Thursday, April 28, 2011

Minggu Pagi Di Victoria Park





Film Minggu Pagi di Victoria Park sebenarnya tayang di tahun 2010 silam, akan tetapi gue baru sempat menonton film ini di tahun 2011 melalui DVD. Salah satu faktornya adalah bertahan kurang lebih 14 hari film ini berada di bioskop pada waktu silam. Tidak sedikit para kritikus film dan movie blogger yang mereview film ini tergolong layak ditonton dan sangat terpuji. Tema film Minggu Pagi di Victoria Park bisa dibilang agak berbeda jika dibandingkan dengan tema perfilman Indonesia di tahun 2010 silam/ketika film ini tayang di bioskop. Dengan mengambil tema TKW merupakan suatu hal yang langka di perfilman Indonesia. Walaupu sebelumnya pernah ada yang hampir sama penokohannya dengan Marsinah, namun tetap berbeda karena cerita Marsinah sendiri tentang buruh sedangkan MPDVP tentang TKW di negeri tetangga. Untuk lebih jelasnya, simak curhatan josep berikut ini.

Mayang dan Sekar adalah dua kakak beradik yang beradu nasib di Jepang sebagai TKW. Namun semua itu sebenarnya bermula dari Sekar yang terlebih dahulu bekerja sebagai TKW. Oleh sebab tidak ada kabar dari Sekar, Mayang dengan perintah dari sang ayah pergi menyusul ke Jepang sebagai TKW. Setiba disana Mayang mendapatkan pekerjaan sebagai pengasuh dan pembantu di sebuah keluarga yang menerima dia dengan senang hati. Setiba di sana, dia pun tidak larut dengan pekerjaannya karena tujuan utama dia disana adalah untuk mencari Sekar yang tidak ada kabarnya. Setelah dia cari tahu, ternyata Sekar sudah menghilang 1 tahun lalu dari tempat penampungan para TKW Indonesia yang bekerja di Jepang. Mayang pun semakin gelisah mendengar kabar tersebut, namun dia mencoba merahasiakan berita tersebut kepada kedua orang tuanya di kampong. Dengan bantuan Mas Gandhi mereka pun akhirnya mencari Sekar.

Karya Lola Amaria kali ini bisa dibilang cukup matang dalam psoses pembuatannya. Dengan mengambil tema TKW dan pengambilan gambar yang sepertinya 90% di Jepang merupakan poin plus dari film ini. Alur cerita yang dihadirkan film ini bisa dibilang mampu memainkan emosi penonton di sepanjang durasi yang kurang lebih 95 menit. Konflik yang dihadirkan film ini seperti cerita kisah nyata yang kembali diangkat oleh Lola Amaria dengan bantuan Titien Wattimena untuk menuliskan jalan cerita film ini. Dengan balutan scoring yang mampu menyatukan sentuhan-sentuhan di setiap bagiannya. Pengambilan gambar yang bersettingkan negeri Sakura ini, bisa dibilang belum terlihat sempurnan karena di beberapa bagian ada yang terlihat buram dan tidak menggambarkan keindahan negeri Sakura tersebut. Lalu bagaimanakah dengan para pemain yang bermain disini?

Titi Sjuman di film Minggu Pagi di Victoria Park bisa dibilang totalitas bermain di film ini. Dengan perannya sebagai TKW sekaligus perempuan penggoda di klub malam plus ragamnya ekspresi yang dihadirkan beliau disini, rasanya lebih pantas jika mendapatkan penghargaan sebagai pemeran wanita terbaik di tahun 2010. Kalau Lola Amaria gue melihat secara keseluruhan lumayan dan tidak sebaik Titi Sjuman karna di beberapa bagian ada yang terlihat datar ekspresinya dan kurangnya emosi yang ditumpahkan. Di sisi lain, yang berperan sebagai teman Lola Amaria bisa dibilang bagus bermain disini. Kalau boleh jujur, gue baru pertama kali melihat akting dia di sebuah film dan itu sebuah kejutan. Lain halnya dengan Ella Hamid yang sudah pernah berkecimpung , yang berperan sebagai wanita nyentrik ala hip hop dan sebagai “ibu” curhatan anak-anak TKW disana ketika di Victoria Park. Kalau peran pria disini gue merasa tidak ada yang spesial karakternya, walaupun donny alamsyah sendiri disini terlihat lebih pucat dan terlihat terlalu kurus.

Dialog-dialog yang dihadirkan di film Minggu Pagi di Victoria Park bisa dibilang agak “nyentil” ke pihak-pihak pemerintah yang kurang peduli terhadap TKW-TKW di luar sana. Dan juga pemilihan kata yang bukan sembarang kata yang membuat film ini bisa dibilang tergolong film cerdas dalam pemilihan katanya. Entah kenapa film ini hanya bertahan kurang lebih 14 hari di bioskop, apa karna faktor film ini dibalut dialog yang terlalu cerdas dibandingkan para penontonnya? Apa karna tema yang diambil juga terlalu berat untuk penikmat film Indonesia? Tapi walaupun film ini kurang begitu dilirik di negeri sendiri akan tetapi film ini cukup banyak dilirik di luar negeri dan berhasil mengikuti kompetisi film-film Festival. Akhir kata, film Minggu Pagi di Victoria Park menurut gue pribadi adalah film Indonesia terbaik di tahun 2010. :cheers:

4,5/5

Trailer:

No comments:

Post a Comment