Kamis, 30 Juni 2011

True Love based on the novel Cinta Sepanjang Amazon (2011)

Aries dan Guntur adalah dua sahabat dari kecil yang selalu bersama-sama. Guntur selalu mengikuti kemana Aries pergi dan juga mematuhi apa yang dikatakan oleh Aries. Suatu hari di kampusnya, Aries tersipu-sipu melihat gadis yang diketahui namanya Vania. Vania adalah salah satu mahasiswi terbaik di kampus tersebut. Dia mendapatkan beasiswa dan kepercayaan untuk menyewa sebuah tempat untuk dijadikannya warnet di daerah kampus tersebut. Dengan hasil pendapatan dari warnet tersebut pula, Vania dapat membiayai kehidupan sehari-harinya. Dalam hidup Vania, tidak ada kata gratis untuk meraih sesuatu karena baginya setiap orang harus berusaha untuk mendapatkan semuanya itu. Oleh sebab itulah, Vania kurang begitu suka dengan Aries karena sifatnya yang bertolak belakang dengan dirinya. Akan tetapi, ternyata semua itu ditutupi oleh namanya sebuah cinta. Aries yang mengetahui latar belakang Vania yang seorang anak yatim piatu dan bukan berasal dari keluarga konglomerat seperti dirinya nekat menikahi Vania atas nama sebuah cinta. Aries sangat begitu mencintai Vania seperti panjangnya Sungai Amazon, namun rasa cintanya kepada Vania harus dia alami begitu pahit karena Vania mengkhianati cintanya bahkan hingga 2 kali.

Sebuah karya novel Mira W yang difilmkan dengan judul True Love yang memiliki judul asli novel Cinta Sepanjang Amazon. Novel ini dirilis untuk memperiangati 50 tahunan kampus Moestopo di tahun 2008 silam. Dengan harapan juga, novel ini dapat dibuatkan menjadi sebuah karya film panjang. Akhirnya, novel tersebut difilmkan juga di tahun 2011 ini dengan biaya produksi sebagian ada bantuan dari kampus Prof Dr. Moestopo. Dengan arahan sutradara Dedi Setiadi, yang notabene pernah dikenal sebagai orang dibalik kesuksesan Keluarga Cemara dan sekarang lebih ke arah sutradara FTV-FTV, film True Love pun dibuat oleh beliau. Tempat lokasi shooting yang dilakukan di 3 tempat yaitu Jakarta, Raja Ampat dan Swedia.

Rasa kekuatiran gue sebelum menonton film ini pun terjawab sudah setelah menonton film ini. Bagaimana tidak banyak sekali yang terlihat ganjal dan cerita begitu lompat-lompat dengan editing yang kasar. Rasa kekuatiran gue pertama kali adalah karena film ini berasal dari sebuah novel jadi takutnya tidak semenarik novel tersebut. Untuk sebuah film yang disadur dari novel, True Love bukanlah film pertama karena sudah banyak film-film Indonesia yang diangkat dari sebuah novel baik genre dewasa ataupun remaja. Ditambah lagi durasi 2 jam yang menurut gue cukup lama dengan kemasan yang tidak menarik. Kenapa tidak menarik? Ya seperti yang tadi gue bilang kalau film True Love terlihat sekali seperti film lompat-lompat yang tidak mempedulikan bagaimana nantinya reaksi penonton ketika menonton film tersebut.

Dari jajaran pemain, rasa sudah tidak asing lagi karena beberapa diantara mereka sudah pernah kita lihat bersama di satu produksi film juga. Fanny Fabriana sebagai seorang Vania yang memiliki sifat wanita cerdas yang gejolak jatuh cinta yang tinggi dengan pembawaan emosi dibalik adanya sesuatu yang dirahasiakan dari seorang Aries, cukup baik dibawakannya. Mario Lawalata dengan sifat manja, egois, keras kepala, temperamental, dan bisa dibilang labil juga, cukup berhasil membuat penonton agak terlihat emosi dengan karakter yang dia bawakan di film ini. Edo Borne yang berperan sebagai Guntur, memiliki sifat patuh dan taat terhadap bosnya yaitu Aris juga terlihat sama labilnya dengan Aries, ya bisa dibilang sifat-sifat Aris juga melekat dalam dirinya. Happy Salma disini berperan sebagai kakak Aries, Sagitaria, yang memiliki sifat antagonis terhadap kehidupan Aries. Karakter Happy Salma disini bisa dibilang cukup mencuri perhatian dibandingkan pemain lainnya. Selain itu, Fikri Ramadhan yang berperan sebagai Arifin, teman Vania yang sebenarnya memendam rasa cinta terhadap Vania, terlihat hanya sebagai tempelan di film ini. Selain keempat pemain tersebut, juga ada penampilan Alex Komang, Pierre Gruno, Panca Prakoso.

Selain cerita yang dihadirkan terlihat lompat-lompat dan agak tidak masuk akal di beberapa adegan, True Love jugaa memiliki para pemain yang notabene karakternya cukup antagonis semuanya. Sebut saja, Aries yang terlihat begitu temperamental, belum lagi dengan hadirnya Guntur yang kurang lebih sama dengan Aries, begitu juga dengan Sagitaria yang lebih antagonis daripada Aries. Selain itu, ditambah lagi dengan alunan-alunan musik yang bisa dibilang cukup mengganggu pendengaran. Efek-efeknya terlihat seperti film horror atau thriller, padahal film ini sebenarnya bergenre drama romantis. Sinematografi yang dihasilkan pun tidak semuanya baik dihasilkan. Boleh diakui sinematografi di Raja Ampat yang lebih condong menarik perhatian dibandingkan Swedia, yang notabene berlokasi di Negara Eropa. Sinematografi di Swedia terlihat sekali kameranya begitu amatir dan tidak fokus mengambil gambarnya. Bisa dibilang cukup disayangkan sekali secara keseluruhan kemasan dari film True Love. Pesan yang dipetik disini selain hendaknya berpikir dahulu secara matang sebelum mengambil keputusan (menikah), juga ada bagaimana kita harus mencoba belajar memaafkan orang yang kita cintai. Memang agak klise dan berat tapi kalau dicoba rasanya tidak ada yang salah bukan? Selamat menonton. :cheers:

2,5/5

Trailer:

Senin, 27 Juni 2011

Arthur 3: The War of the Two Worlds (2010)

Cerita dilanjutkan, kini Maltazard bisa masuk ke dunia manusia setelah melewati berbagai cara. Sialnya, Atrhur tidak bisa kembali karena tubuhnya mengecil menjadi miniatur. Dia bernasib sama dengan Selenia dan temannya yang berubah ukuran tubuhnya menjadi kecil. Maltazard pun tidak tinggal diam ketika sudah kembali ke dunia manusia lagi. Dia melakukan berbagai penyamaran untuk bisa mendapatkan rumah milik Arthur dan juga dirinya. Arthur dkk pun berusaha mencari cara untuk bisa kembali ke dunia asalnya walaupun tubuhnya mengecil. Ketika mereka mau kembali ke dunia nyata, ternyata mereka dikejar-kejar anak dari Maltazard, yang bernama Darkos. Perjalanan Arthur pun semakin terhambat karena Darkos selalu mengejarnya. Dapatkah dia kembali ke dunia nyata dan dari kejaran Darkos serta Maltazard?

Sebuah film animasi yang bisa dibilang bukan baru lagi di dunia anak-anak. Kalau mengikuti dari awal pasti mengetahui karakter-karakter pemain disini. Akan tetapi sayangnya film ini, karakter-karakternya tidak begitu gampang diingat kecuali Arthur sebagai pemain utama dan yang paling penting musuh dari Arthur yaitu Maltazard. Nah saya tergolong orang yang kurang mengingat karakter-karakter selain 2 tokoh tadi, padahal dari awalnya Arthur di tahun 2006 saya mengikuti dengan setia. Ketika mengetahui film Arthur ini yang ketiga bakal muncul saya mencoba mengingat-ingat cerita seri keduanya terlebih dahulu alhasil saya cuma mengingat sedikit saja. Okei daripada penasaran dengan cerita film ini, simak curhatan josep berikut ini.

Arthurs 3: The War Of The World membuat cerita keseluruhan dengan pas dan tidak ada perbedaan yang mencolok dari seri-seri sebelumnya. Di seri ketiga ini lebih menceritakan Maltazard yang begitu ambisius untuk menghancurkan kota tempat tinggal Arthur dan ingin memiliki Arthur. Berbagai konflik yang dihadirkan pun begitu sesuai dengan kadar tontonan yang ditujukan kepada usia anak-anak. Bumbu percintaan antara Selenia dengan Arthur pun tidak begitu terlalu banyak dimunculkan, ya iyalah secara film ini untuk anak-anak. Seri ketiga ini dibuat skenarionya oleh Luc Besson kembali dan kini dibantu oleh Céline Garcia.

Para pemain disini antara lain Freddie Highmore sebagai Arthur. Selain sebagai pemain asli Freddie juga sebagai pengisi suara karakter Arthur, pengisi suara lainnya adalah Selena Gomez sebagai Princess Selenia, Lou Reed sebagai Maltazard, dan Iggy Pop sebagai Darkos. Dari segi sinematografi, animasi, scoring, ataupun cerita sebenarnya Arthur 3 ini memang lebih ditujukan kepada katagori anak-anak, akan tetapi tidak salahnya jika anda yang telah mengikuti film ini dari awal untuk menyaksikan kembali film ketiga ini, yang konon kabarnya sebagai akhir dari film ini. Kalau memang berharap sesuatu yang lebih dari film ini, alangkah lebih baik anda mengurungkan niat tersebut untuk menonton film ini. Menonton DVD 3 seri film ini alangkah baik sepertinya. Selamat menonton. :cheers:

2,5/5

Trailer:

Jumat, 24 Juni 2011

Blitz (2011)

Brant seorang detektif yang mendapatkan tugas untuk mencari tahu siapa pembunuh misterius yang membunuh polisi-polisi. Misi kali ini ini dia dibantu oleh Potter Nash yang notabene seorang detektif metroseksual. Brant menyelidiki kasus yang disebut dengan The Blitz dengan begitu teliti dan cermat. The Blitz tersebut melakukan pembunuhan secara massal terhadap para polisi karena mau membalaskan dendamnya dahulu. Ternyata The Blitz punya pengalaman buruk yang membekas hatinya hingga dendam kepada polisi-polisi tersebut. Cerita lain, seorang polisi wanita yang bernama Elizabeth Falls memiliki masalah dalam hidupnya. Brant menyarankan Falls untuk menemui Craig Strokes karena dia orang yang tepat untuk menyelesaikan masalahnya tersebut. The Blitz ternyata tidak tinggal diam, dia semakin merajalela membasmi para polisi. Bahkan nyawa Falls hingga Brant terancam di tangan seorang The Blitz.

Jason Statham beraksi kembali di pertengahan tahun 2011 ini, setelah beberapa bulan silam penampilan dirinya sempat kita lihat di 13 dan The Mechanic. Blitz merupakan film yang dibilang masih hangat untuk ditonton dan dibicarakan saat ini. Walaupun kehadirannya di Indonesia telat 1 bulan dari peredaran, akan tetapi tetap masih dibilang terbaru jika dibandingkan film-film Hollywood yang bermunculan saat ini. Kalau melihat trailer atau sinopsis cerita film Blitz, pasti banyak yang berkomentar bosan atau jenuh dengan penampilan Jason Statham yang kalau dilihat-lihat sama saja karakter yang dibawakannya. Tapi disini, gue berpendapat karakter beliau sebenarnya memang boleh sama tapi cara pembawaan dirinya di setiap film itu memiliki ciri khas tersendiri di dalamnya. Terbukti di Blitz dia tetap memukau penampilannya walaupun usia sudah tidak tergolong muda lagi.

Selain Jason Statham, yang menarik lainnya adalah Paddy Considine yang berperan sebagai detektif metroseksual. Dia bisa dibilang cukup menarik perhatian dengan gaya bahasa tubuhnya yang kemayu namun di sisi lain harus bersikap tegas sebagai seorang detektif. Selain itu, juga ada Zawe Ashton yang berperan sebagai Falls, dimana karakter dia sebagai seorang ibu angkat yang ternyata sebagai pecandu narkotika. Tidak lupa juga, Aidan Gillen yang berperan sebagai The Blitz disini. Dia memiliki karakter yang nyeleneh dan untuk seorang buronan cukup cerdas mengakali para polisi.

Film yang disutradarai oleh Elliott Lester kini merupakan karya beliau kedua setelah filmnya Love Is The Drug (2006) (Belum nonton). Elliot disini bisa dibilang cukup baik membuat film ini walaupun pengalaman dirinya di dunia film sangatlah baru. Dengan bantuan skenario yang dibuat Nathan Parker (Moon di tahun 2009), film ini terlihat lebih menarik dan menegangkan hingga akhir cerita. Walaupun di beberapa pertengahan scene terlihat membosankan. Akan tetapi untungnya bisa kembali terangkat setelah menuju klimaksnya film ini. Kalau dilihat dari background seorang Nathan Parker yang pernah menulis film Moon di tahun 2009. Pasti orang menduga film ini susah dicerna, secara konon kabarnya film Moon cukup susah dicerna untuk dinikmati. Tapi tenang saja, karena Nathan disini menampilkan cerita yang mudah dimengerti.

Yang cukup disayangkan dari film ini mungkin dari sisi sinematografinya yang terlihat biasa saja, tanpa adanya efek-efek yang bagus. Efek-efek kesadisan film ini ketika membunuh pun terlihat biasa aja untuk sebuah film thriller. Overall, Blitz sebuah film thriller yang bukan terbaru lagi bagi seorang Jason Statham namun sebuah film baru yang layak ditonton disaat minimnya film Hollywood baru di kancah perfilman tanah air kita. Selamat menonton. :cheers:

3/5



Trailer:









Catatan Harian Si Boy (2011)

Semua berawal dari anak muda yang hobi balapan yang bernama Satrio. Satrio memiliki adik yang bernama Putri, namun Satrio lebih senang tinggal di tempat bengkel dia bekerja. Di bekerja di bengel yang dipimpin oleh Nina, di tempat mereka juga ada Herry yang selalu menjadi bahan lelucon mereka terutama bersama Andi. Rasa kekeluargaan mereka kini sedang diuji karena setelah Satrio bertemu dengan Natasha di kantor polisi ketika Satrio sedang digeluti kasus biasa yang selalu dia lakukan. Satrio membantu Natasha untuk mencari tahu dimana orang yang memiliki buku catatan yang dipegang Natasha. Buku catatan itu memiliki arti penting bagi Natasha karena ibunya, Nuke, kini sedang kritis di Rumah Sakit dan selalu menyebutkan nama Boy. Disinilah kebersamaan dan kekeluargaan Satrio dkk diuji karena setelah membantu kasus pencarian catatan harian si boy itu, masalah demi masalah mereka hadapi.

Akhirnya film ini yang sudah ditunggu-tunggu gue secara pribadi bisa gue tonton juga! Film karya dari seorang sutradara baru diperfilman Indonesia kembali mewarnai perfilman. Dia bernama Putrama Tuta, bapak muda dari 2 anak ini bisa dibilang melakukan sesuatu hal yang cukup berani dan menantang di proyek film pertamanya ini. Kenapa berani dan menantang? Kalau mau memflash back secara detil film Catatan Si Boy rasanya terlalu lama ya, tapi kalau mengetahui hebatnya film itu di masanya dahulu bisa menjadi tantangan dan berani seorang Putrama Tuta tersendiri. Beliau berani mengambil resiko kalau ada orang yang tidak suka dengan filmnya. Akan tetapi, ternyata resiko buruk tersebut hingga saat ini belum terdengar di telinga gue secara pribadi setelah beberapa kalangan yang menonton di screening dan Gala Premierenya tanggal 21 Juni 2011. Semua yang menonton merasa PUAS dan BANGGA dengan debut pertama beliau. Penasaran? Simak curhatan josep berikut ini.

Cerita yang dihadirkan oleh Putrama Tuta sendiri sebenarnya mengambil benang merah dari kisah Catatan Si Boy dimasa dahulu. Dimana si Boy yang memiliki hubungan dengan Nuke. Nah, disini dia tidak menceritakan bagaimana Boy dengan pemain yang bukan Onky Alexander sendiri melainkan dirinya tetap menghadirkan Onky Alexander, Btari Karlinda, serta Didi Petet di film ini. Putrama disini lebih memfokuskan bagaimana karakter Satrio yang bisa dibilang karakter Boy yang lebih modern dan bisa diterima masyarakat saat ini. Karakter Satrio disini juga tidak seperti komik atau pun dongeng-dongeng, dimana seorang cowok tampan yang kaya atau banyak wanita. Disini karakter Satrio lebih nyata dan bisa saja anda salah satu pencerminan karakter Satrio. Satrio, memiliki karakter yang cuek, liar, suka balapan, berkharisma, namun tetap taat beragama tapi tidak setaat Boy dahulu lah. Dan untungnya karakter Satrio disini berhasil dibawakan dengan baik oleh seorang Ario Bayu. Sosok charisma dan kulitnya yang gelap menjadi andalan dari dalam dirinya sebagai seorang Satrio.

Selain itu, para pemain disini juga tidak kalah menarik semuanya. Sebut saja, Carissa Puteri yang begitu cantik dan anggun pembawaan karakternya. Poppy Sovia, dengan gaya ala Megan Fox Indonesia, membawakan karakter dengan baik sebagai cewek tomboi tapi gampang menyerah kalau ada masalah. Karakter Andi yang dibawakan oleh Abimana Aryasatya sangat menarik perhatian di sepanjang film ini. Dan menurut gue, karakter Andi selalu hadir di segala kondisi pemain disini. Dialog-dialog yang dilontarkannya begitu nyablak atau nyeletuk tapi itu bukan asal kata yang keluar karena begitu dalam maknanya dan juga bisa dijadikan trendsetter untuk gaya bahasa anak muda saat ini. Ada Andi, pasti ada Herry, bagaimana tidak karakter Herry yang diperankan Albert Halim di film ini ibarat kata seperti Tom & Jerry. Aksi Albert yang membawakan karakter sebagai pria kemayu yang ahli pembukuan bisa dibilang Emon masa kini. Tidak lupa juga dialog-dialog yang dia bawakan juga oke cing! Wanita manis satu ini bisa dibilang bisa menyita perhatian. Bagaimana tidak, wajahnya yang manis, dan Indonesia banget menjadi andalan seorang Tara Basro. Sebagai pendatang baru Tara Basro yang berperan sebagai Putri yang merupakan adik dari Satrio berhasil dibawakan dengan baik. Yang terakhir Paul Fosterr, pemain pendatang baru yang berasal dari negeri Singapore cukup berhasil membawakan karakternya walaupun terlihat agak kaku, tapi wajar saja untuk film pertamanya.

Di Catatan Harian Si Boy juga hadir Btari Karlinda, Didi Petet, Roy Marten, Nazyra C. Noer, Joko Anwar, dan tentunya Onky Alexander sendiri. Mungkin yang cukup disayangkan dari film ini adalah cerita yang dihadirkan ada sesuatu yang kurang greget di pertengahan namun untungnya bisa kembali dibayarkan dengan aksi dan cerita yang memuaskan di endingnya. Menurut gue secara pribadi, film Catatan Harian Si Boy merupakan film Indonesia terbaik selama pertengahan 2011 yang sudah gue tonton semua film Indonesianya. Sekali lagi gue mengucapakan selamat kepada Putrama Tuta dan selamat datang di industri sutradara perfilman Indonesia! Ditunggu karya dari anda selanjutnya atau kalau perlu sekuel dari Catatan Harian Si Boy ! Dengan cerita yang mengambil benang merah dari kisah Catatan Si Boy dengan membawakannya lebih modern dan ditambah aksi dan chemistry dari para pemain yang begitu memukau menjadikan alasan kuat gue untuk mengatakan bahwa Catatan Harian Si Boy film Indonesia terbaik hingga pertengahan tahun 2011 dan menjadi kandidat film terbaik di sepanjang tahun 2011 nantinya di akhir tahun ini. Penasaran banget? Catet jadwal penayangannya tanggal 1 Juli 2011 di bioskop kesayangan anda ! Nonton cing ! :cheers:



4/5





Trailer: