Rabu, 30 Maret 2011

TEBUS (2011)

Jika melihat trailer pasti anda akan merasakan sesuatu yang mungkin terlintas dari diri kalian “Film apa sih ini?” “Aneh banget dah”. Gue pun juga serupa seperti itu, gue melihat trailernya sudah tidak respect lagi dengan film panjangnya. Akan tetapi, setelah membaca review dari screening web sebelah yang mengatakan film ini memiliki twist dan menjanjikan serta menegangkan, gue pun langsung berubah pikiran untuk mencari tahu film tersebut (Baca=Premier). Setelah menyaksikan film ini, gue merasakan sedikit terobati jika dibandingkan trailernya. Apalagi sang sutradara Muhammad Yusuf, tahun lalu telah membuat penonton film Indonesia muak dengan karyanya yang begitu buruk (baca=JINX). Untuk mengetahui lebih lanjut film Tebus, simak curhatan josep berikut ini.

Rony Danuatmaja adalah seorang pebisnis sukses yang terkenal dimana-mana. Dia memiliki istri yang bernama Siska, 1 anak lelaki bernama Alarik, dan 2 anak perempuannya Ludmilla dan Carissa. Buat Rony, nama keluarga Danuatmaja begitu yang paling berharga dibandingkan apapun. Apapun akan dilakukannya untuk mempertahankan eksistensi nama Danuatmaja, bahkan sampai nyawa balas nyawa pun. Suatu hari, Rony begitu terpukul ketika mengetahui anak sulungnya Alarik ditemukan tewas di kamarnya akibat OverDosis. Setelah kejadian itu, Rony dan sekeluarga memutuskan untuk pergi berlibur ke villa mereka. Setiba disana, teka-teki dibalik sosok misterius yang selalu membuntuti mereka pun menghantui kegiatan mereka selama di villa tersebut.

Tema film ini bisa dibilang tidak umum lagi di Indonesia, gue ketika membaca sinopsis film ini terlintas di pikiran gue kalau film ini mirip dengan Demi Dewi (Wulan Guritno). Miripnya hanya dari tema yaitu nyawa bayar nyawa. Namun tetap film Tebus memiliki perbedaan yang khusus yaitu dari awal film ini begitu menegangkan. Alur yang maju mundur yang begitu lambat membuat film ini seperti bukanlah sebuah film layar lebar. Gue merasa seperti menonton sebuah pertunjukan drama mendayu yang berdurasi 100 menit. Walaupun begitu faktor musik, efek-efek suara lainnya dan alur maju mundur yang lambat membuat film ini begitu menegangkan. Untungnya film ini tidak membuat ngantuk, malahan membuat rasa penasaran penonton hingga akhir film ini.

Tio Pakusadewo disini bermain begitu memukau, dengan sifat yang ambisius dan gengsi yang tinggi mampu menjadi raja di film ini. Chintami yang berperan sebagai ibu dari anak-anak terlihat begitu lembut, namun dibalik kelembutan tersebut juga terdapat sisi kebalikannya. Sheila Marcia disini berperan seperti dirinya sendiri. Walaupun dia sudah memiliki 1 anak, akan tetapi peran sebagai kakak dari Carissa bisa dibilang aman. Menurut gue, tidak ada yang spesial di akting Sheila Marcia disini, gue lebih suka di film dia sebelumnya. Luna? Bisa dibilang akting dia disini hampir sama dengan Sheila, akan tetapi karena porsinya lebih banyak jadi masih dibilang lebih aman.

Kalau Revaldo, gue gak mau komentar banyak, karena menurut gue dia seperti bukan berakting. Bukan bermaksud menghakimi, tapi jika dilihat dari background hidupnya sebagai pemadat, jadi tidak sulit lagi baginya untuk memerankan itu. Namun demikian, Revaldo juga memiliki kekurangan yaitu ketika berakting dia OD. Gue kurang merasakan feel kematiannya, mungkin karena faktor matanya yang yang kurang menyakinkan. Saran gue sih mendingan ditutup dulu aja matanya, daripada jadi kurang greget rasanya. Selain mereka, juga ada Anneke Jody yang berperan sebagai pembantu. Ketika adegan awal dia muncul gue langsung berasumsi kalau perannya terlalu cantik dan mulus untuk seorang pembantu. Namun demikian, ketika berjalannya cerita yang maju mundur, ternyata asumsi gue salah.

Ibu Jajang C Noer, bisa dibilang dari semua film yang diperankan akhir-akhir ini dia selalu mendapatkan porsi sedikit dan berperan sebagai ibu dengan suaranya yang khas tersebut. Untuk akting, gue lebih suka di film Tebus dibandingkan dengan film beliau di awal tahun ini Khalifah (2011) . Selain Tio Pakusadewo, sebenarnya ada peran yang menarik untuk dilihat. Peran tersebut diperankan oleh Dayat. Kalau lo semua ingat acara Idola Cilik, pasti kenal dengan nama tersebut. Disamping suaranya yang lumayan dikalangan anak-anak, ternyata dia punya bakat akting terpendam yang baik. Namun di film ini, dia kurang begitu banyak porsinya, jadi bakat akting yang sebenarnya ada di dalam dirinya bisa lebih lagi diolah agar tidak terkesan lewat saja seperti pemain-pemain lainnya.

Gue disini tidak mau membandingkan hasil karya Muhammad Yusuf sebelumnya (JINX) dengan film Tebus ini karena gue belum nonton JINX. Jadi menurut gue, pengambilan gambar film ini bisa dibilang menarik dan apik. Kalau dari segi scoring, seperti gue sebutkan di awal bahwa alunan musik yang dimainkan disini membawa suasana ketegangan cerita film ini. Nyawa musik yang dibawakan disini ibarat kata bagaikan nyinden dari film-film horror seperti Mati Suri. Menurut gue para pemain sudah bermain sesuai dengan karakternya, namun porsi dan penggalian karakter lebih dalam para pemain belum begitu istimewa. Jadi bisa dibilang, setelah menonton film ini hanya beberapa karakter saja yang masih teringat hingga kalian pulang ke rumah.

Pemain-pemain tambahan lainnya, menurut gue seperti asal comot saja. Karena gue merasa ending film ini begitu mudahnya karena peran-peran tambahan tersebut yang kurang greget penampilannya. Disamping itu, juga ada scene-scene yang seharusnya tidak lama untuk ditampilkan. Selain itu, film ini bisa dibilang minim dialog. Melalui ekspresi, raut muka para pemain, dan alunan musik semuanya itu bisa terjawab semua tanpa dialog yang panjang. Walaupun adanya kekurangan disana-sini, film ini pantas dan layak ditunggu untuk ditonton di bioskop kesayangan anda. Selamat menonton. :cheers:

2,5/5


Trailer:

Senin, 28 Maret 2011

Paranormal Activity 2: Tokyo Night

Belum lama Paranormal Activity 2 yang merupakan prekuel dari Paranormal Activity 1 tayang di bioskop beberapa waktu silam. Bisa dibilang film PA 2 cukup sukses mengobati rasa penasaran penggemar PA sebelumnya. Kini, Paranormal Activity muncul kembali dengan embel-embel Tokyo Night. Dari segi film, film ini serupa dengan PA 1 dan PA 2 yang hanya menggunakan kamera video rekaman. Namun yang membedakan PA Tokyo Night atau dikenal dengan PA 3 adalah sutradara dan pemainnya berasal dari negri Sakura. Kalau boleh flash back, film berbau horror dari negeri Sakura sudah bagus kualitasnya. Rasa merinding dan penuh ketakutan sepanjang film pasti menjadi andalan tipe film dari negeri Sakura tersebut. Daripada kelamaan, mendingan simak curhatan josep berikut ini.

Cerita berawal dari sepulangnya kakak perempuan dari Rumah Sakit yang bernama, Haruka. Dia tinggal bersama adik lelakinya yang bernama, Koichi. Koichi merasakan adanya keganjalan di rumah mereka. Sejak malam itu, dia melakukan suatu aksi untuk membuktikan rasa penasarannya. Dengan meletakkan 2 buah handy cam di sudut kamar mereka masing-masing, maka mereka dapat membuktikan semuanya itu. Kejadian demi kejadian pun terlihat dari hari pertama. Pintu kamar Haruka yang terbuka sendiri, suara kaki raksasa, hingga jalan sendiri kereta dorong milik Haruka. Lalu dapatkah Haruka dan Koichi terlepas dari misteri dibalik rumah mereka tersebut? Akankah mereka selamat?

Dari setting cerita, film PA 3 hampir serupa dengan PA 1 dan PA 2 yaitu di rumah. Namun yang membedakan kali ini adalah kita dapat menyaksikan keganjalan dalam satu layar, dengan 2 setting tempat yang berbeda sekaligus. Jika dibandingkan dengan 2 Film PA sebelumnya, gue lebih merasakan ketegangan di PA 3. Memang di PA 3 kita tidak akan melihat aksi anjing yang menggonggong dan tangisan bayi setiap malam lagi. Akan tetapi, walaupun tanpa mereka, suasana rumah Haruka di malam hari dapat membuat bulu kuduk anda merinding.

Alur yang dihadirkan film ini, bisa dibilang cukup lambat tapi tidak membosankan. Entah perasaan gue aja kali ya, kok gue tidak merasakan perbedaan dari kostum yang digunakan para pemain untuk beberapa scene. Jadi, kesannya film ini seperti copy paste saja adegan sebelumnya untuk adegan selanjutnya. Gue selalu tidak suka dengan ending Paranormal Activity dari sejak dulu, karena ending mereka begitu terburu-buru. Jadi, agak cukup disayangkan film yang sudah membuat bulu kuduk merinding hingga pertengahan film tapi di akhir film terlihat se”gampang” itu.

Jika film ini masuk Indonesia, film ini masih dikategorikan layak untuk ditonton di bioskop kesayangan anda. Akan tetapi, jika lo semua penasaran dengan film ini belilah DVDnya karena sudah beredar di tukang lapak langganan anda. Gambar sudah jernih dan subtitle pun sudah Bahasa Indonesia. Jika menontonnya di rumah, gue cuma saran agar menonton di tengah malam biar suasananya semakin terasa. So, tunggu apalagi? Selamat mencari dan menonton film ini. :cheers:

3,5/5



Trailer:

Minggu, 27 Maret 2011

The Gravedancers (2006)


Film ini bisa dibilang film paling sangat klasik dan kuno di bulan ini. Bagaimana tidak klasik dan kuno, film ini sebenarnya film tahun 2006. Tapi entah kenapa baru diputar di Indonesia setelah DVD Aslinya sudah keluar dan ditayangkan di bioskopnya pun limited edition banget. Poor its. Kalau dilihat dari judul mungkin agak menggelitik dan membuat penasaran. Gue pun sebenarnya penasaran dengan aksi film ini yang konon kabarnya bagus untuk jenis film horror. Gue sudah mencoba mencari DVD dan donlotan hingga ke hollywood katanya sudah tidak ada lagi (saking klasik dan kunonya film ini). Daripada elo semua penasaran dengan curhatan gue tentang film ini, simak aje terus hingga tanda titik akhir paragraf di bawah ini.

Jadi ceritanya berawal dari Harris yang bertemu dengan Kira dan Sid di pemakaman teman mereka yang bernama Davin. Jadi, Harris, Kira, Sid dan Davin adalah 4 sahabat karib lama sewaktu kuliah dulu. Harris mengajak Kira dan Sid untuk reunian bareng. Entah ide konyol dari mana, Harris mengajaknya ke kuburan tempat Davin tadi siang dimakamkan. Akhirnya, Harris pun meminta izin kepada istrinya untuk berreunian bersama kedua temannya, akan tetapi dia tidak menyebutkan tempatnya kemana. Disana, mereka pun melakukan pesta kecil-kecilan. Sungguh perbuatan yang gila dan tidak masuk akal karena mereka menari-nari di kuburan dan kondisi malam itu bulan purnama.


Sesudah malam itu, mereka merasakan keanehan yang terjadi pada mereka. Semua berawal dari hadirnya "makhluk" aneh di rumah Harris. Setelah itu, Kira teman mereka pun mengalami kecelakaan kecil sehingga harus dirawat di Rumah Sakit. Setelah Kira juga merasakan keanehan di Rumah Sakit tersebut, akhirnya mereka memutuskan untuk mencari paranormal detektif untuk membantu masalah mereka. Paranormal detektif tersebut mendiagnosa bahwa semua itu bakal selesai sampai minggu keempat pada saat bulan purnama nanti. Harris team pun mendesak paranormal tersebut untuk mencari cara yang lebih efektif. Akhirnya mereka melakukan rencana yang agak brutal yaitu membongkar semua tempat kuburan dimana mereka melakukan pesta pada malam itu.

Dari kisah diatas bisa dibilang cerita ini cukup untuk tipe film horror. Ditambah lagi dengan adanya alunan musik yang membuat bulu kuduk merinding, bunyi piano yang berdering sendiri, suara aneh dari telepon masuk, pintu bergerak disana-sini, kucing hitam mengeong, dan bunyi suara-suara aneh yang tak ada penampakannya. Namun semua itu langsung buyar ketika munculnya satu per satu hantu tersebut. Entah kenapa gue langsung berpikiran film serupa tapi tak sama dengan Nayato dan KKD namun versi kemasan yang menarik. Tapi tetap saja, gue agak ilfil bukan takut kepada hantu yang muncul disini. Cerita kematian yang terjadi pada hantu-hantu tersebut sudah cukup menakutkan dan menyeramkan tapi semua langsung normal kembali setelah melihat rupa mereka.


Akting dari para pemain bisa dibilang tidak buruk namun tidak baik juga, jadi biasa saja. Ekspresi yang mereka berikan ala kadarnya seperti orang ketakutan melihat penampakan. Entah karena ini film terlalu klasik atau kuno ya, tapi sampai subtitle di bioskop pun terlihat begitu klasik bahasa dan jenis tulisannya. Adegan awal film ini sepertinya hanya pemanis semata untuk membuat bulu kuduk merinding. Akan tetapi tidak ada benang merahnya terhadap film ini. Kurangnya film ini adalah efek-efek yang dihadirkan film ini begitu kasar dan agak norak. Dan juga tidak kuatnya naskah hingga akhir film juga kekurangan film ini. Seperti layaknya membalikkan telapak tangan, ending film ini pun terjadi begitu cepat dan mudah sekali rasanya.

Dibalik kekurangannya, film ini bisa dibilang cukup menakutkan dan merinding, gue saja rasanya ingin membuang popcorn caramel di genggaman tangan ke layar studio saking ngegemesinnya suara-suara aneh tersebut. Jika kalian penggemar film Horror dan belum pernah menonton film ini dari donlotan atau pun DVD, film ini bisa dijadikan pilihan yang baik untuk menonton di bioskop walaupun sudah klasik dan kuno banget. Semoga kalian setelah menonton film menjadi seperti tagline film ini yaitu Unrest In Peace. Selamat menonton. :cheers:


Sabtu, 26 Maret 2011

The Company Men (2010)

Dalam suatu kehidupan pasti seseorang ada kalanya jatuh. Namun semua itu tergantung dari orangnya apakah mau tetap jatuh atau kembali bangkit dari nol kembali. Latar belakang film The Company Men bisa dibilang seperti tersebut. Film yang sebenarnya diproduksi tahun 2010 akhir dan tayang di US akhir Jauari tahun ini, akhirnya tayang juga di bioskop Indonesia pada bulan akhir Maret ini. Dari poster dan trailernya pun bisa dilihat kalau film ini mengambil inti permasalahan cerita di bidang perkantoran. Akan tetapi jika penonton bukan seorang di bidang perkantoran apakah bisa mencerna film ini dengan baik? Mari simak curhatan josep berikut ini.

Bobby Walker adalah salah satu korban PHK di sebuah perusahaan ternama di U.S., entah apa yang menyebabkan dirinya harus dengan sangat terpaksa diPHK begitu saja. Sang istri yang mengetahui situasi suaminya begitu cukup tegar menghadapi semuanya ini. Lain halnya dengan Bobby yang tidak begitu menerima keadaan. Secara dia dulunya seorang yang memiliki jabatan cukup tinggi perusahaan ebut dengan gaji per tahun sekitar $120000, dia juga mampu membeli 1 buah mobil porche. Akan tetapi, dia mencoba melamar kembali menjadi pegawai biasa dengan gaji yang ala kadarnya. Dengan sifatnya yang gengsi dan maunya dilihat ber”kelas”, dia pun mencoba melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan dengan gaji yang tidak jauh dari pekerjaan dia sebelumnya. Permasalahan pun akhirnya muncul di tengah keluarganya, rahasia tentang PHK pun akhirnya ketahuan juga oleh orangtuanya karena “kecelakaan kecil” dari anaknya sendiri yang begitu polos. Drew, anak lelaki tertua Bobby begitu prihatin dengan di PHKnya sang ayah. Dia merasa tertekan karena ayahnya suatu saat nanti takutnya tidak dapat membiayai kehidupan dia dan adik serta ibunya lagi setelah sang ayah di PHK.

Kehidupan dia setelah di PHK, tetap seperti biasanya, salah satunya bermain golf. Namun semuanya itu tidak berlangsung lama, karena kondisi perekonomian keluarganya semakin sulit karena hanya istri yang menjadi tulang punggung keluarga. Bobby pun akhirnya sedikit demi sedikit merubah sikapnya yang egois, keras kepala, dan gengsinya tersebut. Satu per satu dia harus kehilangan barang dan kegiatan kesayangannya untuk menutupi hutang demi hutang yang terus menumpuk. Dia pun akhirnya, mencoba melamar pekerjaan di suatu perusahaan dengan gaji ala kadarnya. Di sisi lain, perusahaan yang dulu tempat dia bekerja, ternyata juga telah melakukan PHK secara missal kepada pegawai yang cukup berumur.

Kalo dilihat dari trailer, film ini menghadirkan sisi yang menarik untuk alasan kuat menonton film ini. Faktor tersebut adalah adanya 4 aktor yang telah berpengalaman mengecap nominasi dari penghargaan Academy Award, yaitu Chris Cooper, Ben Affleck, Kevin Costner, dan Tommy Lee Jones. Kemampuan akting mereka disini bisa dikatakan sesuai dengan karakternya. Akan tetapi, gue secara pribadi tidak merasakan sesuatu perbedaan dari diri Ben Affleck yang kaya raya dengan setelah dia diPHK. Sepertinya pemilihan peran yang frustasi/stress diPHK terhadap dia disini tidak cukup berhasil. Namun demikian, ekspresi dia ketika egois dank eras kepala bisa dibilang cukup baik. Begitu pula dengan ketiga aktor lainnya yang juga memiliki nasib yang sama dengan Ben Affleck disini tidak begitu berhasil ketika mereka harus menerima kondisi diPHK.

Keindahan gambar dari film ini begitu apik untuk dinikmati. Alur yang ditampilkan pun tidak begitu lambat untuk dinikmati. Konflik-konflik yang terdapat di film ini sepertinya bisa jadi pencerminan kepada penonton. Siapa tahu diantara penonton pernah merasakan hal tersebut. Pesan-pesan yang ditampilkan film ini juga cukup banyak, salah satunya kita harus tetap semangat dalam menjalani kehidupan walaupun harus dari nol lagi. Film ini tidak hanya untuk yang di bidang perkantoran saja, akan tetapi jika yang tidak di bidang perkantoran pun bisa mencerna maksud dan tujuan dari film ini.

Gue secara pribadi cuma mengkritik kepada keluarga Tom, karena menurut gue mereka tidak bisa mengatur perekonomian dengan baik. Dengan gaji Bobby yang $120000/tahun itu sebenarnya sudah bisa membeli porche dan membuat suatu investasi atau semacam asuransi kehidupan jika nantinya ada masalah. Karena film ini seperti kehabisan akal setelah Bobby diPHK harus melakukan apa. Memang dia mencari pekerjaan disana-sini tapi alangkah lebih baik dengan investasi mereka bisa membuat suatu usaha sendiri yang dari nol. Ya itu semua sih cuma pendapat gue saja sih.

Overall, film ini bisa dijadikan salah satu pilihan anda untuk menonton di bioskop kesayangan anda. Dengan adanya pesan keberanian, keyakinan dan semangat yang tinggi semua masalah pun dapat diatasi dengan baik. Apakah anda setuju dengan 3 poin tersebut? Selamat menonton. :cheers:

3,5/5


Kamis, 24 Maret 2011

Another Year (2010)

Akhirnya salah satu nominasi Oscar 2011 dari cerita terbaik pun muncul juga di bioskop tanah air kita. Walaupun agak sedikit kecewa karena cuma ditayangkan di Blitzmegaplex, dan di hanya di Grand Indonesia pula. Kalau menyinggung Oscar pasti sudah tidak diragukan lagi kualitas filmnya. Seburuk-buruknya rating yang diberikan kepada nominasi film Oscar adalah 3,5 dari 5, jadi bukan alas an lagi kalau anda tidak menyaksikan salah satu nominasi Oscar seperti Another Year. Lebih lanjut ceritanya, mari simak curhatan josep berikut setelah menyaksikan salah satu film nominasi Oscar.

Kisah bercerita dibagi menjadi 4 musim, yaitu spring, summer, autumn, dan winter. Kisah tentang keluarga yang di setiap musimnya memiliki suatu pergumulan yang harus mereka pecahkan. Kelurga tersebut beranggotakan 3 orang, yaitu Tom, Gerri, dan Joe. Di awal cerita, mereka kedatangan seseorang. Dia adalah Mary, dia adalah tante dari Joe. Mary adalah seorang janda yang pernah mengalami kepahitan dalam pengalaman cinta dan hingga sekarang tidak memutuskan untuk menikah kembali. Akan tetapi, dibalik semuanya itu dia memiliki suatu sifat “murah” kepada para lelaki hingga kepada keponakannya sendiri, Joe. Namun demikian, belum ada satu pun lelaki yang jatuh ke pelukannya. Mary dan Gerri adalah teman karib lama, jadi bisa dibilang Gerri sudah mengetahui sifat luar dalam temannya tersebut. Kalau boleh jujur, Gerri sebenarnya sudah resah dengan kehadiran Mary yang selalu hadir di setiap musimnya.

Permasalahan keluarga Tom bukan hanya di Mary saja, akan tetapi mereka juga harus siap dengan kedatangan permasalahan demi permasalahan dari teman-teman mereka di setiap musimnya. Teman mereka curhat dengan Tom dan Gerri tentang permasalahan kehidupan mereka. Hingga pada suatu musim mereka mendapatkan berita duka di Inggris bahwa kakak ipar dari Tom meninggal dunia. Mereka pun harus berangkat ke sana dan tetap kembali menghadapi permasalahan disana. Setelah pemakaman tersebut, Tom dan Gerri pun akhirnya mengajak Abangnya tanpa anak lelaki tunggalnya untuk tinggal bersamanya.

Film ini bisa dibilang seperti kehidupan nyata pada umumnya walaupun tidak ada embel-embel tulisan “based on true story” atau apapun lainnya. Mike Leigh mampu membuat naskah sekaligus sebagai director di film ini dengan baik. Naskah yang ditampilkan ke dalam suatu film sebenarnya tidak begitu istimewa akan tetapi dibalik ketidakistimewaan tersebut kita dapat seperti bercermin ke diri kita masing-masing, apakah kita juga sama dengan sifat yang diperankan para pemain-pemain tersebut? Lalu kisah mereka apakah sama dengan kisah kita masing-masing? Alangkah pantasnya jika film ini masuk dalam kategori best writing story versi Oscar dan 18 nominasi di ajang penghargaan lainnya karena faktor-faktor diatas tadi.

Bagaimana dengan lakon dari pemain-pemainnya? Film ini bisa dibilang dipenuhi pemain-pemain senior yang masih bugar dan segar dalam berakting. Jadi untuk menilai kualitas keprimaan akting mereka sepertinya agak kurang pantas. Sebut saja, Lesley Manville yang berperan sebagai Mary. Disini karakternya begitu terarah ke gangguan psikologis dan mental, entah karena dia memiliki rasa patah hati kepada mantan suaminya lalu dia seperti orang yang bingung dan dipenuhi dengan suatu misteri di kehidupannya sehingga adanya gangguan tersebut. Ruth Sheen yang berperan sebagai Gerri. Disini dia bisa dibilang mampu menjadi seorang Ibu yang bijak kepada Joe dan istri yang perhatian kepada Tom,. Selain kewajibannya di keluarga, dia juga mampu menjadi seorang psikiater untuk Mary. Mary yang memiliki gangguan dalam kehidupannya dapat ditangani oleh Gerri perlahan demi perlahan. Karena kemampuan akting mereka di film ini, mereka masing-masing mampu meraih piala British Award di kategori Best Actress dan Best Supporting Actress.

Konsep cerita ini bisa dibilang mirip dengan film Eat, Pray, Love (2010). Maksud dari konsep disini adalah penyampaian ceritanya terbagi-bagi, namun yang membedakannya kalau EPL berdasarkan Negara yang dikunjungi, sedangkan Another Year berdasarkan 4 musim yang berbeda. Yang membedakan lainnya adalah alur dan kemasan yang menarik dari Another Year tidak sebosan EPL. Pesan-pesan yang dihadirkan Another Year dapat dijadikan suatu pembelajaran kita nantinya menjalani kehidupan lagi setelah menonton film ini. Walalupun film ini tidak memiliki suatu jawaban dari permasalahn tersebut, tapi penonton akan tetap begitu menarik menyaksikannya.

Overall, film Another Year bisa dijadikan alasan anda untuk menghabiskan waktu sekitar 130 menit di blitzmegaplex Grand Indonesia. Disamping faktor para pemain yang berkualitas dan senior, cerita yang begitu seperti kehidupan nyata, dan pesan yang dapat dipetik dan sebagai bahan pembelajaran, film ini sangat layak untuk ditonton. Selamat menonton. :cheers:

4/5


Trailer: