Selasa, 31 Mei 2011

The Clinic (2010)

Do You Know Where Your Child Is?

Beth dan Cameron sedang melakukan perjalanan ke sebuah tempat. Di tengah perjalanan, mereka tiba-diikuti oleh truk misterius yang mengakibatkan jok mobil belakang mereka sedikit mengalami kerusakan. Akhirnya mereka pun menepi dan beristirahat sejenak. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan karena cuaca hampir gelap. Mereka pun memutuskan untuk mencari penginapan di tempat terdekat. Setiba di tempat penginapan mereka pun beristirahat. Akan tetapi, Beth mengalami mimpi buruk ketika tiba di tempat penginapan tersebut. Mimpi-mimpi buruk itu pun mengakibatkan dirinya harus berpisah secara misterius dengan suaminya Cameron. Ketika Beth terbangun, dirinya sudah berada di dalam bath tub dengan batu es dan paling menyedihkan yaitu adanya bekas jahitan di perutnya dan hilanglah bayinya. Misteri hilangnya bayi Beth dimulai dan di sisi lain Cameron pun panik dengan misteri hilangnya Beth.

The Clinic sebuah film thriller yang mengandung psikologi, dimana kejadian demi kejadian disini tidak hanya mengandung misteri tapi juga mengandung mental seseorang akan hilangnya bayi mereka. Kejadian hilangnya bayi bukan hanya dialami Beth seorang diri, karena di tempat tersebut Beth bertemu juga dengan orang-orang yang senasib dengan dirinya. Sebut saja, Veronica, Ivy dan Allison adalah 3 orang yang akhirnya dekat dengan Beth. Film yang disutradarai dan ditulis skenarionya oleh James Rabbitts kali ini membuat The Clinic menjadi sebuah tontonan yang penuh teka-teki dibalik peristiwa misterius hilangnya bayi mereka.

Selain hilangnya bayi mereka, melakukan penjahitan secara kasar terhadap korban juga menjadi tanda tanya di film ini. James menghadirkan tokoh dimana yang menjadi dalang dibalik semua ini. Tokohnya pun tidak hanya satu, karena selain tokoh yang melakukan peristiwa misterius ini, juga ada tokoh yang melakukan pembunuhan satu per satu terhadap para ibu korban di tempat tersebut.

The Clinic sendiri hadir di Indonesia ketika ajang festival film horror yang dikenal dengan iNAFFF 10. Di ajang tersebut, The Clinic mendapatkan sebuah penghargaan sebagai Audience Award Winner iNAFFF 2011. Gue secara pribadi agak terkejut mengetahui penghargaan tersebut, karna secara keseluruhan gue melihat The Clinic biasa saja dan tidak terlalu istimewa. Paling yang menarik dari film ini yaitu mengambil tema tentang ibu-ibu hamil yang dijahit perutnya serta diambil bayi mereka satu per satu. Unsur ketegangan film ini pun tidak sepanjang film ini, karena twist yang dihadirkan film ini sudah gampang ditebak dari pertengahan film ini.

Para pemain The Clinic bisa dibilang mampu bermain dengan baik, sebut saja Tabrett Bethell, Freya Stafford, Andy Whitfield, Clare Bowen, dan Sophie Lowe. Tingkat emosi dan mental mereka berhasil dengan baik dihubungkan ke setiap penonton yang menyaksikannya. Seperti yang gue bilang tadi, bahwa The Clinic sebenarnya bukanlah suatu film yang istimewa. Ketegangan di film The Clinic hanya bisa dirasakan ketika penjahitan kasar terhadap ibu-ibu hamil tersebut, dan juga ketika pengejaran dengan anjing yang lapar. Selebihnya tidak ada sesuatu yang istimewa dari film ini. Selamat menonton. :cheers:


3/5

Senin, 30 Mei 2011

La posesión de Emma Evans "Exorcimus" (2010)

You Can Be Free

Di suatu keluarga tinggallah Emma yang hidupnya bisa dibilang tidak seperti anak remaja perempuan pada umumnya. Dimana yang seharusnya dia menjalani aktivitas sekolah di luar, hanya dapat dia lakukan melalui guru panggilan ke rumah. Lucy, sang ibu, bingung dengan sikap Emma beberapa akhir ini. Emma akhir-akhir ini terlihat menyakiti dirinya sendiri dan tiba-tiba suka kejang-kejang sendiri. Akhirnya, lucy membawa Emma ke dokter untuk segera diperiksa. Selain dokter, Lucy juga memanggil Pastor yang selama ini menjadi kepercayaan keluarganya. Akan tetapi ternyata Emma hari ke hari semakin aneh dan selalu kesurupan dengan suara yang membuat orang sekitarnya ketakutan. Ada apa sebenarnya dengan Emma?

La posesión de Emma Evans yang dikenal dengan Exorcismus merupakan sebuah film bergenre horror yang berasal dari Spanyol. Kehadiran film ini mungkin tidak begitu semeriah The Last Exorcism milik Hollywood di tahun 2010 lalu akan tetapi sebenarnya film ini punya daya tarik sendiri setelah menonton film ini. Jika The Last Exorcism lalu ada unsur-unsur film Paranormal Activitynya yang dimana ada adegan perekaman di suatu bagian, di Exorcismus kali ini David Muñoz sang penulis cerita bener-bener membuat cerita tentang Emma yang kerasukan dan tidak adanya suatu perekaman di dalam film ini. Bagaimana Emma yang diceritakan sebagai gadis remaja yang terkurung dari dunia asing dan didiagnosa memiliki gangguan syaraf menjadi daya tarik tersendiri film ini.

Disamping daya tariknya tadi, cerita ini juga memiliki twist yang cukup mengejutkan di endingnya. Dimana adanya satu tokoh yang ternyata dibaliknya perubahan yang terjadi pada Emma selama ini. Cerita lumayan, terus bagaimana dengan para pemain dan scoringnya? Hmm para pemain disini bisa dbilang mampu bermain dengan baik. Sophie Vavasseur sebagai anak yang mengalami tekanan batin dan kerasukan bisa dibilang bermain baik di sini. Dia mampu memainkan emosionalnya ke penonton dengan baik. Akting dia sendiri sebenarnya kalau lo ingat-ingat pernah muncul di Resident Evil yang seri Apocalypse (2004) silam. Dia disana berperan sebagai Angie Ashford.

Scoring film ini bisa dibilang aman saja untuk membawa suasana rasa ketegangan film ini. Apalagi disaat Emma kesurupan yang berubah suaranya seperti lelaki tua mejadi daya tarik tersendiri film ini. Nah dari tadi ngebahas kelebihan film ini terus, kekurangannya apa? Hmm bisa dibilang gue sedikit melihat kekurangan film ini karena gue enjoy-enjoy aja menikmati alur cerita ini yang terkadang maju mundur dan kesurupannya Emma. Mungkin menurut gue secara pribadi film Exorcismus bisa dibilang film horror Spanyol yang lebih ke arah psikologi seseorang. Dan itu mungkin itu tidak semua penonton menyukai tipe seperti itu. Selain itu, ada beberapa bagian yang sebenarnya tidak usah terlalu diperpanjang ceritanya karena akan menghabisi durasi saja. Selebihnya silahkan saksikan dan donlot sendiri film ini. Selamat menonton. :cheers:


3,5/5

Trailer:

Sabtu, 28 Mei 2011

Don't Look Up (2009)

Fear comes from above

Membuat film tentang kisah berbau mistis dan hal gaib mungkin bisa dibilang suatu tantangan tersendiri buat para pembuat film. Tantangan demi tantangan biasanya selalu dihadapi selama proses shooting. Namun demikian, semua itu tetap terlaksana sampai akhir cerita karena sebuah namanya profesionalitas. Apalagi kalau kisah yang diangkat ternyata mengandung sesuatu yang misteri dan belum terungkap sampai dibuatnya film tersebut. Film Don’t Look Up secara garis besar menceritakan seperti itu. Marcus Reed seorang sutradara ternama tertantang membuat sebuah film yang berkisah tentang Matya. Matya adalah seorang gadis yang dibunuh sependuduk karna memiliki tanda iblis di tubuhnya. Tanda tersebut disebabkan adanya sebuah perjanjian dengan Beng, Iblis gipsi.

Selama shooting berlangsung Marcus Reed mengalami kejadian-kejadian yang aneh dan misterius. Satu per satu crewnya mati secara tragis di lokasi kejadian shooting. Josh Petri sudah mengingatkan secara baik-baik kalau sebenarnya proyek ini cukup berbahaya dan sangat beresiko tinggi. Akan tetapi, Marcus tetap terus menjalani shooting. Bahkan suatu hari, dia diultimatum oleh seorang kakek tua agar segera menghentikan proyek ini karena pada tahun 1928, Bela Olt dengan aktris utama Lila Lis beserta seluruh crewnya menghilang secara misterius dan sampai saat ini belum ditemukan jasad mereka.

LIGHTS... CAMERA.... EVIL.....

Don’t Look Up bisa dibilang sebuah karya Hollywood yang sutradara dan penulis skenarionya berasal dari Asia. Hiroshi Takahashi yang terkenal dengan besutan karyanya di trilogy RING kali ini berkesempatan mmbuat skenario film Don’t Look Up. Hiroshi tidak sendiri karena ditemani oleh Brian Cox mungkin biar unsur Hollywood horror film ini lebih terasa. Sedangkan di bangku sutradara sendiri dipercayakan kepada Fruit Chan. Walaupun 2 nama terkenal dibalik film ini berasal dari Asia dengan besutan karya-karyanya yang gemilang, akan tetapi Don’t Look Up terlihat begitu tanggung dan tidak matang sama sekali pembuatannya dari beberapa sisi.

Scoring film ini bisa dibilang agak cukup mengganggu pendengaran karena di beberapa scene yang tidak adanya unsur menegangkan dibuat menegangkan karena efek-efek suara yang tidak jelas dan sangat mengganggu. Kalau dari visualisasi juga terlihat tanggung dan tidak seapik mungkin dibuatnya. Cuma bermodalkan sekumpulan lalat atau efek suara lalat yang menyelimuti badan seseorang serta tanda iblis terlihat hanya seperti tanda biasa saja. Malah saya kira tanda iblis tersebut macam penyakit gondok atau bisul. Gambar yang dihasilkan juga terlihat seperti film rekaman (diluar adegan yang memang saat keadaan shooting), penghasilan gambar yang sedap mata hanya ketika adegan bayi keluar dari perut seorang ibu tapi keluarnya melompat. Bisa dibilang cuma itu saja yang menarik dari film ini.

Alur cerita yang dihadirkan film ini bisa dibilang membuat rasa penasaran hingga akhir tapi setelah melihat akhir filmnya seperti itu yang menurut gue bukan twist tapi sesuatu hal yang aneh. Di beberapa scene pun ada bagian yang tidak dijelaskan adanya cerita tersebut. Penonton kan datang buat untuk menonton bukan untuk berpikir dari mana beberapa bagian film itu berasal. Jadi menurut gue Don’t Look Up walaupun menegangkan dan membuat penasaran hingga akhir, akan tetapi bukanlah suatu yang meriah dibalik 2 nama besar dibaliknya jika dibandingkan karya pengalaman beliau-beliau tersebut. Selamat menyaksikan di bioskop kesayangan anda! :cheers:

2/5

Trailer:

Jumat, 27 Mei 2011

Rabbit Hole (2010)

Kehilangan adalah sesuatu yang tidak diinginkan oleh semua orang. Apalagi kehilangan seorang anak satu-satunya pasti akan menjadi sesuatu kehilangan yang sangat mendalam bagi semua orang tua. Begitu pula dengan Becca dan Howie yang begitu kehilangan anak lelaki semata wayang mereka, Danny berusia 4 tahun yang tertabrak mobil ketika mengejar anjing miliknya. Becca menjalani kehidupan begitu penuh sensitive kalau berhubungan dengan sesuatu anaknya atau barang kesayangan anaknya. Dia terlihat begitu tidak rela atas kenyataan hidup yang dia alami. Bahkan dirinya sudah merasa bahwa Tuhan lah penyebab semua ini. Sang ibu, Nat bisa mengerti keadaan Becca karena dirinya telah mengalami hal yang sama ketika anaknya yang tidak lain kakak dari Becca. Namun Becca tetap membedakan semua itu dengan apa yang dialaminya saat ini.

Suatu hari, Becca ketika menyetir mobil melihat sebuah bus sekolah dan matanya tertuju pada seorang anak lelaki yang sekitar usia remaja pada umumnya. Anak itu, bernama Jason. Jason awalnya tidak masalah diikuti Becca tapi dirinya penasaran dengan maksud dan tujuan Becca selama ini mengikuti dirinya. Becca pun akhirnya berinteraksi langsung dengan Jason dan mereka kelihatan semakin akrab. Di sisi lain, Howie begitu membutuhkan kehadiran sosok Becca yang dahulu. Namun semua itu dilimpahkan kepada salah satu kawan perempuannya di tempat pertemuan para orang tua depresi. Howie merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Becca, hingga akhirnya dia mengetahui bahwa Becca ternyata sedang dekat dan begitu menyayangi Jason seperti anaknya sendiri. Howie mencoba membuka mata Becca dan belajar menerima kenyataan dari semua yang telah terjadi selama ini.

Rabbit Hole sebuah film drama keluarga yang penuh depresi dan kegalauan dari orang tua. Sebenarnya yang mengalami seperti Becca dan Howie bukan mereka karena terbukti di setiap pertemuan yang mereka lakukan terdapat juga orang tua yang senasib dengan mereka. Tapi, film ini lebih terfokuskan dengan kehidupan cerita Becca yang kehilangan anak semata wayangnya. Cerita film ini bisa dibilang kalau ditelusuri lebih dalam sebenarnya sebuah drama yang menyentuh dan penuh emosional. Bagaimana kehilangan orang yang disayangi dan dicintai tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dijalani oleh setiap orang.

John Cameron Mitchell sebagai sutradara berhasil membuat film ini menjadi sebuah tontonan yang menarik. Yang disayngkan dari film ini adalah lambatnya alur yang dibawakan, jika film ini lebih membawakan emosional dari seorang ibu dan ayah yang kehilangan anaknya pasti lebih baik lagi kualitas film ini. Terbukti Nicole Kidman saja yang terlihat begitu all-out dalam berakting di film ini. Sebagai ayah, Aaron Eckhart terlihat tidak begitu mengimbangi permainan akting dari Nicole. Jadi terlihat banget kejomplangan antara mereka berdua. Sebenarnya peran dari Ibu Nat, Dianne Wiest sudah sedikit terlihat yang begitu merasakan kepedihan Becca. Tapi sayangnya dia tidak begitu tergali di film ini.

Dengan adanya 16 penghargaan nominasi yang diraih Rabbit Hole di kancah perfilman internasional, sudah membuktikan bahwa film ini layak untuk ditonton, dan ternyata memang pantas dengan apa yang diterima setelah menonton film ini. Permainan emosi dari seorang Nicole Kidman berhasil dilakoni dirinya dengan baik. Walaupun skenario yang dibuat David Lindsay-Abaire ini terlihat begitu lambat dalam ceritanya tapi tidak terasa cepat juga walaupun durasi film ini hanya 89 menit. Walaupun Rabbit Hole terasa basi di bioskop tapi salah satu nominasi Oscar ini layak untuk ditonton kembali sekalipun sudah menontonnya di DVD. Selamat menonton. :cheers:

3,5/5

Trailer:

Kamis, 26 Mei 2011

Pupus (2011)

Cindy seorang mahasiswi baru Universitas Trisakti Fakultas Tenik Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan. Di hari pertama ospek, dia dikerjain oleh Sinta dan Eros karena berulang tahun hari itu. Tugas dia harus mencari tahu senior cowo yang berulang tahun hari ini. Karena tugas tersebut, Cindy pun bisa bertemu dengan Hugo dan Pandji. Akan tetapi yang berulang tahun sama dengan Cindy adalah Pandji. Pandji tidak mau menuruti permintaan Cindy karena dia membenci namanya perayaan ulang tahun. Akan tetapi dengan keberanian Cindy akhirnya dia punya ide untuk membuat dirinya lolos dari hukuman para seniornya. Sejak saat itulah, Pandji akhirnya bisa merayakan ulang tahunnya pertama kali karena ulah Cindy. Cindy yang ternyata jatuh cinta terhadap Pandji pun senang pada akhirnya Pandji mau merayakan ultahnya bareng dengan dirinya. Akan tetapi, Pandji ternyata seorang playboy jadi Cindy terlalu percaya diri jika Pandji juga mencintai dirinya.

Sebuah produksi dari gabungan dari Maxima Pictures dan Universitas Trisakti yang disutradarai oleh Rizal Mantovani. Bisa dibilang film PUPUS sebagai ajang meliput tentang lingkungan kampus A Trisakti yang berlokasi di Grogol karena 85% setting dilakukan di kampus tersebut. Selain setting, kegiatan kampus disana pun ikut terliput di film ini. Mungkin dikarenakan eksekutif produser film ini sendiri dari Universitas Trisakti kali yak. Baiklah daripada kelamaan ngebahas settingnya di kampus lebih baik fokus ke cerita dan para pemainnya.

Kalau mau flashback trailernya, pasti kalau lo pecinta film yang nonton di bioskop selalu disajikan trailer Pupus sebelum film yang mau lo tonton. Dilihat disana seorang mahasiswi Universitas Trisakti yang bernama Cindy mendapatkan telepon dari Pandji pacarnya di ulang tahunnya. Pandji mengatakan bahwa dirinya telah bertunangan dan Cindy harus memperjelas kepada tunangan Pandji bahwa selama ini mereka tidak ada hubungan apa-apa. Setelah itu Cindy pun menuruti permintaan Pandji dan melanjutkan pemotongan sayur-sayuran hingga tangan Cindy ikut teriris.

Aku takut kamu bakal terluka kayak aku - Pandji

Keseluruhan cerita film Pupus bisa dibilang cerita yang mencekam dibumbui romantika percintaan anak muda. Ceritanya sebenarnya simple dan menurut gue pribadi terlalu cepat dengan durasi yang kurang lebih 85 menit dengan konflik yang begitu cepat sekali diberikan film ini 9padahal di web bioskop dituliskan 99 menit). Skenario yang ditulis oleh Alim Sudio ini terlihat seperti layaknya FTV yang dituangkan versi layar lebar dengan tanpa iklan. Terlihat sekali Alim Sudio terburu-buru menyelesaikan cerita dengan cara langsung membuat penyelesaian bahagia di beberapa scene. Dan gue melihat adanya cerita yang hanya sekedar tempelan saja. Cerita dimana Cindy melakukan audisi nyanyi di kampusnya seperti hanya ajang promosi seorang Donita ternyata bisa nyanyi loh. Scoring pembawaan suasana yang menyentuh juga terasa di film ini. Dan menuju akhir film ini terdapat twist yang menyentuh.

Kalau boleh jujur gue melihat trailer film PUPUS, beranggapan kalau ada sesuatu yang terjadi dengan Pandji. Entah dia dipaksa bertunangan, atau karena dia sudah menghamili cewek lain. Tapi ternyata semua itu diluar dugaan gue, entah apa karna gue baru mengikuti perjalanan perfilman Indonesia produksi Maxima Pictures jadi gue merasa film ini punya twist yang menyentuh dan mencekam juga yang menggambarkan teririsnya tangan Cindy dan jatuhnya aquarium miliknya. Akan tetapi twistnya sendiri bukan di ending banget seperti film produksi Maxima lainnya.

Apapun yang kamu mau, kamu harus kejar cita-cita kamu. Kamu harus kerja keras untuk apa yang kamu mau. - Pandji

Donita dan Marcel Chandrawinata bisa dibilang agak terlihat kaku di awalnya jadi terlihat banget chemistry mereka kurang greget, padahal Marcel disini diceritakan sebagai Pandji yang playboy tapi keplayboyan dia ketika mendekati Cindy tidak terlihat sama sekali jadinya terlihat seperti ulur-uluran tali gitu saking kakunya. Akan tetapi ketika pertengahan hingga ending chemistry diantara mereka berdua terlihat begitu semakin menyatu apalagi ketika melakukan adegan kissing di komedi putar. Bisa dibilang adegan ini cukup lama dan lepas dari sensor, untung tidak kena sensor karena gregetnya mereka terlihat adegan tadi. Ichsan Akbar yang selama ini dikenal sebagai pembawa acara Loe Lebay terlihat begitu kalem disini sebagai Eros. Saran gue kalau mau lebai, ya lebai aja toh pak! Jangan ditahan gitu mukanya. Sisanya Kadhita Ayu, Arthur Brotholaras, dan Vicky Monica bermain biasa aja ah malah terkadang datar.

Overall, film PUPUS menghadirkan cerita drama romantis yang tidak baru lagi dan sedikit twist di dalamnya dengan sinematografi buruk (bukan PARAH) dari seorang Rizal Mantovani. Dengan kehadiran para pemain yang tampil seadanya dan tidak ada kesan apa-apa selain adanya memperingati tragedi Kampus Trisakti 12 Mei 1998 silam dan bernyanyinya Donita di film ini. Mengharapkan sesuatu yang lebih? Hmm sepertinya tidak ada selain mencekam dan menyentuh, sisanya seperti FTV yang diatuangkan ke dalam layar lebar saja. Selamat menonton. :cheers:


2,5/5

Trailer:

Selasa, 24 Mei 2011

Limitless (2011)

Eddie adalah seorang penulis yang hidupnya selalu berantakan dan tidak jelas. Suatu hari dia bertemu dengan kakak iparnya yang bernama Vernon. Vernon memberikan dirinya 1 butir pil kepada Eddie yang awalnya dia tolak namun pada akhirnya diterima. Eddie pun penasaran lalu menelan pil itu, dan ternyata reaksi dari pil tersebut bergerak cepat sekali. Eddie yang tadinya berantakan hidupnya, kini setelah menelan pil yang disebut NZT 84 tersebut membuat dirinya terlihat rapi, bersih, semangat dalam beraktifitas, dapat menyelesaikan tulisannya dalam waktu beberapa jam, dan posisi dalam pekerjaannya meningkat. Namun demikian, reaksi pil tersebut hanya berlaku dalam 1 hari. Dan jika Eddie tidak menelan pil NZT 84 lagi maka dirinya akan menjadi pusing, lemas bahkan dapat merenggut nyawanya.

Jika dilihat dari sinopsis diatas film ini pasti ada berhubungan dengan obat-obatan yang berbau ilmu pengetahuan. Akan tetapi setelah menyaksikan film ini, ternyata Limitless menghadirkan cerita yang tidak keseluruhan menceritakan tentang ilmu pengetahuan melainkan tentang bagaimana seseorang dapat menjalani hidup dengan baik tanpa adanya suatu ketergantungan dari apapun. Limitless sendiri adalah sebuah novel karangan Alan Glyn yang disadur menjadi sebuah skenario film oleh Leslie Dixon. Leslie Dixon disini bisa dibilang secara keseluruhan tidak berhasil membuat emosi penonton terjalin dengan baik, karena di beberapa bagian ada sesuatu yag sebenarnya tidak penting dibuat panjang dalam film ini dan akhirnya membuat penonton menjadi jenuh. Yang menarik dari film ini adalah memvisualisasikan cerita dengan baik, dan adanya pengambilan gambar yang cepat.

A tablet a day and I was Limitless...- Eddie

Para pemain disini bisa dibilang mampu bermain dengan baik, sebut saja Bradley Cooper, Robert De Niro, Abbie Cornish, Anna Friel. Bradley Cooper sebagai Eddie yang dimana sosok ketergantungan berhasil dia pernakan dengan baik dan bagaimana sikap dia untuk tetap mencoba berhenti dari ketergantungan obat tersebut juga berhasil dia perankan dengan baik. Begitu pula dengan Robert De Niro yang sebagai peran pendukung dalam film Limitless kali ini, berhasil membawakan peran seorang Carl Van Loon yang ternyata sebagai pemakai obat juga tapi baru diketahui di ending film ini. Sosok Abbie Cornish yang berperan sebagai kekasih Bradley disini juga mampu berperan dengan baik, akan tetapi yang aneh adalah bagaimana Lindy yang setelah meminum pil tersebut menjadi tidak ketergantungan atau tidak ada efek apapun jika tidak meminum pil itu lagi. Anna Friel sebagai pendukung wanita berhasil bermain total sebagai seorang pemakai pil berat. Ekspresi dan raut wajahnya berhasil dituangkan di perannya sebagai Melissa kakak dari Eddie.

Neil Burger sebagai sutradara film Limitless bisa dibilang berhasil membuat film ini menjadi sebuah tontonan yang menarik. Sinematografi yang bagus dan pengambilan gambar yang cepat, visualisasi yang baik, scoring yang easy listening dengan pendengaran, serta para pemain yang rata-rta berhasil membawakan perannya dengan baik di sepanjang film ini. Pesan yang ingin disampaikan film ini juga tersampaikan dengan baik, akan tetapi kalau ditelusuri lebih ke bidang ilmu pengetahuan film Limitless bukanlah suatu karya apa-apa. Jika kalian semua membutuhkan tontonan segar, maka Limitless yang hanya telat 1 bulan penayangan dari USA sangat layak untuk ditonton di bioskop saat krisis film yang hingga saat ini masih berlangsung. Selamat menonton. :cheers:

4/5

Trailer: