Friday, April 29, 2011

Whispering Corridors 4 (2005)

Young-eon seorang siswi di salah satu sekolah perempuan. Dia mempunyai kesempatan untuk bisa bernyanyi solo di paduan suara sekolahnya. Guru musiknya memilih dia sebagai penyanyi solo karna dilihat memiliki karakter yang berbeda dengan teman-temannya. Suatu malam di latihan dengan keras di ruang music sekolahnya. Sahabatnya yang bernama Sun-Min menyarankan agar Young-eon tidak terlalu semangat latihan karna dia juga harus menjaga kesehatannya. Ketika Sun-Min mengajak Young-eon pulang, Young-eon menolak ajakannya karna dia mau tetap di ruang music untuk tetap latihan. Akhirnya, Sun-Min pun mengalah untuk pulang sendiri. Ketika Young-eon seorang diri di ruang music tiba-tiba ada sosok misterius yang melemparkan kertas ke lehernya sehingga membuat dirinya mati seketika. Keesokan harinya Sun-min bingung kenapa Young-eon tidak masuk sekolah. Yang lebih misterius lagi ketika Sun-Min dapat mendengar suara Young-eon namun tidak bisa melihat wujud aslinya. Ternyata bukan hanya Sun-Min yang dapat mendengarnya, Cho-ah gadis misterius yang ternyata pernah tinggal di nuthouse tersebut, juga bisa mendengar suara Young-eon. Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan pencarian tentang hilangnya Young-eon yang misterius tersebut.

Film Horror Asia ini adalah judul lanjutan dari Whispering 1-3 sebelumnya, namun ini hanya berhenti sama di judul saja. Cerita yang dihadirkan dari whispering 1-4 sama sekali tidak ada hubungannya karna mereka tersendiri memiliki tema cerita yang berbeda-beda. Tema yang diambil dari Whispering Corridors kali ini adalah berhubungan dengan suara. Jadi bisa dibilang, hampir sekitar 85% penonton akan disajikan berbagai macam suara-suara dan musik-musik opera dan orchestra yang mampu membuat bulu kuduk berdiri (jika menonton di tengah malam). Bisa dibilang setting tempat cerita Whispering Corridors 4 ini seperti halnya dengan Death Bell 2 yang hanya mengandalkan satu setting yaitu sekolah. Sepertinya film horror Asia begitu bersemangat sekali mengambil setting tempat sekolah, walaupun setting sama tapi cerita yang dihadirkan tidak pernah habis ide ceritanya.

Film Whispering Corridors 4 sendiri memiliki adanya twist di pertengahan hingga akhir film. Namun lambatnya alur yang dihadirkan film ini bisa menjadi suatu kekurangan dari film ini dan kelebihan bagi penonton untuk tertidur atau asik sendiri bermain telepon selularnya. Konflik dan latar belakang terjadinya konflik di film ini bisa dibilang agak membingungkan karna penonton dibuatnya pusing dengan cerita ini. Walalupun ujung-ujungnya penonton bisa mengerti maksud dan tujuan dari film ini. Pengambilan gambar yang kelam ala film-film horror Asia lainnya juga tetap dihadirkan film ini. Selain itu ekspresi-ekspresi dari sosok misterius di film Whispering Corridors 4 juga bisa dibilang cukup menakutkan walaupun hanya dengan polesan sedikit tambahan make-up saja.

Overall, film Horror Asia Whispering Corridors 4 suatu kemasan layaknya film horror Asia lainnya, akan tetapi yang membedakan film ini adalah dari segi tata suaranya. Scoring yang membuat bulu kuduk merinding menjadi poin plus film ini, walaupun cerita yang dihadirkan di akhir film terasa begitu cepat permasalahan seperti membalikkan tangan. Jika kalian salah satu penggemar film horror Asi, alangkah lebih baik menonton film ini dan rasakan serta nikmati suara-suara tersebut. Selamat menonton. :cheers:

3/5

Trailer:

1 comment:

  1. dari seri 1-5 whspering corridors, seri ke 4 ini yg paling beda..

    On the negative side :
    - seri whispering corridors yg paling gak ada serem-seremnya (padahal genre horor)
    - cerita twist dengan alur sangat lambat dan bolak-balik bukan paduan yg mantap, penonton lebih cepat mengantuk dibanding penasaran buat memahami cerita

    On the positive side :
    - jalan cerita gak mudah ditebak, meski memusingkan
    - ARTISTIK. Kekuatan utama seri ke 4 ini. Perpaduan musik spain folk song, romance de amor, dengan aura gelap-gelap sekolah horor memberi cita rasa seni tinggi. Imajinasi terhadap musik menjadi luas..

    ReplyDelete