming film ini tidak begitu terdengar di kalangan film baik di Hollywood atupun di Indonesia. Di salah satu situs yang biasa menghadirkan rating pun belum memberikan rating terhadap film ini, padahal tanggal rilis film ini sudah beberapa bulan lalu. Dan review kali ini pun gue rasanya juga tetap tidak melakukan spoiler terhadap film ini walaupun tidak kurang begitu didengar juga di kalangan pecinta film. Simak curhatan josep berikut ini.

Dengan mengambil tema obat-obatan terlarang bisa dibilang jarang ya untuk sebuah film, apalagi di dalam cerita tersebut ada efek samping semacam penyakit misterius yang dialami oleh si pemain utama tersebut. Kalau cerita tentang obat-obatan sendiri sebenarnya sudah tidak asing lagi di dunia perfilman, apalagi di perfilman Indonesia hampir 85% filmnya berbau tentang obat-obatan terlarang yang berakibatkan hamil di luar nikah, pembunuhan dan pemerkosaan. Arahan sutradara dari seorang yang biasanya terlibat di bidang lighting di film-film (X-Men, Silent Hill), kali ini terjun menjadi menjadi seorang sutradara dan sekaligus penulis skenario film Ecstasy dengan bantuan Raymond H. Law, yang menjabat sebagai produser film ini.

Cerita yang dihadirkan memang terlihat kuat untuk tetap fokus di bidang obat-obatan terlarang, akan tetapi yang cukup disayangkan adalah film ini terlihat sekali terlalu maksa dan tidak memberikan sesuatu yng “wow” atau “memorable”. Agak cukup disayangkan juga sih konflik masalah penyakit yang ditampilkan film ini terasa kurang greget dengan fakta-fakta yang ada. Dari segi pemain, bisa dibilang tidak semuanya cukup terkenal, akan tetapi ada beberapa pemain yang notabene sudah memiliki pengalaman sebelumnya di dunia perfilman.

Sebut saja, Elisa King (Percy Jackson) dan Charlie Bewley (Eclipse dan New Moon). Sisanya seperti David J. Philips, Ashley McCarthy, dan Christy Andersen. Kehadiran mereka sendiri bisa dibilang tergolong aman-aman saja, mungkin yang cukup menarik disini adalah peran dari Ashley MecCarthey yng cukup terlihat lebih baik pembawaan emosionalnya dibandingkan yang lain.

Dengan mengambil tema dan judul yang berhubungan dengan obat-obatan terlarang, tidak langsung membuat film ini terasa menggurui penonton. Penyampaian pesan yang jelas bisa ditarik dari film ini. Walaupun balik lagi film ini kurang begitu membawa sesuatu yang berkesan dan gampang dilupakan begitu saja setelah menonton film ini. :cheers:

2/5

Trailer:

Ecstasy 2011 movie Trailer from Lux Film Co. on Vimeo.