Thursday, June 9, 2011

Serdadu Kumbang (2011)

17 Juni tahun lalu Alenia Pictures menghadirkan Tanah Air Beta di liburan anak sekolah dan terlihat banyaknya respon positif dari para penonton. Kini, Alenia Pictures kembali lagi memproduksi film di liburan anak sekolah dengan judul Serdadu Kumbang. Dengan titik penonton di kelas anak-anak sepertinya sudah menjadi ciri khas dari seorang Alenia Pictures. Sebut saja, King, Denias, Liburan Sekolah, dan Tanah Air Beta. Hasil produksi mereka tidak hanya mendapatkan respon positif dari para penonton, namun juga mendapatkan respon di berbagai macam penghargaan di dunia perfilman. Lalu bagaimanakah dengan Serdadu Kumbang? Apakah bisa menuai sukses seperti karya Alenia Pictures sebelum ini? Apakah cerita yang dihadirkan bisa menjadi sebuah tontonan keluarga di liburan anak-anak sekolah? Simak curhatan josep berikut ini.

Amek adalah salah satu anak yang bernasib kurang beruntung di daerah Sumbawa. Dirinya mengalami kegagalan dalam Ujian Nasional Sekolah Dasar tahun lalu dan juga dirinya selalu dihukum oleh para guru di sekolahnya, salah satunya Pak Alim. Pak Alim disini dikenal sebagai guru yang mendepankan kedisplinan dan semangat belajar yang tinggi kepada anak didiknya. Di tengah kegagalannya tersebut, dirinya juga merasa rindu dengan kehadiran ayahnya yang tidak ada kabarnya sejak bekerja di luar Sumbawa. Untung ada seorang Haji Maesa yang selalu memberikan petikan-petikan pesan kepada Amek agar selalu memliki cita-cita dan harapan. Amek bersama anak-anak kampung Sumbawa pun pada akhirnya membuat semacam pohon cita-cita, yang dimana cita-cita dan harapan mereka digantung di pohon dan dimasukkan ke dalam botol.

Dibalik kekurangan terdapat banyak kelebihan !

Sebuah kisah anak-anak Sumbawa yang kini diangkat oleh Ari Sihasale bersama sang istri Nia. Dengan tema anak-anak, sepertinya Alenia Pictures sudah mulai terbiasa dengan cerita-cerita tersebut. SSerdadu Kumbang adalah produksi Alenia Pictures setelah 4 karyanya yang cukup bisa dinikmati oleh masyarakat. Dengan bantuan dari PT. Newmount yang kembali membiayai produksi film ini setelah Tanah Air Beta silam, sepertinya Alenia begitu cukup yakin dengan film terbarunya ini. Cerita yang diangkat sebenarnya simple tapi inti permasalahan film ini terlalu banyak jadi terlihat sekali banyaknya cerita yang terlihat seperti puzzle dan harus disusun kembali oleh para penonton. Mungkin ini bisa dijadikan PR buat Alenia Pictures agar lebih ringan dan fokus saja di satu titik permasalahan jika membuat film lagi nantinya. Maksud gue disini, cerita yang diangkat kan tentang bagaimana Amek yang awalnya tidak punya cita-cita, namun setelah mendapat bimbingan dari Haji Usman, dia baru tau cita-citanya apa. Namun disini, juga diceritakan tentang pertandingan kuda, pendidikan Sumbawa yang jauh dari dukungan pemerintah, serta adanya operasi perubahan dalam diri satu tokoh di film ini.

Walaupun cerita tidak fokus di satu titik, akan tetapi untungnya para pemain mampu bermain dengan baik di sini. Sebut saja, yang menjadi Amek yaitu Yudi Miftahudin terlihat begitu polos dan natural bermain di film ini. Begitu pula dengan anak-anak Sumbawa lainnya. Para pemain senior pun di sini bermain total walaupun sebenarnya peran mereka disini ada beberapa yang tidak begitu banyak. Sebut saja, Ririn Ekawati yang terlihat ayu dengan jilbabnya dapat kita rasakan nyawanya seperti di film Rindu Purnama dahulu. Namun yang membedakan kali ini, Ririn dituntut untuk mengeksplor emosinya dalam film ini. Putu Wijaya dengan pesan-pesan yang membangun kepada anak-anak bisa dijadikan contoh dalam mendidik anak. Lukman Srdi cukup berbeda bermain di film ini, karakternya sebagai guru tegas dan disiplin tinggi mampu dia mainkan dengan baik. Titi Sjuman dengan logat Sumbawanya terlihat berbeda sekali disini, mungkin ini bukti dari seorang Titi yang begitu total dalam berakting.

Cerdas di kepala.. Cerdas di hati.. Itu orang Indonesia Asli !

Monica Sayang bati yang berperan sebagai Minun, kakak Amek terlihat sekali perubahan ekspresi dirinya ketika senang dan ketika mendapatkan suatu masalah. Asrul Dahlan yang berperan sebagai Zakaria, ayah dari Amek cukup menarik perhatian di film ini dengan sifatnya yang sombong dan tukang pamer. Pemain pendukung lainnya seperti Surya Saputra, Nia Sihasale, Najwa Sihab dan lain-lain kurang lebih sama seperti pemain utama lainnya yang begitu total dalam bermain disini. Penata musik film ini terlihat khas sekali dengan campur tangan dari seorang Aksan Sjuman dan Titi Sjuman. Dengan mengambil Ipank sebagai penyanyi di film ini sepertinya sangat tepat keputusan itu. Dari tata sinematografi bisa dibilang tidak terlalu istimewa karena di beberapa scene terlihat ketidakfokusan pengambilan gambar. Pemandangan Sumbawa yang konon katanya indah pun tidak terlalu begitu dieksplor di film ini. Sungguh disayangkan.

Serdadu Kumbang suatu sajian yang menarik ditonton di liburan anak-anak yang akan datang bersama keluarga walaupun sebenarnya isi cerita film ini terlihat tidak fokus di satu titik permasalahan. Dengan banyaknya pesan demi pesan serta sentilan buat pemerintah untuk memperhatikan pendidikan Sumbawa atau kota-kota jauh lainnya, bisa dijadikan suatu cerminan agar bisa diperbaiki ke depannya nanti. Walaupun sinematografi film ini terlihat buram atau tidak mengeksplor keindahan Sumbawa akan tetapi akting para pemain di film ini bisa dijadikan alasan untuk tetap bertahan sampai credi title muncul. Semoga saja Alenia pictures kedepannya nanti bisa memperbaiki kekurangan dari film ini agar bisa lebih nyaman dan menarik untuk ditonton semua kalangan, bukan hanya anak-anak tapi juga orang tua. Gak lucu kan kalau orang tuanya jenuh melihat film ini tapi anak-anaknya terlihat begitu semangat menikmati film ini. Selamat menonton. :cheers:

2,5/5

Trailer:

No comments:

Post a Comment