Jumat, 11 Februari 2011

Green Hornet (2011)


Jujur dari awal mendengar film ini gue bingung dari tipe filmnya. Apakah ini film serupa tapi tak sama dengan Kick Ass atau Film Super Hero Komedi yang terkadang diluar pikiran manusia itu dapat dilakukannya. Dan kalau boleh jujur gue sebenarnya berharap mendapatkan sesuatu yang lebih dari ekspetasi gue terhadap film ini secara keseluruhan. Oke gue akan mereview singkat dan semoga saja tidak spoiler.

Film ini berkisah tentang Pengusaha Surat Kabar yang memiliki seorang anak bernama Britt yang konon dia seorang anak yang selalu menghambur-hamburkan kekayaan bapaknya dengan pesta pora, mabuk-mabukan hingga berita tentang dirinya pun diliput oleh Surat Kabar bapaknya sendiri. Detik demi detik berjalannya cerita, sang bapak pun tiba-tiba meninggal yang juga konon kabarnya gara-gara "Lebah". Sejak saat itulah Britt menjadi hak alih waris perusahaan Surat Kabar bapaknya.

Di lain cerita Britt menyukai minuman kopi yang konon sangat enak dan lezat. Akan tetapi setelah bapaknya meninggal dunia konon peracik kopi tersebut juga menghilang. Lalu dia pun mencari sosok peracik kopi tersebut hingga akhirnya diketahui namanya Kato. Kato yang konon keturunan China lambat laun cerita menjadi asisten Britt. Mereka membuat rencana gila untuk membuat sesuatu yang konon kabarnya untuk menyelamatkan orang-orang tertindas. Kato sang peracik kopi pun ternyata tidak hanya "jago" meracik kopi tapi dia juga jago meracik alat-alat yang sederhana menjadi teknologi yang super duper sangat canggih dan konvensional.

Lelucon-lelucon yang dihadirkan oleh Britt dan Kato bisa dikatakan tidak semuanya lucu, karena ada beberapa scene yang kelihatannya cukup garing. Namun demikian, chemistry antara Jay Chou dan Rogen bisa dibilang cukup baik. Peran-peran di film ini pun terbagi dengan rata, Cameron Diaz yang berperan sebagai sekretaris dari Rogen, mampu menghadirkan aura kecantikannya baik dari intelektual dan inner beautynya. Christopher Waltz disini konyolnya cuma di nama perannya yang cukup rumit untuk diucapkan, Chudonofsky (kalo tidak salah).

Secara teknis 3D, film ini cukup menarik efeknya namun hanya di "tempat-tempat"nya saja.. Alangkah baiknya menonton 2D saja itu lebih baik untuk menyisihkan uang anda. Untuk mengetahui kebanyolan yang dibuat Britt dan Kato, dan darimana asal kata "Green Hornet" tersebut serta mengetahui akhir dari cerita film ini maka alangkah baiknya anda menyaksikan di bioskop XXI, cinema 21 dan blitzmegaplex dengan format 2D & 3D (teks bahasa Indonesia) kesayangan anda pada tanggal 02 Februari 2011 mendatang

3/5

1 komentar: