Minggu, 27 Februari 2011

Rumah Tanpa Jendela (2011)


Kalau dilihat dari poster, mungkin film ini cukup menjanjikan karena bertema film anak-anak. Secara film anak-anak di Indonesia hampir 85% laku keras di pasaran. Begitu pula dengan dibalik pembuat film ini adalah Aditya Gumay dan Asma Nadia. Mungkin nama mereka tidak cukup asing lagi untuk didengar. Apakah mereka berhasil membuat Rumah Tanpa Jendela sesukses film-film mereka sebelumnya? Mari simak curhatan josep berikut ini.

Di suatu perumahan tidak berada, tinggallah seorang gadis kecil bernama Rara dengan mbok dan ayahnya. Rara memiliki suatu impian untuk mempunyai jendela di rumahnya. Dengan khayalan-khayalan di usianya, Rara sungguh berimajinasi akan hal tersebut. Sampai-sampai temannya menertawakan akan khayalannya. Suatu hari, Rara mengalami musibah dan mengakibatkan pertemuan antara dengan Aldo. Aldo adalah anak yang memiliki keterbelakangan mental di keluarga yang berada. Aldo memiliki orangtua yang lengkap, abang dan kakak serta nenek. Setelah kejadian tersebut, Aldo semakin akrab dengan Rara, dan rasa jiwa sosial Aldo pun muncul ketika dia mau menyumbangkan sedikit buku-bukunya untuk Rara dan teman-temannya. Namun dibalim itu semua, ternyata kakak Aldo dan ibunya agak malu dengan kondisi Aldo yang seperti itu. Lain halnya dengan abang Aldo yang selalu memberikan semangat kepada adik tercintanya. Lambat laun cerita, Aldo pun akhirnya minggat setelah mendengar langsung dari kakaknya bahwa dia malu mepunyai adik seperti dirinya. Di sisi lain, Rara juga mengalami berbagai macam kesulitan yang dia hadapi. Apakah Aldo dapat ditemukan? Kemanakah dia pergi? Lalu apakah kesulitan yang dihadapi Rara? Dapatkah dia tegar menghadapi semuanya?

Kalau boleh jujur, pembukaan awal cerita film ini begitu menarik karena adanya unsur musikal. Begitu pula setelah adegan awal hingga menuju pertengahan film ini. Namun demikian, saya merasa sesuatu yang dipaksakan di pertengahan film ini. Entah dari mana cerita tersebut, sehingga membuat kita harus berpikir dari mana cerita tersebut berada. Sebenarnya cerita ini begitu sederhana, karena hanya bertujuan dari Rara yang ingin memiliki sebuah Jendela. Akan tetapi, problematika di cerita film ini sangatlah begitu banyak dan mengakibatkan peran-peran yang banyak disini pun juga hanya angin lewat saja, yang tidak adanya keistimewaan dari akting mereka.

Untung saja pemilihan karakter emir di tokoh Aldo begitu tepat dan menyentuh, jadi bisa dibilang Emirlah yang menjadi “penyelamat” film ini untuk ditonton. Sikap Emir yang sebagai malaikat penghubung antar keluarganya dengan keluarga Rara adalah sebuah contoh yang sepatutnya ditiru untuk saat ini. Dan rasa bersyukur memiliki seorang adik seperti Aldo yang dilakukan Abangnya juga patut dicontoh. Disamping itu, penampilan Maudy disini juga menarik. Disamping parasnya yang cantik, akan tetapi dia disini berhasil menjadi seorang kakak yang antagonis. Penampilan Maudy dibanding film sebelumnya, boleh dibilang ada peningkatan. Bagaimana dengan perubahan gaya hidup Aty Kanser? Seperti kita ketahui selama ini, bahwa Aty Kanser selalu mendapatkan peran sebagai orang susah, namun lainnya di film ini dia berperan sebagai kaum berada. Begitu pula dengan Inggrid Widjanarko yang disini mendapatkan peran sebagai orang susah.

Dari segi musik, film ini bisa dibilang aman-aman saja, pengisi dan lagu soundtrack begitu menarik untuk didengar. Satu hal yang menarik dari film ini adalah adanya subtitle di film ini. Seperti kita ketahui, bahwa film Indonesia sedikit yang menggunakan subtitle di bioskop. Itupun kalau ada hanya di beberapa bioskop saja, dan hanya bisa dinikmati kalau di DVD atau ada acara Film Festival. Jadi, subtitle di film ini adalah poin plus yang lebih. Overall, film ini begitu menarik ditonton walaupun penyampaian di tengah-ditengah film begitu maksa banget.


Trailer Rumah Tanpa Jendela :

Sabtu, 26 Februari 2011

Baysitter Wanted (2008)

Film bertema horror-thriller hollywood di tahun 2008 sepertinya agak jarang kelihatan. Mungkin apa karena saya tidak mengikuti di tahun tersebut? Mungkin bisa jadi seperti itu. Melihat poster film ini, saya sudah berasumsi bahwa film ini sepertinya akan banyak adegan-adegan pemotongan-pemotongan tubuhnya. Dan pasti ada sesuatu dibalik kepanikan si model di poster film ini. Kalau dilihat dari jajaran nama-nama pemainnya, sepertinya tidak familiar nama mereka. oke mari simak curhatan josep tentang film ini.


Jadi begini ceritanya, Angie pindah dari rumahnya untuk menuntut ilmu ke luar kota. Ketika tiba di tempat yang baru, Angie bertemu dengan teman satu dia tinggal. Mereka cukup akrab walaupun baru pertama kali bertemu. Ketika tiba di kampus, Angie melihat adanya lowongan pekerjaan sebagai Penjaga Anak. Dia tertarik untuk mengambil pekerjaan tersebut, disamping dia sedang membutuhkan uang untuk kehidupannya. Namun demikian, di setiap langkah Angie pergi, ada seorang pria tak dikenal membuntuti dia. Angie merasakan sesuatu yang aneh. Ketika tiba di tempat dia bekerja, dia semakin resah karena ada seseorang yang membuntuti dia. Ditambah lagi ada sesuatu yang aneh pula dengan tingkah laku anak yang dia asuh. Angie juga semakin kaget ketika Ayah anak tersebut melakukan keanehan. Siapakah sebenarnya keluarga yang di tempat Angie bekerja? Lalu siapakah pria yang membuntuti Angie selama ini? Apakah Angie bisa selamat dari peristiwa aneh yang dialaminya?

Dari awal cerita, film ini sudah memberikan rasa thriller, dimana ada adegan pembunuhan secara sadis terhadap seorang wanita. Namun demikian, saya merasa cerita yang diberikan film ini begitu terlalu cepat dan tidak menjelaskan apa-apa maksud dari cerita film ini. Keanehan yang dimiliki anak kecil tersebut, sama sekali tidak diceritakan di film ini. Namun demikian, semua itu terbayar dengan adanya musik yang cukup menegangkan serta ekspresi misterius anak kecil tersebut yang mengingatkan kita terhadap film The Omen. Overtall, film ini biasa saja untuk ditonton karena tidak membuahkan hasil apa-apa.

2/5



Trailer :

The Little Comedian (2010)



Film Asia tipe komedi sudah sering kita dengar dan percaya bahwa bagus kualitasnya. Banyak aktor Asia yang kita ketahui yang handal dalam memerankan peran komedi, sebut saja Jackie Chan. Lain halnya dengan saya pribadi, yang kalau boleh jujur baru pertama kali menonton film Thailand yang full komedi, sebelumnya Crazy Little Things Called Love tapi romantic comedy (tidak full comedy). Dari judul film, sudah terlihat ini film komedi. Begitu pula dari posternya, yang dimana ada kumpulan keluarga dengan berbagai macam ekspresi lucu dan adanya kehadiran bebek di tengah-tengah mereka (poster film lainnya). Kalau melihat film Thailand sebelumnya yang saya tonton, saya berharap film ini minimal sebagus dengan film tersebut. Oke deh daripada kelamaan, langsung simak aja yuk curhatan josep berikut tentang film ini.

Jadi begini ceritanya, tinggalah seorang anak lelaki yang bernama Tok, dia hidup dan besar di tempat keluarga komedian. Namun lain halnya dengan Tok, yang tidak dianggap sebagai penerus komedian oleh ayahnya sendiri. Adik perempuannya pun lebih dipilih dibandingkan dirinya oleh sang ayah. Tok pun langsung merasa ter “asing”kan di keluarganya. Setelah itu, dia lebih senang bermain bersama 2 temannya di luar rumah daripada di rumah sendiri. Suatu hari, Tok menemani temannya ke dokter kulit. Disana, dia bertemu dengan dokter kulit yang sangat cantik dan menawan. Entah ada angin apa, tiba-tiba dia jatuh cinta kepada dokter itu. Dengan ide-ide konyol untuk menumbuhkan jerawat pun dia lakukan demi intesitas bertemu dengan si dokter semakin sering. Ditambah lagi, dorongan dari temannya untuk lebih dekat dengan si dokter tersebut. Benar-benar persahabatan yang solid *big applause*

Lambat laun cerita, tiba-tiba sang dokter pun hamil. Entah ada angin apa juga, tiba-tiba si Tok jadi begitu perhatian dengan si dokter. Pengorbanan yang tidak masuk akal di usianya yang masih cukup belia pun dia lakukan. Hingga pada akhirnya, ayah Tok pun resah dan kesal dengan anaknya karena kelakuannya sudah kelewat batas. Akan tetapi, itu semua dilakukan karena dia begitu menyayangi Tok. Terbukti ketika kelulusan Tok dari Taman Bermainnya, yang mengambil rapornya adalah sang ayah, karena ketika hari itu juga adik Tok melahirkan, jadi sang ibu tidak bisa mengambil rapornya. Dengan dandanan ala wanita, sang ayah pun dating ke sekolahnya. Akhir cerita, dokter pun menyerahkan identitas ayah baptis kepada Tok karena dia merasa Tok dapat menyayangi anaknya seperti dia menyayangi dirinya selama ini.

Dilihat dari awal cerita, cerita ini terlihat begitu konyol, karena ketika proses kelahiran Tok, sang ayah menggunakan toak agar Tok bisa keluar dari rahim istrinya. Menurut kalian saja apakah itu konyol? Menurut saya sangat konyol dan menggelikan sekali idenya. Hingga pertengahan bumbu-bumbu komedia yang dihadirkan film ini begitu terasa kental. Saya pun ketika menonton film ini (satu studio sendirian, seriusan) pun begitu menggelitik mendengar dialog satu sama lain tokoh. Namun demikian, mulai pertengahan, film ini tidak begitu terasa lucu lagi. Entah mengapa saya merasa film ini garing. Tapi, ketika sudah adanya konflik percintaan, pengorbanan dan persahabatan yang terjadi di film ini, baru terasa gregetnya walaupun bukan komedi. Mungkin ketika melihat cerita film ini ditengah-tengah, anda akan mulai merasa adanya kesamaan dengan film-film drama atau pun drama komedi lainnya saat ini. Hubungan antar ayah dan anak di film ini begitu terasa dan menyentuh sekali. Saya pun begitu meresapi setiap adegan serta dialog yang dilakukan ayah dan anak tersebut. Ikatan yang kuat sekali.

Dari sisi pengambilan gambar, mungkin tidak ada bedanya dengan film Thailand sebelum ini yang baru-baru tayang. Yang menarik lainnya dari film ini adalah soundtrack dari film ini. Entah mengapa saya begitu suka dengan soundtracknya tapi belum download-download juga sampai review ini dipublish). Selain perwatakan yang lugu dan sok dewasa yang dimiliki Tok menurut saya begitu tepat. Begitu pula dengan dokter cantik yang diperankan oleh Paula Taylor, dokternya begitu menawan sekali walaupun hanya memakai pakaian dokter. Tokoh-tokoh tambahan lainnya disini juga begitu konyol dan lucu di tempatnya masing-masing. Ada satu tokoh yang begitu mirip dengan tokoh komedi Indonesia (saya lupa namanya tapi mirip si ucok yang kecil itu). Adik Tok disini pun begitu menggemaskan dan lucu. Secara keseluruhan pemilihan peran di tokoh ini sudah begitu pas.

Overall, film Little Comedian begitu menarik kemasannya karena tidak hanya tentang komedi tapi disana juga diceritakan hubungan erat antar ayah dan anak yang berada di keluarga berprofesi sebagai komedian dengan cerita yang sebenarnya tidak masuk akal di usia belianya Tok. Film ini sangat rekomedasi sekali di saat adanya isu gonjang-ganjing film Hollywood di Indonesia. Nonton film Asia? Kenapa tidak! Kalau kemasan yang dibawakannya hamper melebihi Hollywood. Selamat menonton dan merasakan komedi-komedi di film ini. :cheers:

3,5/5


Trailer

Jumat, 25 Februari 2011

The Eagle (2011)


Melihat poster film ini pasti terlihat cukup membosankan, karena sudah sering kita temukan kemiripan poster ini. Namun demikian, jika melihat para pemain mungkin sedikit agak tergerak hati kita untuk menonton aksi dari Channing Tatum, yang kita kenal kalo dia bermain film biasanya cukup mengesankan. Begitu pula dengan adanya label “Blitz Exclusive” mungkin menjadi daya tarik kita selanjutnya. Tapi apakah hanya karna pemain dan “Blitz Exclusive” semua itu bisa terbayar dengan cukup memuaskan? Untuk lebih jelas, mari simak curhatan josep berikut ini.

Jadi begini ceritanya, sekitar tahun 120 Masehi, 5000 legiun Roma yang perkasa, di bawah pimpinan Flavius Aquila, bergerak menuju utara dengan membawa lambing berharga mereka, Elang Emas. Tapi mereka tidak pernah kembali. 20 tahun kemudian, setelah mendengar desas-desus bahwa Elang telah terlihat di sebuah kuil di utara, putra Flavius yang bernama Marcus bertekada untuk mengembalikan reputasi ayahnya. Ditemani oleh seorang budak Esca, Marcus kemudian menuju ke dataran tinggi Skotlandia yang berbahaya untuk menghadapi suku liar tersebut, berdamai dengan kenangan akan ayahnya, dan kembali merebut Elang suci. Sepanjang jalan, Marcus kemudian menyadari bahwa misteri kehilangan ayahnya mungkin berhubungan dengan identitas budaknya sendiri yang ternyata merupakan suku dimana tempat ayahnya menghilang ketika berperang pada saat itu. Sebuah rahasia yang semakin memuncak ketika keduanya bertatap muka dengan para Prajurit Pangeran Seal yang menakutkan.

Kalau dilihat dari sinopsis di atas, film ini memiliki cerita yang biasa dan standart saja karena sudah banyak film yang setipe dengan cerita seperti itu. Apalagi setelah menonton film ini, saya merasa tidak banyak hal yang istimewa dalam film ini. Walaupun perjuangan untuk mendapatkan Elang Emas tersebut harus hingga 5 hari dengan menunggangi seekor kuda patut dihargai. Tapi setelah itu ketika Marcus mengambil Elang Emas tersebut terasa begitu mudah dan cepat sekali. Ditambah lagi ketika Esca yang hendak meminta bantuan kepada tempat mereka berasal itu begitu klise. Tidak sampai 1 hari Esca kembali membawa pasukan untuk melindungi Marcus dan Elang Emas dari pasukan liar tersebut, padahal dalam dialog mereka dibilang perjalanan untuk kembali sekitar 5 hari. Kejanggalan berikutnya adalah ketika setelah selesai bertarung untuk melindungi Elang Emas, jumlah pasukan yang dibawa Esca tiba-tiba kog jadi banyak ya yang harus meninggal? Padahal kalau saya tidak salah hitung, itu awalnya hanya 12 orang, tapi setelah pertarungan selesai begitu banyak pasukannya. Itu dari mana sisanya? Kalau dari sisi sinematografi ada beberapa yang baik, sisi kelam dan gelap serta indahnya situasi salju dan teriknya matahari begitu apik dibuatnya. Akan tetapi ada beberapa scene, yang pengambilan gambarnya terlalu gelap padahal situasi bukan di malam hari dan ada juga ketidakstabilan pengambilan gambar ketika menunggangi kuda.

Kalau dilihat dari cerita, film ini seperti penggabungan gambar di film Apocylapse, 300 (versi mininya) The Way Back. Sisi dari pasukan liar menunjukkan sisi film Apocylapse, sedangkan perjalanan Marcus dan Esca seperti film The Way Back. Tapi kalau boleh jujur, saya lebih suka di film The Way Back. Namun demikian, saya menghargai penderitaan yang dialami oleh Marcus yang harus tergopoh-gopoh, dirajam, dijambak serta yang paling menjijikan adalah makan tikus mentah yang tanpa proses pembakaran atau perebusan sekalipun. Sisi lain dari film ini, adanya ikatan persahabatan dan rasa saling percaya satu sama lain tanpa adanya pengkhianatan sekalipun, walaupun dulunya ada rasa dendam untuk membalaskan dendam tersebut. Jika anda ingin melihat aksi Channing Tatum ya alangkah baiknya silahkan ditonton karena peran dia disini cukup menantang. Selamat menonton di Blitzmegaplex kesayangan anda.

2,5/5



Trailer

Kamis, 24 Februari 2011

Black Swan (2010)



http://www.youtube.com/watch?v=5jaI1XOB-bs



Pasti pecinta film sudah tidak asing lagi dengan film berjudul Black Swan. Film ini sudah terdengar sejak akhir tahun 2010 silam, dan semakin eksis terdengar ketika film ini masuk berbagai macam nominasi di ajang Golden Globes dan Oscar. Jika anda menyaksikan trailer film ini pasti memberikan ekspetasi yang lebih terhadap film ini, karena dari trailer pun bisa terlihat bahwa film ini memiliki “sesuatu”. Dari Poster film, terlihat muka seorang wanita yang berkostum seperti angsa dari belakangnya, dan adanya retakan di pipinya sebelah kanan. Apa sih sebenarnya di balik poster yang begitu ciamik tersebut?? *lebai*. Untuk lebih jelasnya, dengarkan curhatan josep berikut ini.

Jadi begini ceritanya, di suatu kota ada perkumpulan ballerina, yang dimana ballerina tersebut bakal membuat suatu pertunjukan yang besar, Swan Lake. Disana terdapat balerina-balerina yang cantik dan handal dalam lekukan tariannya. Para balerina-balerina tersebut pun akhirnya berusaha dan berjuang untuk bermain di pertunjukan tersebut. Dalam pertunjukkan tersebut, ada peran yang dimana paling diincar-incar semua balerina, yaitu Queen Swan. Dimana peran tersebut dapat memerankan peran sebagai Black Swan dan White Swan dalam satu pertunjukan sekaligus. Di tempat tersebut, ada seorang cewek yang bernama Nina. Nina sangat berambisi untuk mendapatkan peran besar tersebut. Namun saingan Nina tidak sedikit karena banyak yang menginginkan peran tersebut, termasuk diantaranya Lily. Pada akhirnya, diumumkan yang lolos seleksi pertama, yaitu Nina, Lily dan teman-teman lainnya. Sebelum diadakannya seleksi ini, sebenarnya Thomas, sang pelopor pertunjukkan ini sudah memiliki pemain yang sering terlibat bersamanya, yaitu Beth. Namun karena beberapa faktor, Beth pun terpaksa digantikan perannya. Sebelum pengumuman, Thomas menguji satu persatu para ballerina yang lolos seleksi pertama. Saingan ballerina pun bertambah satu, yaitu Veronica, wanita plihan Thomas yang jauh-jauh datang dari Negara lain. Sebenarnya, Thomas sudah melirik Nina dari awal untuk menjadi seorang White Swan saja, karena perwatakkan Nina sama dengan apa yang Thom mau. Untuk peran Black Swan sendiri pun, Thomas belum mendapatkannya. Nina pun tekun latihan untuk mendapatkan peran Black Swan tersebut, walaupun ekspresi yang dihasilkannya tidak sesuai dengan dirinya. Suatu hari, Nina memergoki Veronica sedang berduaan dengan Thomas. Vero pun melihat Nina yang memergoki mereka. Setelah melihat itu, Nina besoknya pun melakukan aksi untuk meraih perhatian Thomas. Selain Veronica, saingan berat Nina adalah Lily. Lalu apakah Nina bisa mendapatkan peran Queen Swan tersebut? Bagaimanakah nasib Veronica, Lily, dan Beth selanjutnya? Siapakah yang akan dipilih Thomas diantara mereka bertiga? Nina / Lily / Veronica yang akan menjadi Queen Swan di Swan Lake?

Dari segi cerita, film ini begitu menarik untuk ditonton karena kita bisa melihat bagaimana “sesuatu” yang lain dari seorang Natalie Portman ketika bermain di film ini. Begitu pula dengan Mila Kunis, yang disini juga berperan sebagai antagonis. Konflik yang diangkat cerita ini sebenarnya tidak sulit karena hanya sebuah proses untuk menjadi seorang bintang di suatu pertunjukkan. Namun demikian, ada “sesuatu” yang lain yang diangkat cerita ini selain bagaimana proses Nina, Lily, dan Veronica berusaha mendapatkan peran besar tersebut. Emosi yang ditampilkan oleh para pemain juga begitu apik karena bisa dirasakan oleh penonton ketika saya menonton film ini bersama-sama penonton lainnya di bioskop. Kalau boleh jujur, saya benar-benar terpukau dengan akting yang dimainkan Natalie Portman di film ini. Dia begitu berani, dan mengeluarkan seluruh kemampuan aktingnya. Walaupun semua itu ada “sesuatu” yang sebenarnya belum terjawab hingga akhir film ini.

Kalau dilihat dari berbagai macam penghargaan yang diraih dan antusiasme para pecinta film di Indonesia terhadap film ini, alangkah wajarnya semua itu, karena setelah menonton film ini mereka pasti akan terobati rasa penasaran mereka selama ini terhadap film ini. Kalau dari pesan sendiri, film ini membawa beberapa pesan, diantaranya; jika ingin meraih sesuatu haruslah dengan ketekunan dan kerja keras yang positif; berpikirlah positif agar tidak adanya gangguan yang dapat merugikan kita sendiri; belajarlah menghargai setiap hasil yang ada; bersainglah secara sportif untuk meraih sesuatu. Jika anda penasaran dengan “sesuatu” di film ini, alangkah baiknya anda bersabar dan berdoa agar film ini tayang secara regular di Indonesia. :cheers:



4/5

trailer



Rabu, 23 Februari 2011

Black Death (2010)




trailer http://www.youtube.com/watch?v=iEualA0ujdo

Setelah sempat tayang di ajang INAFFF 10 tahun lalu, film ini akhirnya main secara regular juga di Blitzmegaplex. Kalau dari ajang yang mempopulerkan namanya, film ini tampaknya berbau suspense/thriller/horror. Kalau dilihat dari poster sendiri, film ini seperti menceritakan suatu kerajaan romawi dahulu. Terus, sebenarnya film ini tentang apa? Suspense/thriller/horror yang dikemas ketika jaman romawi atau apa? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak curhatan josep berikut ini.


Jadi begini ceritanya, pada abad pertengahan di suatu kerajaan ada sebuah wabah yang sangat mematikan sehingga penduduk di kerajaan tersebut banyak mati. Disana terdapat laki-laki beriman, Osmund, yang siap sedia menolong Ulrich untuk menyelamatkan suatu desa yang konon kabarnya belum tersentuh wabah penyakit ini. Di desa tersebut ternyata tinggalah seorang wanita yang dapat menghidupkan orang mati. Namun demikian, semua itu berbalik menjadi suram, kelam dan menakutkan ketika ada sesuatu dibalik kebaikan wanita tersebut. Beberapa pasukan diantara mereka, ada yang mati di tangan bandit-bandit wanita tersebut. Penderitaan, penyangkalan, pengorbanan dan pengkhiantan antar satu sama lain pun terjadi film ini. Sesuai dengan judulnya “Black Death”, kita dapat menemukan apa yang dimaksud judul film ini. Lalu apakah beberapa pasukan yang selamat dapat berjuang selamat dari penderitaan wanita tersebut? Siapakah pahlawan yang akhirnya menjadi penolong mereka?


Dari segi cerita, film ini alangkah baiknya ditonton bagi yang kuat imannya. Memang sih ini Cuma film, tapi terkadang ada yang menganggap suatu yang lebih ketika setelah menonton film ini. Mungkin ada yang beranggapan film ini kafir berbau horror atau tidak mendidik. Balik lagi saja ke tujuan awal anda menonton, yaitu untuk mendapatkan hiburan. Ingat ini cuma akting dan hanya sebuah cerita fiktif belaka. Kalau boleh jujur, film ini membawa ajaran-ajaran yang sesat terhadap suatu agama, dan bagaimana iman kita bakal diuji disini, apakah dapat terpengaruh atau tidak sama sekali. Setelah itu, dari segi genrenya, film ini mampu membuat penonton meringis ketika melihat adegan demi adegan yang begitu sadis dan kejam. Tangan dipaku, perut dibelek, tangan copot, wabah penyakit yang tergambarkan begitu jijik, dan sebagainya.


Dari sisi pengambilan gambarnya, film ini juga lumayan bagus gambarnya karena dengan gambar yang kelam dan gelap jadi suasana horrornya pun begitu terasa. Musik yang dihadirkan pun begitu menegangkan, sehingga film ini bisa dibilang layak untuk masuk kategori INAFFF tahun lalu. Kemampuan akting dari pemain utama disini pun bisa dibilang sudah cukup berpengalaman di tipe film perang seperti ini, karena Sean Bean sudah berpengalaman di Film The Lord Of The Rings. Untuk pemain lainnya pun tidak terlalu buruk dan tidak istimewa juga. Jika anda kangen dengan suasana film seperti ini, film ini cocok untuk menjadi pilihan anda. Tunggu apalagi untuk segera menonton di Blitzmegaplex kesayangan anda.


3/5

Senin, 21 Februari 2011

Pocong Ngesot (2011)


link trailer film Pocong Ngesot http://www.youtube.com/watch?v=ftZjXN8yN8s

Pocong Ngesot?? Mungkin pertanyaan anda ketika mendengar atau melihat poster film ini. Saya pun demikian begitu. Apalagi, ditambah dengan taglinenya "Ketika Pocong Tak Lagi Loncat", yang semakin membuat terbengong sejenak kalau ini sebuah film bioskop. Saya sih cuma berharap ketika menonton film ini tidak ilfil dengan gaya ngesotnya si pocong, atau saya jadi parno ketika ketemu pocong ngesot nanti. Oke deh, daripada kelamaan curhat mendingan langsung aja yuk meluangkan isi curahan hati gue terhadap film ini
Kubil, Bonar, Wanda, Devina dan Pretty adalah 5 orang mahasiswa yang selalu bersama-sama. Suatu hari, mereka kedatangan tamu baru. Dia bernama Asep, seorang perantau yang dari kampung Cikedot. Asep pun akhirnya mengkontrak tempat tinggal bersama dengan Kubil, Bonar dan Wanda. Setelah beberap hari di Jakarta, Asep mendapat kabar dari kampung bahwa Lilis, sang kekasih bakal dijodohkan dengan pengusaha batagor di kampungnya. Dengan ide dari Kubil dan Bonarlah, akhirnya bersama Asep mereka bertiga pergi ke dukun agar si Lilis tetap aman sentosa dan cintanya tetap untuk si Asep. Akan tetapi, setelah mereka dari dukun tersebut banyak kejadian-kejadian aneh yang menimpa mereka. Mereka digetayangin oleh pocong ngesot dan 2 tuyul. Lalu, apakah mereka bisa mengatasi keberadan makhluk-makhluk halus itu? Dan siapakah sebenarnya Pocong ngesot itu? Mengapa sampai ada Pocong ngesot?
Kalau dilihat dari karya Nayato sebelumnya, Kalung Jailangkung yang hadir awal bulan ini, saya secara pribadi berharap film Pocong Ngesot se "rapi" dan sekonyol film tersebut. Namun, semua itu hanya sia-sia saja. Banyak banget adegan-adegan yang sama sekali seperti lewat saja tanpa memberikan makna apapun dari film ini. Kekonyolan yang ditampilkan di film ini pun jauh lebih sedikit dibandingkan filmnya terdahulu, terbukti dari dialog-dialognya yang terlihat garing dan datar. Memang sih ada beberapa adegan yang bisa membuat saya tertawa lepas, tapi itu cuma sedikit.
Awal adegan film ini tidak mengandung apa-apa. Saya lebih suka adegan makan cabai yang dilakukan oleh Nirina di filmnya Mirror. Itu lebih dihayati. Terus, adegan-adegan lain yang bisa dibilang sungguh mengganggu adalah ketika si pocong begitu narsis di film ini bahkan hingga masuk kamar mandi wanita. Walaupun si pocong narsis, akan tetapi kalau boleh jujur saya cukup prihatin dengan si pemeran Pocong di film ini. Pocongnya sungguh menderita, bagaimana tidak selain pocongnya ngesot kalian bakal lihat pocong disini di kentuti, digeplak, nungging bahkan hingga striptis sekalipun. Aduh kasian banget pokoknya si pocong.
Dari deretan pemain, mungkin tidak ada yang istimewa selain Azzis Gagap karena hampir 95% pemain, tempat lokasi, dan rumah pun sama dengan film-film Nayato sebelumnya. Pemeran-pemeran pendukung yang menjadi bayangan si Pocong hanya mengumbar kesensualan tubuh semata. Bahkan dukun di film ini pun tidak begitu seram. Jadi bisa dibilang ini tidak ada horornya sekalipun. Hanya tempelan nama Pocong saja di judulnya. Bahkan isi cerita dan maksud dari judulnya pun bisa diketahui 5 menit terakhir film ini. Jadi, siap-siap saja 75 menit sebelum film ini selesai, ana bakal melihat adegan-adegan yang membuat anda bingung.
Entah kenapa maksud Nayato membuat film ini tidak begitu lucu. Walaupun saya tahu pemeran utama di film ini memiliki poin plus yang bisa dibilang salah satu komedian Indonesia. Tapi sayang banget, semua garing. Kembalinya Nayato pun semakin jelas di film ini, adegan-adegan yang menjadi langganan beliau pun muncul kembali disini. Aduh padahal saya berharap tidak ada lagi adegan-adegan tersebut. So far, I'm sorry to say to Mr. Nayato. Hasil karya anda kali ini turun tingkat Paman! (sok akrab). Jika di film terdahulunya saya kalah terhadapa beliau karena filmnya begitu menghibur, namun di film terbarunya ini saya menang dengan Nayato karena saya telah dikecewakan beliau. Skor kita 1-1 ya paman! Ditunggu aksi anda selanjutnya,,, *loh?

1/5
http://www.21cineplex.com/pocong-ngesot-poco,movie,2484.htm
- Premiere di FX 21 Februari 2011